Rabu, 03 April 2013

RAJA LINGE (LINGGA) GAYO


RAJA LINGE (LINGGA)  GAYO

Keturunan Raja Linge yang dikenal sebagai Raja Linge ke XIII. Raja Linge ke XIII terkenal, karena selain kedudukannya di Tanah Gayo, juga mempunyai kedudukan penting di pusat Kesultanan Aceh dan di dalam Pemerintah Kerajaan Johor disemenanjung Tanah Melayu. Ketika Portugis menyerang dan merebut Kerajaan Malaka tahun 1511, Sultan Mahmud Syah dari Malaka terpaksa mengasingkan diri ke Kampar Riau di daerah Sumatera, sedang keluarganya diungsikan ke Aceh Darussalam.Dalam keadaan yang sulit ini Kesultanan Aceh telah ikut membantu Raja Malaka tersebut. Hubungan kerja sama ini telah berkembang demikian rupa hingga terjadi pula suatu perkawinan yang dapat dikatakan sebagai perkawinan politik antara Kraton Aceh dengan Kraton Malaka. Seorang putra Sultan Malaka bernama Sultan Alaudin Mansyur Syah dinikahkan dengan seorang putri Kesultanan Aceh. Sebaliknya seorang putri Sultan Malaka dikawinkan pula dengan seorang pembesar Kesultanan Aceh Darussalam yaitu Raja Linge ke XIII. Raja Linge ke XIII juga duduk dalam staf Panglima Besar Angkatan Perang Aceh (Amirul Harb), sejak Sultan Aceh berjuang mengusir Portugis dari daerah Pase dan Aru. Karena kedudukannya yang penting dalam Kerajaan Aceh, maka kedudukannya sebagai Raja Linge diserahkan kepada anaknya yang tertua menjadi Raja Linge XIV ditanah Gayo. Dalam tahun 1533 terbentuklah Kerajaan Johor baru yang dipimpin oleh Sultan Alaudin Mansyur Syah. Raja Linge XIII duduk dalam Kabinet Kerajaan Johor ini sebagai wakil dari Kerajaan Aceh. Dan dalam rangka membangun dan mengembangkan Kerajaan Johor baru, di samping menghadapi kaum penjajah Portugis, Sultan Johor telah menugaskan kepada Raja Linge XIII untuk membangun sebuah pulau di Selat Malaka yang termasuk wilayah Kerajaan Johor. Pulau tersebut kemudian terkenal dengan ³Pulau Lingga´. Selama Raja Linge XIII membangun Pulau Lingga ini dia memperoleh dua orang anak lelaki, seorang di antaranya bernama ³Bener Merie´ dan seorang lagi adiknya bernama ³Sengeda´. Di Pulau Lingga inilah kemudian Raja Linge XIII meninggal dunia.Setelah meninggalnya Raja Linge XIII, istrinya yang berasal dari KratonMalaka itu, pindah ke Aceh Darussalam dengan membawa kedua anaknya yangmasih kecil, yakni Bener Merie dan Sengeda. Ketika kedua-duanya menginjak dewasa, barulah ibunya memberi tahukan asal keturunan ayahnya di Linge Tanah Gayo. Abangnya yang tertua menjadi Raja Linge XIV di negeri Linge menggantikan ayahnya.Demikianlah Bener Merie dan Sengeda kemudian berangkat ke Tanah Gayo untuk menemui abang dari ayahnya yaitu Raja Linge XIV.Tetapi malang nasib mereka, karena kedatangannya tidak diterima dengan baik oleh Raja LingeXIV,malahan mereka dituduh telah membunuh ayahnya Raja Linge XIII. Kedua -duanya dijatuhi hukuman mati. Bener Merie atas perintah Raja Linge XIV dibunuh,sedang pembunuhan Sengeda ditugaskan kepada Raja Chik Serule. Tetapi Raja Cik Serule tidak mau melaksanakan tugasnya, Sengeda disembunyikannya sehingga terlepas dari pembunuhan. Peristiwa ini terjadi pada masa Sultan Aceh Alaidin Ria'yah II sedang berkuasa di Aceh tahun 1539-1571. Dalam suatu upacara di Keraton Aceh, yang dihadiri oleh seluruh raja-raja Aceh, Sultan memerintahkan kepada mereka untuk mencari ³gajah putih´ yang dikabarkan terdapat di hutan-hutan Tanah Gayo,untuk dipersembahkan kepadanya. Sultan akan memberikan hadiah kepada siapa yang menangkap dan menyerahkan gajah putih tersebut kepadanya.Walaupun dengan rasa kecewa Raja Linge XIV menyiapkan perutusan ke Darussalam untuk mempersembahkan gajah putih tersebut kepada Sultan. Dia tidak mengetahui bahwa yang menangkap gajah putih tersebut adalah Sengeda yang telahdiperintahkannya untuk dibunuh. Pada upacara penyerahan gajah putih keadaan

Sultan di Keraton Aceh, gajah putih yang semula direncanakan diserahkan oleh RajaLinge XIV kepada Sultan ternyata gagal, karena gajah putih tersebut mengamuk,tidak mau dituntunnya. Sifatnya yang biasanya jinak telah berubah menjadi berangdan ganas, mengejar-ngejar Raja Linge XIV yang hampir-hampir tewas.Akhirnya Sengeda yang dapat menjinakkan gajah putih tersebut, dan menyerahkannya kepada Sultan dengan tenang. Semua yang hadir menjadi tercengang-cengang, Sultan menanyakan peristiwa yang aneh itu. Sengeda terpaksa membongkar rahasia kejahatan Raja Linge XIV yang telah membunuh abangnya Bener Merie. Mendengar keterangan Sengeda ini, Sultan sangat murka, dan segera memerintahkan menangkap Raja Linge XIV. Kemudian dimajukan ke pengadilan dandijatuhi hukuman mati. Tetapi beruntung, bagi Raja Linge XIV, dia tidak jadidihukum mati, karena ibu Sengeda dan Sengeda sendiri memberi maaf kepadanya dimuka pengadilan, sehingga Sultan membatalkan hukuman mati tersebut.Hukumannya diperingan sekedar diturunkan pangkatnya dan membayar diet atau semacam denda. Segera setelah peristiwa gajah putih ini, Sultan mengangkat Sengeda menjadi Raja Linge ke XV menggantikan Raja Linge XIV yang khianat itu. Kisah atau legenda lain mengenai peristiwa ³gajah putih´dan kisah ³Sengeda´ adalah berdasar versi yang ditulis oleh seorang penyair Gayo yaitu Ibrahim Daudi atau yang lebih terkenal Mude Kala dalam bentuk syair bahasa Gayo. Jalan ceritanya hampir sama, tetapi isinya jauh berbeda. Perbedaan terpenting antaranya adalah menuruttulisan M. Junus Djamil kisah ³gajah putih´ dan Sengeda tersebut berhubungandengan pengangkatan Sengeda menjadi Raja Linge XV, sedangkan dalam kisah dalam bentuk syair Gayo versi Mude Kala, kisah atau legenda gajah putih dan kisahSengeda tersebut berhubungan dengan pembentukan ³Kejurun Bukit´ di Gayo Laut.Menurut versi Mude Kala, karena jasanya menemukan gajah putih dan membongkar rahasia pembunuhan terhadap Bener Merie,maka Sengeda diangkat menjadi Raja Bukit pertama di Gayo Laut. Sengeda dianggap sebagai keturunan raja-raja Bukit selanjutnya.
Unsur Intrinsik Legenda Gajah Puteh1.

Tema : Kerajaan2.

Tokoh Dan Karakternyaa.

Tokoh Pembantu-

Raja Uyem-

Raja Rinta-

Raja Kik Betul-

Empu Beru-

Meurah Johan-

Meurah Lingga b.

Tokoh Utama-

Meurah Mege : Karakternya tidak adil karena hanya menyayangi satu anak saja.-

Raja Lingge XIII : Karakternya gagah dan berani.-

Sultan Mahmud Syah: Karakternya Lemah dan tidak berani

-

Istri Raja Lingge XIII : Karakternya baik.-

Bener Merie : Karakternya baik.-

Sengeda : Karakternya baik.-

Raja Lingge XIV atau abang Raja Lingge XIII : Karakternya jahat dan pembunuh-

Raja Chik Seurule : Karakternya baik -

Alaidin Riayat : Karakternya baik, bijaksana dan adil.3.

Alur/ Plot :
y

Alur Maju : Menceritakan jasa gajah putih dalam membongkar rahasia pembunuhan terhadap Bener Merie dan Sengeda di angkatmenjadi raja menggantikan Raja lingge XIV.4.

Sudut Pandang : Menceritakan tentang orang ketiga (dia).5.

Latar :
y

Gayo
y

Aceh Besar 
y

Batak ( Sumatra utara )
y

Malaka6.

Amanat :-

Kita tidak boleh menyangi salah satu orang saja.-

Kita harus saling tolong-menolong sesama umat manusia dan jangan gegabah dalam mengmbil keputusan.-

Kita harus adil dalam mengmbil keputusan.7.

Hal Yang Menarik :
y

Saat Kesultanan Aceh Darussalamt elah ikut membantu Raja Malaka dan hubungan kerja sama ini telah berkembang sedemikian rupa hingga terjadi suatu perkawinan politik antara keraton Aceh dan keratin Malaka. Seorang putra Malaka bernama Sultan Alaudin Mansyur syah dinikahkan dengan seorang putri kerajaan Aceh.
y

Gajah putih berhasil membongkar rahasia pembunuhan.

1 komentar:

  1. Sebuah penghayatan dari anak bangsa yang selalu ingin mengubah Nanggroe semakin lebih baik dengan bercermin bersama masa lalu yang sangat bersifat keheroikan yang luar biasa dan kepahlawanan sejati yang tak ada bandingannya di Nusantara.

    Nanggroe Aceh Meutuah

    BalasHapus