Selasa, 14 Mei 2013

(berdiri belakang: para pasukan Teuku Umar ; duduk didepan: tepat posisi duduk di tengah-tengah adalah Teuku Umar)

Perjuangan Teuku Umar Djohan Pahlawan


Penampilan Teuku Umar di Aceh Besar

Semenjak peristiwa "Hok Canton" gengsi Umar semakin naik. Umar ditakuti oleh Belanda, lebih-lebih sesudah terdengar Umar sudah berada di Aceh Besar.
Mungkin saja karena fakta-fakta yang sudah terbukti itu, pihak Belanda sendiripun turut mengakui kesatriaan Umar. Seorang mayor Belanda, L.W.A. Kessier, tanpa ragu-ragu pernah menilai Umar dengan menyatakan: bahwa ia seorang "intellegente en zeer beschaafde Atjeher" ("Orang Aceh yang paling terpelajar dan paling sopan").
Selama tahun-tahun heboh peristiwa "Hok Canton", Belanda mencari jalan lain untuk mengatasi kelemahannya menghadapi perlawanan Aceh di seluruh wilayah. Belanda mengadakan aturan pembatasan pelayaran dengan apa yang dikenal "Scheepvaartregeling". Menurut ketentuan itu semua pantai ditutup, dan segala kapal "yang masuk dan pergi dari pantai Aceh harus singgah di Uleulhue, Idi, Lho' Seumawe, pulau Weh dan Pulau Raya. Peraturan ini benar-benar memukul perdagangan ekspor Aceh ke Penang, sebab kapal perang Belanda cukup aktif mengepung semua kapal-kapal dan tongkang-tongkang yang berlayar diperairan tersebut sehingga tidak ada yang lolos. Aceh Besar menjadi terasing, dan Umar sendiri merasakan pukulan sejak "Scheepvaatregeling" ini dilancarkan di awal tahun 1893. Biaya perang Umar yang sumber utamanya dari perdagangan produksi ekspor ke Penang menjadi bertambah sulit, dan kemampuan berjuang akan lumpuh kalau tidak dicari sesuatu jalan ke luar. Latar belakang kenapa Teuku Umar mendekati Belanda dalam suasana sebagai itu dapat diteliti dari problema tersebut. Menjelang bulan Agustus 1893 Teuku Umar telah menghubungi pembesar Belanda, untuk menyatakan bahwa ia hendak kerja sama atau hendak menyerah atau apapun istilahnya yang serupa dengan itu.
Apakah ini satu jalan? Seorang yang bertekad bulat dan yakin bahwa musuh adalah musuh, tentu akan menentang dan mengatakan tidak. Tapi seorang yang hendak mencari kemenangan dan melihat fakta-fakta sebagai digambarkan selintas tadi dia akan faham jalan mencari kemenangan adalah berbagai-bagai. "Tidak satu jalan ke Roma", kata pepatah barat. Perwira Belanda yang disebut di atas tadi, ketika mengupas buruk baik tokoh Umar telah menulis, bahwa Umar yang sudah memahami benar bahwa kemerdekaan Aceh sudah tenggelam untuk selamanya, mempertimbangkan suatu jurusan lain dalam menyelamatkan kepentingan tanah airnya. Atas pertimbangan itu Umar memilih lebih baik mendekati pemerintah Belanda dan "berjasa" kepada Belanda, mungkin dengan itu dapat dicapai hasil yang setinggi-tingginya dalam menghadalpi kehilangan kemerdekaan itu, yakni hasil kembalinya kesultanan Aceh dan pengakuan Belanda atas diri Sultan Muhammad Daud sebagai yang memerintah seluruh Aceh di bawah souvereiniteit Belanda. Lepas dari tidak benarnya pandangan Kessier tentang apa sebabnya Umar suatu ketika mendekati Belanda, dari situ dapatlah pula diperoleh kesan bahwa istilah "schurk" ("penjahat") yang acap dipakai Belanda terhadap Umar karena Belanda mengukur pakaian orang lain dengan pakaiannya sendiri, telah.dicuci oleh kalangan Belanda sendiri, tanpa Umar merasa perlu meladeninya.
Ketika tumbuh maksud Umar untuk mendekati Belanda, yang menjadi gubernur militer dan panglima perang Belanda di Aceh ialah Jenderal C. Deijkerhoff. Dia menggantikan jenderal Pompe van Meerdervoort yang cuma bertugas di Aceh antara bulan Mei 1891 sampai Januari 1892. van Meerdevoort karena berselisih faham dengan atasannya gubernur jenderal Pijnacker Hordijk dalam masalah mengatasi kegagalan Belanda di Aceh telah minta berhenti.
Berbeda dengan van Meerdevoort, Deijkerhoff adalah seorang kepercayaan Hordijk, terutama karena Deijkerhoff sudah berhasil membuktikan suksesnya di Kalimantan Barat. Dengan bulan Januari 1893, Deijkerhoff mengajukan gagasan menurut cara yang jauh berlainan dari Usul Dr.Snouck Hourgronje yang menganjurkan supaya diperbanyak kekuatan militer ke Aceh diselesaikan dengan penyerangan habis-habisan. Deijkerhoff menganjurkan "penaklukkan Aceh dilakukan oleh orang Aceh sendiri," sebagaimana halnya telah dipraktekkan oleh Inggeris di India dengan sukses. Pembicaraan yang dilangsungkan berikutnya antara Hordijk dan Deijkerhoff berkesimpulan untuk menjalankan gagasan Deijkerhoff sesuai dengan petunjuk Hordijk.

Umar Mendekati Belanda: Suatu Tipuan

Secara kebetulan Umar mengajukan penyerahan diri. Dia menyatakan sedia membantu Belanda mengamankan Aceh Besar menurut kebijaksanaannya. Beberapa waktu, Deijkerhoff masih meneliti kesungguhan Umar. Dalam bulan Agustus 1893 Teuku Umar menggunakan kebijaksanaan dapat mengamankan Mukim XXV serta menyerahkan kepada Belanda untuk memiliki atau menduduki kampung yang diperlukannya dengan jaminan Umar Terhadap bukti ini Deijkerhoff merasa puas, lalu menyatakan kesediaan untuk menerima penyerahan Umar. Demikianlah pada tanggal 30 September 1893 Teukur Umar bersama 15 orang panglimanya dalam satu upacara telah bersumpah setia di hadapan Deijkerhoff. Tatkala itulah Belanda memberinya gelar Teuku Umar Djohan Pahlawan Panglima Besar Hindia Nedherland. Umar diberi tugas bertindak menurut kebijaksanaannya sendiri untuk menguasai keamanan Aceh Besar, pada langkah pertama di Mukim XXV. Bagi keperluan ini Umar diberi izin membentuk suatu legiun sekuat 250 prajurit lengkap bersenjata, setiap regu dalam pimpinan seorang panglima, yang kesemuanya berjumlah 40 orang, di atas mereka 3 orang panglima kepala, yang berada di bawah pimpinan tertingginya sendiri. Semuanya dibiayai oleh Belanda, mereka diberi gaji tetap.
Ketika itu gubernur Jendral Pijnacker Hordijk sudah 5 tahun bertugas di Indonesia, Pemerintah Pusat Belanda di Nederland mengalami kegoncangan akibat kepercayaan yang diberikan Deijkerhoff kepada Umar. Mungkinkah sebab itu pula masa bertugas 5 tahun tidak diperpanjang lagi oleh Mr. W.K. van Dedem, yang
ketika itu menjadi Menteri Jajahan. Dalam bulan Oktober gubernur jenderal Hordijk yang mempercayai Deijkerhoff diganti oleh Mr. C.H.A. van Der Wijck seorang gubernur jenderal yang lebih meyakini pikiran Snouck Hurgronje.
Dalam usaha melanjutkan "pengamanan" yang ditawarkan oleh Teuku Umar, GG van der Wijck berusaha menghindari pengaruh Umar yang mungkin akan lebih besar jika ia diperkenankan pula mengamankan XXVI Mukim. Atas instruksi van der Wijck, Deijkerhoff mencoba mempercayakan kepada tokoh-tokohnya sendiri untuk berbuat seperti Umar. Mereka itu ialah Teuku Ne' Meura'sa, Teuku Nya' Banta panglima segi XXVI (yang diangkat Belanda) sendiri dan Teuku Tjut Tungkob. Segera juga ternyata gagalnya ketika tokoh-tokoh kepercayaan Belanda itu, Lanjutannya Teuku Umar jugalah yang diserahi untuk mengamankan wilayah XXVI Mukim. Terhadap keputusan ini dengan sendirinya tokoh-tokoh yang tiga tidak merasa senang. Bahkan bukan mereka saja, segala tokoh-tokoh yang sudah menyeberang merasa terancam jadinya dengan kemampuan yang diberikan kepada kaum pejuang. Karena segala prajurit Teuku Umar adalah berdisiplin, maka tidaklah terjadi insiden walau pun insiden ini dipancing-pancing oleh agen propokasi. Kenyataan tersebut menghasilkan bertambahnya keyakinan Deijkerhoff kepada Teuku Umar.
Tetapi gubernur jenderal van der Wijck yang sungguh-sungguh kuatir terhadap Umar, telah menginstruksikan supaya militer Belanda menduduki pos-pos strategis dan penting yang telah dikuasai melalui Umar. Deijkerhoff setuju sekali dengan rencana itu, sebab maksud Deijkerhoff sendiri pun hendak menjadikan Teuku Umar sebagai teman itu hanya sekedar dijadikan tebu, habis manis akan menjadi sepah terbuang.
Umar rupanya terjebak juga dengan tuntutan Belanda itu, yang sebetulnya tetap curiga pada Umar. Propokasi terhadap kerja sama Umar dan Deijkerhoff sedemikian hebatnya, golongan militer Belanda yang cemburu menuduh bahwa Umar hanya berhasil menyapu bersih daerah-daerah yang dikuasai pihak Aceh melulu karena mereka "dibeli" oleh Teuku Umar dengan uang. Mereka meniupkan propokasi bahwa panglima pejuang yang termakan budi Umar telah mengadakan persetujuan rahasia, di antaranya bahwa panglima-panglima itu mundur ke medan perang lain sementara anak buah mereka ditampung Umar. Sesuai dengan rencana tertentu Deijkerhoff dan untuk menghilangkan was-was itulah Belanda menuntut supaya Umar mengoperkan benteng-benteng dan pos-pos yang strategis kepada Belanda, sementara yang tidak berarti boleh diselenggarakan oleh "legiun" Umar.
Akibat pengoperan itu timbul kegelisahan di kalangan masyarakat Aceh sendiri sebab sesudah pos-pos di tangan militer Belanda terjadilah permusuhan. Orang-orang Aceh yang tidak terima bumi kampungnya dipijak oleh tumit serdadu Belanda tidak dapat menahan sabarnya melalui kesombongan serdadu-serdadu itu. Kebanyakan pula di antara mereka menangkap rakyat tidak bersalah, memukul atau menganiaya mereka.
Sebaliknya pejuang-pejuang Aceh yang berada di tempat yang dikuasai Umar tidak dapat menenteramkan diri untuk tidak membalas dendam kepada orang-orang yang pernah berkhianat. Akibatnya semasa Umar bekerja sama dengan Belanda, mereka yang sudah berkhianat menjadi gelisah. Teuku Ne' Hamzah Meura'sa buru-buru meminta kepada Belanda untuk mendapat cuti ke Penang dan tinggal di sana berbulan-bulan. .
Perkembangan selanjutnya masih saja tidak memuaskan Belanda. Dia menghendaki untuk menduduki Aneuk Galong. Tempat ini amat strategis bagi pihak Aceh, tapi untuk mendekati keinginan Belanda, Umar telah berusaha mendapatkan benteng itu. Perasaan tidak puas menjadi lebih besar, tapi rupanya Umar masih mendapat dukungan. Seperti biasa, masyarakat Aceh memutuskan sesuatu atas dasar musyawarah sesuai dengan ketentuan hukum Islam. Salah seorang ulama utama di kalangan Aceh ketika itu adalah ulama Teungku Chiek Kuta Kareung. Menurut pendapat ulama ini apabila pejuang Aceh bertempur menghadapi Umar dan lasykarnya jika mereka pejuang tewas belum tentu tempatnya akan tersedia dalam syurga jannatu'n-na'im. Pada masa itu pemimpin Sabil dari pihak Ulama telah berada di tangan Ulama Teungku Ma' Amin, putera ulama Teungku Syekh Muhammad Saman Di Tiro. Dalam mengesankan pendapat ulama Teungku Kuta Kareung, rupa-rupanya Teungku Ma' Amin Di Tiro tidak hendak membantahnya. Sekurang-kurangnya dia tidak ingin tertonjol adanya suatu pertikaian pendapat yang memungkinkan timbulnya perpecahan. Dapat dicatat bahwa teman rapat Teungku Ma'Amin adalah Teungku Mat Saleh, putera Teungku Kuta Kareung.
Tapi Belanda setelah menduduki Aneuk Galong masih saja didorong keras oleh nafsunya yang ingin mendapat lebih banyak atau lebih luas, lebih cepat lebih baik. Untuk menghadapi selakinya terjadi tembak menembak Umar menemukan pemecahan yang dikemukakannya kepada Belanda sebagai syarat mutlak terpeliharanya keamanan. Dia merentang suatu garis demarkasi yang menentukan jurusan dan lingkaran yang hanya boleh dilalui oleh patroli Belanda, di samping itu pihak Aceh tidak akan boleh pula melewatinya.
Seyogyanya penentuan demarkasi ini akan berumur lama jika Belanda jujur. Karena Belanda semata-mata hanya bermaksud memperalat Umar maka keredaan tidaklah mungkin tercapai. Pada satu pihak Umar menghadapi tiga problema. Pertama, golongan pejuang Aceh sendiri yang kurang yakin bahwa Umar akan tidak terjebak ke dalam perangkap keselingkuhan Belanda. Kedua, golongan Aceh yang sudah bekerjasama dengan Belanda. Dengan tampilnya Umar, kedudukan mereka menjadi kecil di mata Belanda dan akibatnya mereka diejek oleh golongan bangsa sendiri dan golongan Belanda yang membakar-bakar mereka supaya ketidak puasan semakin meluap. Ketiga, golongan anti-Deijkerhoff, di kalangan Belanda sendiri, yang banyak jumlahnya dan besar pengaruhnya. Termasuk ke dalam golongan ketiga ini selain kalangan militer Belanda sendiri yang ambisius, juga golongan pedagang, terutama para pemegang saham yang menggantungkan tingkat laba perusahaan kepada kesibukan melayani pesanan (order) pemerintah "Hindia Belanda." Bertahun-tahun sudah kongsi perkapalan Belanda mendapat keuntungan karena pesanan pemerintah untuk kapal-kapal pengangkut. Bukan suatu kebetulan bahwa raja Belanda adalah pemegang saham utama dalam perusahaan seperti ini dan tidak mengherankan jika yang dibuat pegangan oleh tokoh atasan ini adalah pemikiran agar supaya perang besar-besaran dilanjutkan di Aceh. Dengan cara yang dipergunakan oleh Deijkerhoff, yakni cara Inggeris (menaklukkan pribumi via pribumi sendiri) pesanan kapal-kapal pengangkut merosot turun dan kebutuhan suply tidak seberapa. Golongan ini sanggup saja memperalat perwira militer Belanda yang ingin naik dan terpuja. Pun sarjana sendiri dapat diperalat golongan ini, di antaranya yang paling terkemuka adalah Dr. Snouck Hurgronje.
Panglima perang besar Belanda di Jakarta, jenderal Vetter termasuk golongan yang tidak suka dengan cara Deijkerhoff. Karena itu tidak mengherankan bahwa kecurigaan antara pihak Umar dan pihak militer Belanda yang bertugas di Aceh selalu semakin bertambah,lebih-lebih karena perwira-perwira yang didatangkan ke Aceh adalah perwira yang menurut Vetter sesuai dengan pendiriannya.
Bukan suatu kebetulan bahwa jenderal Vetter telah pergi bercuti ke negeri Belanda dalam bulan Nopember 1895. Balik dari cuti dia singgah di Kutaraja dan berada di sana sebulan lamanya. Kesimpulan yang diingini oleh tokoh-tokoh berpengaruh di Nederland dibawanya kembali dan dikembangkannya di Kutaraja. Kesimpulan itu menghendaki supaya kerja sama Deijkerhoff - Umar diputuskan secepat mungkin.
Selama di Banda Aceh Vetter menemui tokoh-tokoh pengkhianat. Dihormatinya mereka. Sebaliknya Vetter telah menghina Teuku Umar. Umar yang mendengar desas-desus tentang dirinya bahwa Vetter sanagt benci kepadanya pun begitu Umar berusaha untuk bertemu muka dengannya, tapi Vetter menolak. Dengan tidak segan-segan Vetter telah mencap Teuku Umar sebagai "schurk" dan penipu yang tak dapat dipercaya.
Amatlah kecewanya Umar. Terasa padanya bahwa hanya Deijkerhoff yang masih "meyakini" kebenarannya.
Setelah Vetter tiba di Jakarta, ramailah pembicaraan mengenai kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di Kutaraja.
Umar mengikuti perkembangan itu semua. Surat-surat kabar Belanda yang membicarakannya, diusahakannya mendapatkannya. Suatu korespondensi terbuka dalam bulan Januari 1896 yang dimuat dalam harian Deli Courant di Medan tidak melindungi lagi
kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, bahwa sesudah Vetter pulang ke Jakarta akan ada perobahan dalam usaha Belanda menghadapi perang Aceh yang sama sekali berlainan dengan cara Deijkerhoff dan asisten residen Kroesen. Terang-terangan disebut bahwa gubernur jenderal dan komandan bala tentara Belanda Vetter sudah lama mengidam-idamkan pelaksanaan nasehat Dr. Snouck Hurgronje, yang mengidamkan yaitu dengan cara banjir darah bagi seluruh rakyat Aceh. Selanjutnya harian Java Bode sendiri menyiarkan pula sebuah berita resmi yang mengatakan bahwa dalam awal Maret, akan datang ke Kutaraja komisaris pemerintah yang terdiri dari jenderal Vetter sendiri, yang dikatakannya "untuk menyelamatkan harapan sukses Belanda yang sudah tercebur ke dalam lumpur."
Dan apa yang terjadi tidak lama kemudian ternyata kebenarannya. Yaitu Vetter datang dan mendepak Deijkerhoff.
Umar yang mengikuti pendahuluan perkembangan dimaksud segera merasakan kehambaran kerjasama yang digiatkannya.
Umar pernah menemui pastor Verbraak di Kutaraja dan membicarakan kesulitan yang dihadapinya sambil menjelaskan bahwa hanya Deijkerhoff saja di antara tokoh yang percaya kepadanya, sedangkan tuan-tuan besar di Jakarta tidak sama sekali. Hal itu sungguh menyedihkan dan merugikan katanya.
Ketika mengupas "Schurk" atau tidaknya Umar, pemimpin redaksi Deli Courant, tuan Deen, pernah menulis kesan-kesannya siapa tokoh Umar ini. Deen berada di Kutaraja dalam perjalanan cuti luar negeri. Pada kesempatan itu ia mengunjungi Teuku Umar yang (masa dia bekerjasama) kebetulan sedang berada di Kutaraja. Untuk mengetahui pengaruh Umar, secara tidak terasa Deen meminta kepada Umar supaya memperlihatkan kampung-kampung Aceh kepadanya. Umar mengajaknya naik sado, dari Kutaraja ke Krueng Raba. Ketika itu teman mereka kecuali sais sado hanya seorang opas biasa saja.
Sesudah itu Deen diajak oleh Teuku Umar ke Lampisang, karena Deen ingin berkenalan dengan Tjut Nya' Din, isteri Teuku Umar. Deen melihat perawatan rumah tangga ala Barat, yang mengesankan pada Deen bahwa Umar bukan apriori membenci Belanda pribadi. Tatkala Deen akan berangkat, Umar meminta sampaikan salam hangatnya kepada Overste Sievers yang sudah pensiun. Tatkala Deen bertanya padanya, kenapa berkirim salam
pada militer Belanda, Umar menjawab bahwa Seivers tidak pernah mencurigainya.
Umar pun menceritakan bahwa umumnya orang Belanda benci padanya. Tatkala Deen mengatakan bahwa kemarahan Belanda adalah akibat peristiwa sloep "Bengkulen" dan "Hok Canton", lalu Umar menjawab bahwa soalnya telah diselesaikan dan ditutup. Umar mengingatkan bahwa dia telah bekerjasama dengan Belanda dan Belanda pun sudah berikrar memaafkan semua yang sudah lalu. Kata Umar, memaafkan berarti melupakan. Selama masih ada yang disimpan bukanlah memaafkan namanya.
Setelah jenderal Vetter pulang ke Jakarta, keamanan Belanda di Aceh Besar terganggu terus. Dari dua pihak Teuku Umar terjepit. Dari pihak pejuang, Teuku Umar dituduh menyerahkan wilayah yang dikuasai oleh pejuang kepada musuh. Dari pihak Belanda sendiri, Teuku Umar dituduh main komidi. Keadaan sebenarnya ialah bahwa Teuku Umar berusaha sebisanya mencapai apa yang setinggi-tingginya mungkin dapat dimiliki tanpa menimbulkan
korban, sedangkan di samping itu diharapkan rakyat bisa balik bekerja di sawah dan ekonomi bangkit semula. Tapi mempertemukan tiga kepuasan sekaligus untuk jurusan yang bersimpang siur tujuan, adalah mustahil.
Dari pihak tentara Belanda yang ingin menangguk keuntungan dari perang, terus-terusan ditimbulkan propokasi di antaranya yang tak dapat dihindarkan ialah propokasi tembakan yang sengaja diletuskan oleh kaki tangan Belanda yang diselundupkan ke daerah pengawasan pihak pejuang Aceh arah tangsi atau pos Belanda. Provokasi sebagai ini membuka alasan untuk Belanda pergi berpatroli ke luar lininya sendiri. Padahal apabila Belanda melakukan sedemikian, pihak pejuang menjadi gemas, lalu terjadilah perkelahian.
Untuk mengatasi peristiwa ini, Umar telah mengingatkan supaya jika ada penembakan dari wilayah luar lini Belanda, dialah yang akan memeriksanya. Tapi keinginan sebagai ini, acap dilanggar oleh Belanda.
Baiklah dicatat bahwa masa Umar bekerjasama, di awal Januari 1896 Belanda telah menempati kecuali garnizun Kutaraja dan Ulee Lheue, juga Lampeuneureut, Lamreueng, Lambaroh, Sireun, Lampeurmee, Cott Iri-, Rumpit, Buket Korueng, Lamnyong. Pekan Krueng, Kuta Pohama, Lamteh, Lamjam, Biang Geutapang Dua. Di samping itu atas persetujuan Umar Cot Gue, Tungkop, Cot Rang, Lambarih, Aneuk Galong, Lamsuet, Krueng Geulumpang, Seuneulop, Blang Cut, Bilui dan Lamkunyet. Semuanya di Mukim XXV dan XXVI, besertajdi Mukim XXII di Aceh Besar itu.
Keamanan Aneuk Galang di bagian luar Aceh Besar tidak termasuk dalam kerja sama Umar - Deijkerhoff.
Dari sudut pandangan pejuang yang bertekad sabil tanpa bijaksana dan tawar menawar, amat terasa kerugiannya efek kerjasama Umar - Deijkerhoff itu. Sebab sebelumnya, selagi Belanda berkurung dalam lini konsentrasi saja, wilayah kekuasaan pejuang, tidak demikian luasnya sehingga lini konsentrasi tidak sampai sejauh Lambaro di Mukim XXII. Padahal kini sudah jauh ke hulu ke Aneuk Galang ke dalam VII Mukim Baet.
Tidak heranlah jika pejuang merasa luka hati, lebih-lebih karena sikap Belanda semakin buruk. Para pejuang yang merasa tidak terikat kepada Umar tapi lebih yakin kepada "petunjuk ulama, menjadi waspada benar. Hal ini semakin terang-terangan terlihat ketika Belanda memancing terus kemarahan-kemarahan para pejuang. Insiden terjadi di manamana,
bahkan hingga di dalam Kutaraja sendiri. Pelopor yang menyabot ketenangan antara Umar dan Deijkerhoff ialah letnan kolonel E.W. Bishoff van Heemskerck, yang bagaimana pun patuhnya pada atasan selalu bertindak sendiri. Umar telah memperingatkan supaya tembakan yang mungkin datang dari daerah luar pos Belanda, kalaulah ada cukup diberitahukan padanya, dan ia sendiri tetap bertindak tegas untuk mendisiplin anak buahnya. Tapi van Heemskerci tidak mengacuhkan batas-batas yang diajukan Umar. Dia merasa berhak untuk mengadakan patroli tanpa berunding dengan Umar.
Terjadilah tembak menembak, dan peristiwa ini berlanjut terus oleh karena di pihak para pejuang Aceh pun sudah merosot keyakinan bahwa Umar dapat mendinginkan nafsu tembak Belanda. Tembakan propokasi Belanda tangal 7 Pebruari dari regu yang berpatroli dari benteng Belanda di Aneuk Galang, menimbulkan korban di pihak Aceh, walau pun di pihak Belanda letnannya sendiri F. Fransen mendapat luka berat. Demikian pula dengan peristiwa 11 Pebruari, yang berkesudahan dengan tertembaknya fuselir Belanda Bodenstaff.
Keadaan sudah sedemikian tegangnya, sehingga sebetulnya pada awal Pebruari itu sudah jelas tidak akan dapat dipulihkan kembali ketegangan seperti sebelumnya. Melihat gejala baru itulah isteri Umar, Cut Nya'Din yang sudah banyak memegang peranan di belakang layar untuk sukses Umar, telah memberi dorongan kepada suaminya supaya balik melawan Belanda secara terbuka. Secara kebetulan, ulama Teungku Chiek Kuta Kareung berpulang kerahmatullah, dan sebagai gantinya adalah Teungku Husin Di Tanoh Abee. Ulama ini yang memang cukup didukung dan disegani oleh rakyat, berpendapat yang berbeda benar dengan ulama Teungku Chiek Kuta Kareung mengenai hukumnya kerjasama Umar dengan Belanda. Beliau katakan bahwa Umar dan pengikutnya yang mengerjakan kepentingan Belanda sudah dapat dianggap kafir, bahkan membunuh Umar adalah suruh.)
Kembali Umar merasa terjepit, sebab pendapat ulama adalah besar pengaruhnya. Tanggal 19 Februari terjadi lagi tembak menembak, bahkan serangan-serangan Belanda telah ke luar jauh dari posnya ketika Belanda menggunakan patroli serdadu kudanya. Tanggal 23 dan 24 Februari berlanjut pula dengan pertempuran Senelop. Akhirnya Belanda menetapkan terus bahwa dia harus tetap mengadakan patroli (baca: kekacauan) antara Aneuk Batee dan Gleng, setiap hari, katanya, untuk mencari pemuda-pemuda pejuang yang menembak malam hari.
Pada peristiwa bersejarah yang terkenal tanggal 7 Maret 1896, terjadi pertempuran hebat antara pasukan Kapt. Blokland yang jauh lebih besar jumlahnya berhasil dicerai-beraikan oleh pasukan Di Tiro. Banyak perwira Belanda tewas termasuk letnan Westendorp,
dan lain-lain, termasuk Kapt. Blokland sendiri. Pada pertempuran itu banyak sekali serdadu Belanda lari menyelamatkan dirinya di antaranya menggunakan orang-orang luka sebagai orang yang harus diselamatkan.
Karena pertempuran ini adalah yang terhebat selama beberapa tahun di Aceh Besar, baiklah diceritakan sedikit lagi.
Peristiwa itu terjadi tanggal 7 Maret 1893. Memperhatikan banyaknya pasukan yang dikerahkan jelaslah bahwa gerakan Belanda sekali ini bukan suatu patroli saja lagi, melainkan suatu penyerangan habis-habisan. Pasukan Belanda bergerak dari benteng Aneuk Galang dipimpin oleh kapten H.F.T. v?-, "lokland dibantu letnan 1 C.T.J. Stakman, dan perwira bawahan dengan pasukan sejumlah 100 orang. Pihak Aceh yang mengetahui bahwa akan ada gerakan pagi-pagi itu sudah siap menantikan kedatangan Belanda menyerang ke luar daerahnya. Dengan cepat pasukan Aceh yang dipimpin langsung oleh Teungku Mat Amin Di Tiro memukul serangan Belanda, mendesak pasukan Belanda sehingga tidak dapat maju. Dalam tempo beberapa menit saja pasukan Belanda dapat dicerai beraikan, dan masing-masing serdadu pada lari menyelamatkan nyawanya. Tidak lama sudah terlihat banyak Belanda menggeletak, seiring dengan itu pasukan patroli sudah pula terkepung dan menghadapi maut seluruhnya. Dengan cepat pihak Belanda meletuskan tembakan ke udara meminta bantuan (S.O.S.). Bantuan yang dipimpin oleh Letnan J. van Hasselt, datang dengan cepat dari benteng Aneuk Galang sendiri, tapi tak lama dia pun kena peluru Aceh. Komandan lini, letnan kolonel van Heemskerck yang berada di Seuneulop ketika melihat adanya tembakan minta bantuan, segera mengeluarkan sepasukan bantuan lain yang dipimpin oleh Letnan K.H. Westendorp. Westendorp membentuk 4 grup pasukan dengan maksud akan menjepit pasukan Aceh yang mengepung van Blokland. Pasukan Westendorp menghadapi pertempuran, sehingga harus menolong diri sendiri pula. Tewas dalam pertempuran Westendorp di samping luka-luka berat Prins, de Rooy dan Eslhout. Dalam kegesitan menghindari korban lebih besar lagi, pasukan Westendorp yang sudah cerai berai, berhasil mengalihkan Induk Pukulan Teungku Di Tiro sehingga karena itulah sisa-sisa pasukan van Blokland berhasil tiba kembali di benteng Aneuk Galang.
Kerugian pada pertempuran hari itu di pihak Belanda menurut catatan Belanda sendiri (tentunya yang sudah tidak dapat disembunyikan lagi), yaitu:
a.) tewas: perwira-perwira K.H. Westendorp, G. Lourens (dicincang seperti sate), G. Voegels,      M.J. Monder (dicencang seperti sate), H.G. Willems, S. Israel dan A. van Oosten;
b. lukaluka: Kapten H.F.Th, van Blokland, Letnan C J.T. Stakman, Letnan  J. van Hasselt dan seorang medis Belanda/ dokter Cristiann van der Meer.
Senjata Belanda banyak yang dirampas dan jatuh ke tanganAceh.
Jumlah korban bawahan Belanda dalam minggu pertama bulan Maret itu, van Blokland yang sudah keruntuhan semangat ("uitgeput", kata Belanda) diganti dengan Kapten P.H. Bodemijet. Juga pimpinan benteng seperti Seuneulop, Tjot Rang, Tungkop, Bilui, Lamsut, Krueng Geulumpang, Tjot Gue dan Lamkunyet, diganti dengan tenaga-tenaga baru. Perubahan ini pun melanjutkan serangan-serangan tanpa mengacuhkan pendapat Umar.
Peristiwa kegagalan Belanda dan kegagalan dari pertempuran hari-hari berikut disidangkan oleh Gubernur Deijkerhoff dengan stafnya, pada tanggal 15 Maret 1896. Turut hadir Teuku Umar untuk diminta pertanggung jawab tersebut, bahkan diperingatkannya bahwa itulah buktinya apa yang telah dinyatakannya kalau Belanda bergerak ke luar daerah patroli sendiri.
Pembicaraan dilanjutkan dengan meneliti ke segala sudut beberapa kemungkinan. Salah satu kesimpulan Deijkerhoff ialah menyuruh Teuku Umar bertindak lebih jauh lagi secara aktif membantu Belanda, "membersihkan" XXII Mukim yang masih sulit, terutama sektor Lamkrak sendiri, di tempat terhimpunnya pejuang-pejuang pilihan yang gemas.
Terhadap perintah ini Teuku Umar menandaskan bahwa kesediaannya untuk membantu Belanda hanyalah jika disambut oleh Belanda dengan kepercayaan dan untuk keperluan itu padanya harus ditambah sejumlah senjata.
Hasil perundingan dirembukkan oleh Umar dengan isterinya Nya' Din yang dengan sungguh-sungguh menasihatkannya supaya Umar balik secara terbuka memihak pejuang, sebelum waktunya terlambat.
Beberapa hari Deijkerhoff memikirkan anjuran menambah senjata untuk Umar. Sementara itu sudah banyak laporan-laporan buta yang mengatakan bahwa Umar akan berkhianat dengan Belanda.
Sesungguhnya setelah Umar "menyeberang" (walaupun maksudnya jelas merupakan siasat belaka), Belanda mengalami kelegahan di bidang politik. Belanda semakin berkesempatan memindahkan perhatiannya ke jurusan lain, terutama terhadap usaha memecah belah tokoh-tokoh Aceh sesamanya. Kelegahan bernafas tadi, membuat Belanda berkesempatan menebarkan bibit-bibit perpecahan di Pidie.
Sultan di Keumala masa itu dapat menjalankan pertadbiran dengan baik. Tapi jaminan yang sudah diperoleh Belanda di Sigli dengan kesediaan dari beberapa uleebalang untuk bekerja sama, membuat pertadbiran tersebut terbatas. Demikianlah tentang blokade, dan kekuasaan di pantai, yang penting sekali artinya dalam perkembangan ekonomi, sebagian besar telah dapat dikuasai oleh Belanda dengan mempergunakan alatnya para uleebalang, golongan kerjasama itu.
Karena Belanda pun tidak dapat meyakini para uleebalang itu sepenuhnya, Belanda selalu memecah mereka. Dalam masa tersebut, Belanda sendiri tidak dapat berbuat apa-apa terhadap uleebalang yang dua muka. Seperti telah diceritakan untuk meneguhkan posisi mereka kepada rakyat dan terhadap agama, maka di samping bekerjasama dengan Belanda, mereka meminta pula supaya pengangkatannya disahkan oleh sultan. Dengan begitu mereka harus pula mematuhi perintah Sultan, di antaranya misalnya mengutip uang-uang iuran, zakat dan dana perang untuk kas Sultan. Demikianlah dalam suasana kelegahannya yang dimaksud di atas tadi, Belanda berhasil memproposir pertikaian saudara di Pidie terutama antara Teuku Pakih Raja dan Teuku Bentara Keumangan.
Tahun 1894 akibat sengketa yang berlarut-larut, Pocut Abdul Lateh Beuntara Keumangan telah merebut 3 Mukim (Ilot, Andeue dan Meutareum) dari Pidie, tanpa memperdulikan putusan Sultan menyebabkan Sultan terpaksa bertindak tegas memulangkan balik Juga wilayah itu ke Pidie. Namun di samping itu Sultan terpaksa dihadapkan dengan fait accompli. Bulan Desember 1894 Bentara Keumangan memaksa Sultan ke luar dari Keumala, istananya dibakar. Terpaksalah Sultan memindahkan setel pemerintahan pusat Aceh ke Reubee. Di sana ada sebuah istana tua yang dibangun oleh almarhum Sultan Iskandar Muda. Di tempat ini Sultan tidak dapat berdiam lama, dia pindah lagi ke Padang Gahan (Padang TidJi), Mukim VII. Setelah berada di sini para panglima dari Sultan merasa tersinggung atas perlakuan terhadap Sultan. Dua di antara Panglima itu, Habib Lhong dan Teungku Pante Geulimah telah mengerahkan pasukannya sejumlah 500 prajurit, sambil mengadakan pembersihan lewat Meutareum, Andeue dan Lala menuju Keumala, serta memulihkan kedudukan Sultan di sana Semenjak itu pengaruh Sultan bertambah baik, sampai menjelang serangan Belanda secara besar-besaran ke Keumala kemudian.
 Baik dicatat juga bahwa tidak berapa lama kemudian setelah kepindahan yang pertama dari Keumala, Sultan mengadakan perjalanan sampai ke Aceh Timur untuk menggembleng dan mengumpul alat-alat dan dana perang. Bahwa Belanda ingin menonton saja mengharapkan perkelahian langsung antara Sultan dan Pidie kontra Keumangan, dapatlah dibuktikan ketika itu pada waktu Keumangan minta kepada Belanda supaya memperlindunginya dan Pidie, Belanda menolak. Kemudian karena Pidie sendiri lebih condong kepada Sultan dari pada Belanda, maka Belanda mencari-cari pula pertikaian saudara antara sesama Pidie. Usaha Sultan untuk mendamaikan dua saudara Teuku Pakeh dan Teuku Raja Pidie supaya dalam masa menghadapi Belanda itu jangan sampai berkelahi, menemui jalan buntu, akibat jarum Belanda yang sudah dapat menusuk lebih dulu untuknya. Bulan Juni 1895, Raja Pakeh X meninggal, diganti anaknya Raja Pakeh Muhammad Daud, yang mendapat jaminan dari Belanda untuk diperlindungi dalam posisinya itu. Akibatnya rakyat tidak suka, dia pun terus
berhadapan dengan pamannya Raja Pidie. Mereka berkelahi dan sama-sama korban.
Ketegangan lain yang sengaja berlatar belakang pendalangan Belanda, ialah antara Bentara Paleueh dengan Bentara Keumangan. Masa itu Mukim Peukan Baro Peukan Sot merupakan tempat pejuang-pejuang yang teguh hati. Belanda mencoba menggunakan Bentara Keumangan, mempolitisir soal Mukim Peukan Baro-Peukan Sot, mengharap supaya Keumangan merebut daerah ini. Karena Bentara Paleueh sendiri pun sebagai cenderung terkuat dari Sultan turut aktif mempertahankan Peukan Baro-Peukan Sot, maka gagallah rencana Belanda untuk melemahkan posisi pejuang di sekitar itu khususnya dan di Pidie umumnya.
Demikianlah situasinya masa itu Pidie jika hendak dialihkan sejenak pandangan, ketika Umar ber "cease-fire" dengan Belanda Walau pun demikian, Belanda, tidak mendapat kemajuan yang diharapkannya di Pidie kecuali di kota Sigli.
Tibalah saat yang menentukan di minggu terakhir bulan Maret 1896, ketika Deijkerhoff sudah siap untuk memenuhi permintaan Umar terhadap soal menambah alat senjata dan biaya
Untuk menghilangkan kesangsian Deijkerhoff, diperintahkannya kepada Umar supaya beberapa pos yang ditempati oleh pasukan Umar diserahkan kepada pasukan Belanda. Secara
diplomatis, Deijkerhoff mengemukakan bahwa jika Umar jujur terhadap Belanda tentu Umar tidak keberatan mengoper pengawasan keamanan yang sudah dikuasainya kepada tentara Belanda. Lagi pula, kata Deijkerhoff, ditariknya pasukan Umar dari pos-pos dimaksud, Umar akan dapat mempergunakannya di sektor Lamkrak kelak. Pos-pos dimaksud ialah Tue Sekinabing, Alue, Montasik dan Mata Ie.
Pengambilan alih pos-pos ini ke tangan Belanda berlangsung pada tanggal 25 Maret 1896. Dengan penuh toleransi Umar mendisiplin pasukannya tapi di samping itu pula Umar telah didesak untuk bertegas menghadapi kepalsuan dan keserakahan Belanda, jika ia tidak ingin dicap pengkhianat untuk selama-lamanya.
Sesudah pertukaran pos ini, besoknya tanggal 26 Maret 1896 Deijkerhoff menyerahkan kepada pasukan Umar alat-alat senjata: 380 pucuk senapang "achterlaad", 25.000 peluru Beamont, 120.000 "slaghoejes", 5.000 kilogram "loods" dan uang tunai $ 18,000 (delapan belas ribu dollar).
Nampaknya Deijkerhoff menyimpan maksud tertentu dengan penyerahan ini, sebab walau pun formilnya. Umar lah yang menerima tetapi penyerahan langsung adalah kepada bawahan Umar saja.

Umar Balik Melawan Belanda

Secepatnya menerima barang-barang dan uang ini, diam-diam Umar mengatur sesuatunya untuk melaksanakan apa yang sedang dirancangnya sejak beberapa hari yaitu untuk: balik melawan Belanda. Untuk menghilangkan seluruh bekas dan syak wasangka, Umar masih memerlukan datang untuk menghadiri konperensi militer yang dipimpin oleh Deijkerhoff, di mana dia diundang hadir. Ini terjadi tanggal 28 Maret 1896. Sehari sebelumnya, sudah ada propokasi yang mengatakan bahwa Teuku Umar akan "menyeleweng" hari itu. Ketika Umar datang ke konperensi, dengan muka berseri-seri Jenderal Deijkerhoff menyambutnya dan orang-orang sebawahan seakan-akan dicemooh oleh Deijkerhoff, seperti hendak mengatakan: kamu sekalian ingin mengacau saja.
Laporan datang lagi mengatakan bahwa malamnya Teuku Umar akan lari. Mau tidak mau laporan sebagai itu masuk juga, sebab gerakan-gerakan prajurit Teuku Umar dan penyusunan-penyusunan tempat, instruksi-instruksi dan sebagainya, dengan sendirinya bisa menimbulkan kecurigaan terhadap akan terjadinya penyelewengan.
Tanggal 30 Maret 1896 dengan terkejut Deijkerhoff mendapat berita pasti dari kepercayaannya yang lain, Teuku Nya' Itam bahwa penyelewengan Umar memang sudah terjadi. Cepat seperti kilat menjalar beritanya. Tanggal 30 Maret Gubernur Jenderal sudah menerima kabar resmi dari Deijkerhoff. Hari itu Deijkerhoff menerima surat dari Teuku Umar, bertanggal 30 Maret 1896 dari Lampisang, (kampung ini diperteguhkan) memberitahukan bahwa dia sudah menarik diri dari Belanda dan menyebutkan sebab-sebabnya dia pergi.
Tulisanya:

"Dengan ini saya memaklumkan ke hadapan tuan besar bahwa tugas yang dipikulkan oleh tuan kepada saya untuk mengepung Lamkrak sampai ke Luthu dan Releueng dan yang sudah saya setujui untuk pergi ke sana, tidak dapat saya penuhi, berhubung karena kontelir Ulee Lheue dan hofdjaksa Muhammad Arif telah memberi malu kepada saya, sebagai diceritakan berikut ini:
1.   Kontelir telah memberi malu saya karena abang ipar saya Teuku Rajeut di Leupong ketika menghadap kepadanya, telah diberi malunya di hadapan orang banyak. Pun gajinya dua bulan ditahannya.
2.      Imeum Gurah Lamteungoh (6 Mukim) telah ditendang oleh kontelir itu di hadapan orang banyak.
3.     Kontelir Ulee Lheue dengan diam telah menanyai seorang tauke Cina supaya dia memberitahukan di mana saya berhutang, hal itu benar-benar memalukan saya .
4.      Di hadapan orang banyak, kontelir Uleulhue telah menghina abang saya Teuku Nya' Muhammad dari IX Mukim. Ketika dia bersama-sama dengan Teuku-teuku lain untuk menyambut tuan besar yang datang ketika itu ke Peukan Bada, di situ abang saya disamakannya dengan kerbau.
5.    Seorang suami istri ketika pergi belanja ke Ulee Lheue berpapasan dengan kontelir tersebut, sang suami telah dipukul dengan cambuk kuda, sehingga matanya rusak. Sesudah itu si kontelir naik lagi ke kudanya dari situ menendangkan orang tersebut sehingga dia tersungkur ke sawah.
6.    Hoofdjaksa Muhammad Arif telah menyiasatkan pakaian yang saya suruh jahit kepada tukang. Maka sekarang ini, Benteng di Lamkunyet, di Bilui dan Cot Gue dan lain-lainnya semuanya sedang direbut oleh pejuang-pejuang dari XXII Mukim. Sebaiknyalah tuan besar menyuruh kepada kontelir Ulee Lheue dan hoofdjaksa Muhammad Arif merebutnya kembali, sebab saya ingin hendak mengaso beberapa waktu. Jika tuan besar akan menyerang, saya akan melawan, karena perasaan saya tidak kepada Keumpeni, dan saya harap akan dibayangi tetap oleh bendera Gubernemen. Begitu juga saya tidak berobah terhadap tuan besar panglima staf, residen van Langen dan asisten residen Kutaraja.
Jika sekiranya tuan besar ingin juga supaya saya kepung Lamkrak, saya akan lakukan, tapi saya ingin supaya tuan besar Gubernur Jenderal di Betawi (maksudnya: Jakarta) menandatangani suatu ketegasan bahwa keinginan itu adalah sebenar-benarnya dan pendiriannya tidak berobah, supaya jangan lagi berulang apa yang sudah pernah terjadi. Tentang senjata-senjata yang sudah diserahkan ke tangan saya, tidaklah dipindahkan ke mana-mana, sebab saya mengawasi VI Mukim.

Demikianlah saya maklumkan kepada tuan besar."

(tertanda)

Teuku Umar



Bukan main gemasnya Deijkerhoff ketika membaca surat dari Teuku Umar itu lebih-lebih pula karena terbayang di matanya pemecatan dirinya.
Surat itu dibalas juga oleh Deijkerhoff berupa peringatan tajam dan ancaman. Umar pun membalasnya pula sehingga terjadi surat menyurat yang tujuannya bagi Umar untuk melalaikan waktu belaka.
Kembalinya Teuku Umar telah disambut gembira oleh Sultan, Panglima Polim, Tuanku Hasyim dan para ulama Tiro. Panglima Polim sendiri segera mengunjungi Teuku Umar ke Lampisang untuk merundingkan lanjutan perjuangan.
Bersama Umar turut balik gagang: Teuku Husin Lueng-bata, Teuku Usen Uleebalang III Mukim Lambaro, Teuku Machmud Uleebalang IV Mukim Ateue dan Nyak Muhammad. Tanggal 30 Maret Teuku Tjut Muhammad dari Mukim Lauteungoh. Tanggal 1 April menyusul pula Uleebalang Teuku Cut Tungkop yang pengaruhnya tidak kecil pula. Dengan pembalikan itu hampir seluruh kepala mukim telah balik ke pihak pejuang.
Tanggal 30 Maret, pasukan Belanda yang dipimpin oleh Letnan J.L.W. Vuijk karena merasa akan dapat menguasai lalu lintas antara Lamsut dan Seuneulop telah mendapat ujian dari pasukan Umar. Hasil serangan itu, Letnan Vuijk sendiri tewas bersama bawahannya
P. Sipaholut. Serdadu biasa tidak diperhitungkan. Semenjak itu pihak Belanda hanya bersifat defensif, menanti bantuan tambahan yang sudah diminta dari Jakarta. Tapi Umar sendiri pun sebetulnya masih menyusun pasukannya di sana sini, belum bertindak langsung. Dalam keadaan seperti itu, yang bergiat adalah pasukan Teungku Mat Amin Di Tiro. Demikianlah pada tanggal 1 April telah terjadi pertempuran di Cot Gue disambung lagi besoknya. Tanggal 3 April pertempuran di Tjot Rang, beberapa hari terhenti. Tanggal 6 April terjadi pengepungan pihak Aceh terhadap benteng Belanda di Lamkunyet. Tanggal 7 April Aceh menyerang benteng Belanda di Krueng Geulumpang. Benteng ini dikepung di bawah pimpinan pasukan Aceh, Teuku Ibrahim Montasik.
Karena peristiwa yang berobah hebat sebagai akibat larinya "teman", komandan dan pimpinan tertinggi Belanda (leger commandant) di Jakarta, yaitu Jenderal J.A. Vetter, berangkat ke Kutaraja dengan kapal "Carpenter" dan "Batam", juga membawa pasukan penolong yang diminta sebanyak satu batalyon. Tanggal 7 April 1896 Vetter tiba di Kutaraja. Bersama dia turut kolonel Stemfoort (orang ini menurut rekannya sendiri van Heutsz adalah ganas, suka membakar kampung). Tindakan Vetter yang pertama ialah memecat komandan militer Belanda di Aceh Jenderal Deijkerhoff sendiri. Usaha Belanda yang langsung dilaksanakannya adalah untuk melepaskan dua benteng Belanda dari kepungan Aceh, yaitu Lam Kunyit dan Krueng Geulumpang.
Tanggal 8 April datang lagi tambahan pasukan yang dibawa oleh kapal-kapal "Reael" dan "General Pel", sehingga dalam tempo singkat kekuatan pasukan Belanda di Aceh karena sikap Umar adalah: 9 (sembilan) veld-batalyon infantri, 2 (dua) divisi marsose, 1 (satu) divisi marsose, 2 (dua) kompi vesting artileri, 1 (satu) eskadron barisan kuda, 1 (satu) kompi tentara jeni, 3 (tiga) berg-battery. Semuanya terdiri dari 325 perwira dan 9145 tentara. Tanggal 8
April, sepasukan Belanda yang bermaksud menambah bala bantuan ke Lamkunyet telah bertemu dengan cegatan di tengah jalan. Pertempuran hebat terjadi pemimpin pasukan Kapten F.P.A. Geluk, tidak "geluk", tewas bersama-sama bawahannya J. Rijken, B. Veldhuizen, G.H. Op 't Broek, di samping luka-luka berat letnan J.H. Hoekstein, R. ten Seldam, dan lain-lain.
Tanggal 12 April, pihak Aceh berhasil merebut benteng Belanda yang kuat dan strategis, Lamkunyet dan Bilui.
Tanggal 13 April penembakan pihak Aceh terhadap benteng Belanda Krueng Glumpang, yang sudah terkepung dan tidak berhasil mendapat bala bantuan. Pembantu Teuku Ibrahim Montasik yang mengepung Krueng Glumpang, yaitu seorang "Deserteur" Belanda bernama Carli, telah menyampaikan kata dua kepada pemimpin benteng Belanda tersebut, supaya menyerahkan benteng kepada pihak Aceh. Apabila diserahkan maka pasukan Belanda diberi kebebasan ke luar benteng untuk bergabung dengan induk pasukannya, tapi apabila tidak, Krueng akan dihancurkan.
Tanggal 14 April, ketika mempertahankan dengan gigih bentengnya di Cot Rang, Belanda kehilangan banyak perwira dan bawahannya, di antaranya kepala benteng sendiri, letnan H.J. Maarschalk dengan Belanda lainnya termasuk E. Kemp, B.H. Speelman, H. Herringa, G.F. Vielvoje dan lain-lain. Pada pertempuran besar-besaran tanggal 17 April 1896, pihak Aceh berhasil merebut 4 benteng Belanda yang penting sekaligus, yakni: Aneuk Galang, Senelop, Lembariah dan Lamsut. Belanda kehilangan sekali, diantaranya L.C. Richter, M.J. Proos, J. Alfink, C. Panenen, J. de Jong, T. van de Wal, T. Uilkema, H. Stoelinga, J. van Dijk Stole, J.B. Zon dan lain-lain. Pemimpin pasukan Mayor D.A. Okhuijzen luka berat, (kemudian mati), demikian pula kaptennya P.J. Dibbetz.
Sampai tanggal 20 April, dalam serba kesulitan Belanda telah mencoba di Krueng Glumpang bertahan, tapi pada hari itu Belanda tidak sanggup bertahan lagi, benteng ini diserahkan kepada pihak Aceh dengan pengorbanan tewasnya bawahan Belanda, S. Y. Rhee dan J.H.L. Koewers.
 Bersama Krueng Geulumpang, pada tanggal 20 April itu jatuh pula ke tangan Aceh benteng Cot Rang dan Tungkop. Tanggal 25 April pertempuran di Lam Ara dan hari berikutnya di Lam Jamee. Tanggal 2 Mei di mukim lain. Tanggal 4 Mei di Tungkop, tewas pemimpin pasukan C.G.A.C. Krohne, dan bawahannya D.G.Moller dan J.K. Kerst. Pada pertempuran di Lam Teungoh, Belanda menderita pukulan lagi.
Sementara itu dengan mendengar panglima tinggi Belanda se"Hindia" sendiri datang memimpin penyerangan ke Aceh, Umar lalu mempermain-mainkan Belanda pula. Dia mengirim surat supaya Belanda jangan bersusah payah, sebab lebih baik mempercayakan soal keamanan kepadanya. Dia mengatakan cukup jika disediakan saja untuknya $ 150.000 sebulan. Surat ini bertanggal 25 April, telah dijawab oleh Vetter dengan ringkas yang isinya "memerintahkan" supaya pada Umar dalam tempo 24 jam datang menghadap Belanda membawa alat-alat senjata yang sudah diserahkan kepadanya. Umar bermain-main lagi, dimintanya tempo 3 hari, Vetter tidak bersedia bahkan Vetter memberi ingat bahwa besoknya pagi-pagi sebelum matahari terbit Umar harus "menghadap" membawa senjata itu, kalau tidak, segala tindakan akan dilakukan untuk menghukumnya. Besok pagi Umar tidak datang. Vetter terus mengumumkan putusannya memecat Umar dari jabatannya apa yang disebutnya Panglima Perang Besar Gouvernement dan sebagai uleebalang Leupung.
Tanggal 27 April 1896, Jenderal Vetter mengumumkan proklamasinya kepada para uleebalang dan kepala-kepala Sagi angkatan Belanda bahwa Belanda mulai hari itu memerangi Teuku Umar Meulaboh dan pengikut-pengikutnya. Siapa yang membantunya akan disapu habis. Sengaja Vetter menambah nama "Meulaboh" untuk membangkitkan perhatian bahwa Umar orang yang mendatang. Tapi jarum busuknya tidak mempan, karena Teuku Umar adalah jelas putera Aceh tulen yang lebih dicintai di Aceh Besar dan Pidie sendiri.
Tanggal 16 Mei 1896 terjadi pertempuran di Glieng, benteng pertahanan Aceh yang dipimpin langsung oleh Panglima Polim 7). Penyerangan Belanda secara besar-besaran yang dipimpin oleh van Heutsz sendiri telah dapat dipatahkan, van Heutsz mundur dengan kerugian serdadunya yang tidak kecil.
Tanggal 23 Mei dengan pasukan tambahan, Belanda mulai mengadakan ofensif di IV Mukim dan VI Mukim. Kaptennya tewas, H.W.O. Kramer dan banyak bawahannya, di samping luka-luka kapten J. Adama v. Scheltema, Letnan-letnan De Wilde, Ramae, van Hasselt, Brunsting, Fischer, Scheepens, dan sejumlah paling sedikit 90 bawahan Belanda. Pertempuran berikutnya korban lagi Kapten S.A. Drisber.
Tanggal 29 Mei pertempuran hebat di IX Mukim dan III Mukim Daroy. Tanggal 31 Mei berkecamuk di IV dan IX Mukim, yang berlanjut sampai ke tanggal 4 dan 5 Juni.
Sehubungan dengan peringatan Vetter kepada Uleebalang dan kepala-kepala Mukim lainnya, beberapa di antara mereka telah menjadi bimbang. Tanggal 26 Mei beberapa uleebalang telah berkumpulan dan menemui Belanda di Kutaraja untuk menyatakan bahwa mereka tidak turut campur. Mereka itu ialah Teuku Usen di Geudong, Teuku Bintara Pineung, Teuku B.Paleueh, Teuku Mael, Teuku Cut Muhammad Adam, Teuku Bintara Ratna Wangsa, Teuku P.Meugue, Teuku Bintara Keumangan, Teuku Keumala dan Teuku Andeue.
Sebagai ternyata dari nama-nama itu, bagian terbesar mereka sendiri dari uleebalang Pidie. Untuk menghadapi kegiatan Belanda di jurusan ini Umar telah berangkat ke Garot. Tanggal 30 Mei van Heutsz mencoba dengan Teuku Meuntroe Garot dan Teuku Ben Aree.
Tanggal 1 Juni pasukan van Heutsz mencoba menyerang Garot.Penyerangannya dapat dipatahkan.
Sehubungan dengan usaha untuk menghadapi pengkhianatan sultan telah memindahkan setelnya ke Pieng di XXII Mukim. Pemindahan ini menggiatkan pasukan yang dipimpin langsung oleh sultan.
Pertempuran selanjutnya berkecamuk di Lamkrak pada tanggal 9 sampai 10 Juni. Tanggal 12 Juni di Kuta Putoih dan Peuto Tjitjiem; tanggal 13 Juni di Gleh Sibieh tanggal 16 Juni dan besoknya di Mukim Montasik.
Tanggal 22 Juni di VI Mukim, tanggal 23 di Tungkop, tanggal 26 di Montasik, tanggal 27 di Unoe, tanggal 29 Juni di Rahat dan Sibreh.
Tepat hari ini Belanda telah membuka front untuk merebut kembali benteng Aneuk Galang yàng sudah jatuh ke tangan pihak Aceh sejak awal April yang lalu.
Untuk merebut Aneuk Galang Belanda telah mengerahkan pasukannya secara besar-besaran, dipimpin oleh panglima Stemfort sendiri, dengan pembantunya perwira tinggi Letnan Kolonel G.A. Hansen, Letnan Kolonel van Vliet, Letnan Kolonel van Heutsz, Letnan
Kolonel G.F. Soeters, Letnan Kolonel C.J. Laceulle, Mayor F.C. Thomson dan beberapa kapten di antaranya van Daalen dan Graafland.
Yang dikerahkan tentara Belanda selain marsuse dengan kekuatan 3 perwira dan 221 bawahan, juga batalyon dengan kekuatan 16 perwira dan 372 bawahan, setengah batalyon ke-7 dengan kekuatan 9 perwira dan 227 bawahan, batalyon ke-I2 dengan kekuatan 14 perwira dan 487 bawahan dan batalyon ke-14 dengan kekuatan 14 perwira dan 467 bawahan. Semuanya belum termasuk barisan kuda dan meriam, 56 perwira dan 1828 orang serdadu.
Benteng Aneuk Galong dipimpin oleh Teungku Mat Amin Di Tiro, ketika itu hanya dengan kekuatan 50 orang pejuang Aceh.
 Untuk menguasai benteng inilah, Belanda memotong hubungan Rahat dan Sibreh.
Dalam pertempuran mati-matian mempertahankan Aneuk Galang itulah Teungku Mat Amin Di Tiro tewas syahid bersama prajurit lainnya. Turut tewas syahid, uleebalang Cut Aree. Pihak Belanda menderita kerugian beberapa kapten luka-luka, di antaranya Kapten Graafland dan beberapa Letnan, di antaranya Dij Witht, Wageur Rijner, Hoekstein, Meerburg, dan lain-lain. Bawahan dan serdadunya yang tewas dan luka tidak diketahui bilangannya, tapi sudah pasti tidak sedikit. Ketika menuju benteng ini, semua petani Aceh yang kelihatan di sawahnya atau berada di rumahnya tanpa kasihan telah disirami oleh Belanda dengan pelornya, banyaklah jumlah mereka yang tewas, tidak berkesempatan melawan.

Teuku Umar Diserang dan Menyerang

Dalam kehebatan serang menyerang antara pihak Aceh dan Belanda sejak Umar balik ke pangkuan Aceh dapatlah dicatat masa meningkatnya dalam bulan Juli. Pertempuran selanjutnya, di IV Mukim pada tanggal 7 Juli, di Lamjani, di XXVI Mukim pada 14 Juli, di IV Mukim 15 Juli, di Krueng Raba 16 Juli di Krueng Geulumpang dan Seuneulop 20 Juli, di XXII Mukim 29 Juli, dan di Montasik 30 Juli masih tidak menghasilkan sesuatu bagi Belanda. Demikian pula pertempuran berikut dalam bulan Agustus/September di XI Mukim, XXVI Mukim, di Leupung di Lhong XXII Mukim, di Samahani, Montasik, Batee Linteung, Seulimuem, Cot Mancang, Lampreh dan lainnya.
Tujuan untuk menghancurkan Umar dan pertahanannya di Leupung dengan kekuatan total Belanda yang puluhan kali besar, telah dilancarkan oleh Belanda di sekitar Agustus 1896, ketika bukan dari darat saja, tapi dari laut juga, sesudah Belanda mendatangkan kembali kapal-kapal perangnya dari Jakarta. Penyerangan ini dipimpin langsung oleh Stemfoort, juga turut Letnan Kolonel van Heutsz dan Letnan Kolonel Hansen, Letnan Kolonel Soeters, dengan Mayor-mayor Boers, dan Otken. Jumlah orang-orang yang turut ambil bagian tidak kurang dari 2000 orang, belum termasuk mariniers dari kapal perang. Kapal-kapal itu ialah fregat 'Tromp", flotille "Macasser", "Madura" dan kapal-kapal "Havink" dan "Albratros".
Penyerbuan kemarin diceritakan oleh sumber Belanda sangat panjang dan terhebat baginya. Namun usaha Belanda untuk merebut Leupung, masih berbulan-bulan sesudah itu belum berhasil. Belanda ketika itu hanya berhasil melakukan penembakan-penembakan, tapi masih tidak mungkin untuk menduduki apa yang ingin direbutnya.
Laporan resmi Belanda mengenai Leupeung pada penyerangan yang pertama antara lain:
  1. Sesudah sejumlah rumah-rumah tinggal dan persediaan padi jumlah besar dijadikan abu, diteruskan mencari serobot-serobotan di sekitarnya.
  2. Sungai Leupung dirusakkan oleh barisan jeni, juga rumah Teuku Umar pun rumah-rumah kampung seluruhnya mengalami nasib yang sama.
Itulah hasil penyerbuan besar-besaran darat dan laut dari "ekspedisi" Stemfoort ke Leupong yang dimaksudkan pada penyerangan besar-besaran tadi.
Tanggal 8 Nopember 1896, panglima/gubernur militer Belanda yang baru, kolonen van Vliet telah tiba di Uleulhue. Kedatangannya berarti bahwa bukan Stemfoort dan bukan van Heutsz yang dipilih oleh gubernur jenderal van der Wijk menjadi panglimanya di Kutaraja. Van Vliet seorang yang sudah biasa juga di Aceh. Begitu hebatnya perasaan tidak puas Stemfoort dengan penggantian komandan tersebut, sesudah 10 hari (tanggal 17 Nopember) barulah dia bersedia menimbang terimakan komando tersebut kepada van Vliet.
Di dalam melancarkan siasat perangnya, Teuku Umar mempunyai kecakapan yang istimewa. Dia mempunyai beberapa markas pertahanan. Dia berpindah-pindah dari satu markas ke markas yang lain. Dia mempunyai kontra spionase yang cukup pula untuk membingungkan Belanda dengan kabar palsu. Jika dia berada di Leupung umpamanya dikatakan sedang berada di Lhong. Rombongan-rombongan yang akan berangkat selalu diatur sedemikian rupa, seolah-olah dia sendirilah yang berangkat, padahal beberapa ratus meter sesudah berangkat diam-diam dia menyamar kembali lagi seorang diri dan bersembunyi di tempat pertama. Dia juga mengetahui kekuatan musuh yang datang dan untuk berapa lama mereka dapat menghadapinya. Sebelum pertempuran diakhiri, diusahakan sedemikian rupa sehingga Belanda tidak sempat mempergoki prajurit yang mengadakan perlawanan.
Yang dapat dilakukan Belanda hanya membakar, merampas harta dan memeras serta menganiaya penduduk yang tidak berdosa. Walau pun pengorbanan rakyat itu sangat menyedihkan, tapi efeknya yang tidak langsung ialah, bahwa rakyat bertambah benci kepada Belanda dan bertambah cinta pejuang-pejuang bangsanya. Banyak sekali Belanda tertipu dan terpancing untuk mengadakan penyerangan-penyerangan. Peristiwa-peristiwa di mana Belanda lagi-lagi menderita rugi hebat di antaranya ialah: Tanggal 2 Oktober 1896: ke Leupeung, 7 Mukim, 10 Oktober: Biruem dan Cot Monleu, 13 Oktober Cot Mancang, 16 Oktober: Mampreh, 17 Oktober: Bilui, 22 Oktober: Cot Mancang lagi, 28 Oktober: Cot Mancang lagi, 30 sampai 31 Oktober: pertempuran-pertempuran di XX Mukim, 6 Nopember: pertempuran-pertempuran di XX Mukim lagi 12 Nopember: pertempuran hebat di Leupeung. Pada suatu ketika terjadilah peristiwa 1 Januari 1897, rupa-rupanya Belanda ingin men"tahun-baru"kan suatu kemenangan dalam penyerbuan ke Lhong, sebab Belanda sudah mendapat kabar pasti bahwa Umar berada di sana.
Kebetulan Keujruen Lhong tidak diketahui apakah ia sudah menjadi alat ataupun karena terpaksa, belum diketahui masih menyimpan misteri, hanya faktanya dapat dibenarkan bahwa dia sudah memberi bantuan kepada Belanda, walau pun akhirnya "budi" dibalas dengan pikulan berat kejuruan tersebut. Keujruen Lhong sudah yakin jika Teuku Umar sendiri (yang waktu dia melapor itu memang sedang sibuk mengatur pertahanan di Lhong), maka sekurang-kurangnya isteri Teuku Umar kedua,yakni  Pocut Nyak Meuligoe, dengan anak-anaknya sudah "pasti" berada di rumah sang keujruen sendiri, manakala nanti Belanda datang menyerang. Cut Nyak Meuligoe ada hubungan keluarga juga dengannya. Itu sebabnya pihak Teuku Umar tidak sangsi lagi pada keujruen Lhong.
Setelah siap diatur keberangkatan, ditentukanlah bahwa Belanda akan mendaratkan marinirnya dengan kapal-kapal perang, kedatangan itu nanti akan diberitahukan dengan tanda-tanda lampu, kejuruan dari darat dan panglima dari kapal akan saling memberikan "tanda"nya. Tanggal 1 Januari pagi-pagi, diam-diam kapal perang sudah berada di teluk Po Culot, dan diam-diam pula kejuruan sudah berada di kapal menemui panglima Belanda. Kapten van Daalen yang beberapa tahun kemudian diangkat menjadi jenderal karena jasa-jasanya yang kejam, ketika itu mendapat "kehormatan" memimpin pendaratan. Belanda sendiri merasa jika sekali ini, Teuku Umar lolos juga, sekurang-kurangnya Cut Nyak Meuligoe dan anak-anaknya yang kecil dapat ditangkap dan jika diperbuat sebagai "barang tebusan", tentu Teuku Umar menyerah.
Perlawanan yang tidak diketahui dari mana datangnya, telah berakibat Belanda menderita korban ketika mendarat dan ketika pergi menuju ke rumah kejuruan Lhong. Serangan-serangan itu dapat diatasi oleh Belanda dengan mengadakan dekking (perlindungan) secukupnya. Tapi dengan korban yang dideritanya, pendaratan Belanda sia-sia belaka. Jangankan Teuku Umar, keluarganya yang hendak ditangkap pun sudah sempat menghilang dengan anak-anaknya. Karena marah kepada penjaga yang di"percaya"kan menjaga keluarga Umar, lalu disunahkan kepadanya mencari terus, tapi orang itu pun tidak berbuat apa-apa, selain menjauhkan diri saja.
Kabar-kabar yang diperoleh dari orang-orang yang dipaksa memberi keterangan di kampung itu mengatakan bahwa Umar sudah menyingkir ke kampung Titeue. Diburulah oleh Belanda secepat-cepatnya ke sana, dan ... ternyata bahwa Umar dan keluarganya serta prajurit-prajuritnya sudah berangkat sejam lebih dahulu. Umar dikejar lagi, tapi ke tempat yang terakhir ini Umar sudah dilindungi pula oleh barisan belakang yang menunggu kedatangan Belanda dan berserak-serak bersembunyi di tempat tertentu, di sanalah terjadi peperangan hebat dan tembak-menembak yang berakibat Belanda menderita kerugian besar. Belanda terpaksa mundur teratur ke Teue, untuk balik lagi melalui Lhong ke Ulee Lheue. Sambil menuju pulang, Belanda menggarong dan membakar rata kampung-kampung, karena dianggap harus diperbuat begitu, berhubung karena penduduk tidak memberikan bantuannya.
Bukan main jengkelnya Belanda dengan kegagalannya di Lhong itu. Di situlah pula antara Vetter (panglima tinggi Belanda di Jakarta), van Vliet dan van Heutsz saling salah menyalahkan, saling menimpakan kesalahan kepada temannya, untuk menjatuhkan teman supaya karir sendiri bisa dipertahankan. Tapi justeru dari tolak menolak kesalahan itu dapat pula kita ketahui kini sejarah yang sebenarnya. Dalam peristiwa-ke Lhong itu, rupanya Teuku Umar ada mempunyai "pembantu" yang bekerja menjadi "loih/lhoeh" sabagai (pilot, loods) untuk kapal-kapal Belanda yang keluar masuk ke pelabuhan, teluk dan sebagainya. Orang ini ketika memberi petunjuk kepada kapal-kapal Belanda masuk keteluk Po Culot sengaja membelok-belokkan kapal supaya sempat diketahui ke kampung bahwa kapal Belanda sudah tiba untuk menyerang sesudah dianggapnya cukup waktu untuk diketahui oleh penduduk kampung barulah kapal dilabuhkan sauhnya.
Jelas bantuan “lhoeh/ cuak/ mata-mata” itu tidak kecil, sebab kalau tidak, pastilah sekurang-kurangnya isteri Umar tertangkap tanggal 1 Januari 1897 itu.
Pada bulan Januari 1897 diadakan musyawarah besar para pemimpin-pemimpin perang Aceh di Garot (Pidie). Musyawarah dipimpin langsung oleh Sultan Muhammad Daud Syah sendiri dengan didampingi oleh Panglima Polem. Teuku Umar mendapat undangan supaya turut mengambil bagian selain untuk memberi laporan hasil-hasil perang juga untuk mengatur koordinasi dan strategi perlawanan terhadap Belanda. Teuku Umar telah didiskusi lebih lanjut tentang kesungguhannya dan tentang kemampuannya meneruskan perjuangan. Dia menyatakan kesanggupan itu serta menceritakan kekuatan perangnya. Dia diminta bersumpah untuk terus berjuang dan jihad. Dia menganjurkan supaya semuanya para pemimpin pejuang Aceh bersumpah serentak berjihad pada jalan Allah sampai titik darah penghabisan.
Semuanya ikut bersumpah. Waktu itu turut mengambil bagian sumpah, Panglima Polem sendiri, Teuku Umar, Teuku Ben Peukan dan Meureudu, ulama pengganti Chik Di Tiro dan banyak kepala-kepala dan geuchik-geuchik. Dihadapan sultan semuanya bersumpah setia kepada sultan untuk mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan kafir Belanda. Jelas bahwa semuanya kompak, yaitu sultan, Panglima Polem, Umar dan para ulama.
Hasil musyawarah besar di Garot itu, diperintahkan kepada Umar supaya memindahkan sebagian besar dari kesatuannya yang ada di Daya ke Mukim VII Pidie. Laporan yang dapat diterima dari mata-mata pihak Aceh, mengatakan bahwa Belanda akan mengadakan serangan hebat-hebatan ke Pidie. Serangan itu harus dihadapi, walau pun kekuatan cukup di Pidie, tapi masih perlu ditambah.
Umar menjalankan perintah itu, sebagian dari kesatuannya melalui bukit sebelah timur dan selatan Seulimeum diberangkatkan ke Pedir (Pidie). Hingga tanggal 14 Februari 1897, Belanda terus-menerus melancarkan "ekspedisinya" ke Lhoong dan Leupung. Rupa-rupanya kejuruan Lhoong sendiri pun sudah setengah-setengah hati memberikan bantuannya, berakibat pada penyerbuan-penyerbuan tanggal 14 Februari 1897, Belanda gagal lagi ke Lhoong. Karena itu Belanda memandang bahwa Keujruen Lhoong tidak cukup memberikan bantuannya, lalu dia pun diangkut dan ditahan ke Kutaraja. Jika keluarganya ingin melepaskan kejuruan harus tebus 30.000 dollar. Ini bukan dongeng, tapi fakta sebenarnya. Demikianlah cara Belanda sudah dibantu orang masih digarong lagi uangnya.
Tanggal 27 Pebruari 1897 Belanda masih bermaksud terus untuk menyerang Teuku Umar di Leupung. Tapi kekuatan Umar sudah dipindahkan ke Daya Hulu. Umar menyebarkan kekuatannya di sekitar Leupung dan Lhoong, sekedar untuk menghadapi serangan Belanda mengadakan pengepungan sebagai yang sudah-sudah juga, dari laut dan dari darat. Ini pun tidak berhasil. Tanggal 3 Maret 1897 Leupeung diserbu lagi oleh Belanda pun tidak berhasil. Pertengahan April dan Mei 1897 Belanda datang lagi ke Leupeung dan Lhong, tidak berhasil. Dengan kekuatan yang ada, Umar dapat mengusir Belanda.
Demikianlah ketika Belanda hendak datang, Teuku Umar sudah diberi tahu lebih dulu oleh mata-matanya yang cakap dan setia. Dengan persiapan yang ada diberikan perlawanan. Ada yang ditunggu sebelum tiba, ada pula yang ditinggalkan untuk dikepung kembali. Belanda bertambah gemas, dan bertambah bernafsu untuk menyerang lagi.
Pertempuran yang lebih hebat terjadi tanggal 29 Mei 1897 dengan kolone yang langsung didatangkan jalan darat dari Kutaraja. Sekali ini dihadapi terus oleh Teuku Umar. Dalam pertempuran ini Belanda tidak berhasil merebut kedudukan Umar. Leupung dapat dipertahankannya. Belanda balik ke posnya.
Setelah datang lagi tambahan kekuatan Belanda yang baru dari Jakarta, Teuku Umar menghadapi kemungkinan serangan baru dengan memindahkan pertahanan sebagian ke Lamteh. Dia sendiri "menunggu" Belanda di situ. Memang serangan Belanda telah dilancarkan dengan segera ke sana pada tanggal 7 September 1897. Teuku Umar berhasil mempertahankan Lamteh untuk beberapa lama.

 Teuku Umar ke Meulaboh dan Syahid

Mengenai Teuku Umar dapat diringkaskan sebagai berikut: Pada penyerbuan Belanda yang kedua di Tangse tahun 1898, telah diputuskan untuk membagi-bagi tugas dari para pahlawan. Sultan, Panglima Polem, Teuku Umar dan Di Tiro yang dalam waktu sebelumnya sudah sedang berada di sana, mengatur lagi siasat perang untuk menghadapi dengan kenyataan yang ada.
 Ketika van Heutsz datang, panglima Belanda ini tidak berhasil menemui siapa pun. Walau demikian, pihak Aceh berpendapat bahwa terlalu rugilah jika semuanya berkumpul. Lebih-lebih jika berulang kejadian seperti Pidie, karena berkumpul itu, sekali sial, terlibatlah banyak orang. Karena itu diputuskanlah supaya Umar bertugas saja ke sebelah Aceh Barat. Dengan kesatuannya, dia pun berangkatlah menuju Aceh Barat menempuh rimba belantara dari Geumpang melalui Kuala Tubot ke Meulaboh.
Beberapa bulan di Aceh Barat mendadak perlawanan di sebelah sana menjadi hebat, sehingga Belanda merasa perlu menambah lagi kekuatan-kekuatan. Laporan yang diberikan oleh komando Belanda di Meulaboh mengesankan van Heutsz bahwa Teuku Umar sudah berada di sana. Van Heutsz pun menambahkan kekuatan dan memimpin sendiri penyerangan-penyerangan ke Meulaboh. Sumber Belanda mengatakan bahwa Teuku Umar tewas dalam suatu pertempuran berhadapan dengan Jend. Van Heutsz bulan Februari 1899 tidak jauh di luar Meulaboh. Jenazahnya dilarikan oleh prajurit ke pedalaman, beberapa tahun kemudian diketahui oleh kapten Belanda Schmidt jenazahnya dikebumikan kira-kira satu setengah jam perjalanan dari Mugoe, sebelah barat laut Meulaboh.

(Sumber: Aceh Sepanjang Abad)

(Mohammad Arif bukan lah seorang Aceh yang selama ini di beritakan. Ia adalah kaki tangan Belanda yang hanya ingin meraup keuntungan. Asal usulnya belumlah diketahui. kemungkinan ia adalah seorang yang datang ke Aceh bersama-sama dengan Agresor (Belanda). Sangat berbeda tabiat yang ada padanya dengan seorang Aceh yang lain yang juga berkhianat kepada para pejuang Aceh seperti Teuku Nek Meura'sa ini meminta kepada Belanda agar mengizinkan ia berlibur ke Penang selama berbulan-bulan agar tak terlihat batang hidungnya di bumi Aceh).