RAJA LINGE (LINGGA)
GAYO
Keturunan
Raja Linge yang dikenal sebagai Raja Linge ke XIII. Raja Linge ke XIII terkenal,
karena selain kedudukannya di Tanah Gayo, juga mempunyai kedudukan penting
di pusat Kesultanan Aceh dan di dalam Pemerintah Kerajaan Johor disemenanjung
Tanah Melayu. Ketika Portugis menyerang dan merebut Kerajaan Malaka tahun 1511,
Sultan Mahmud Syah dari Malaka terpaksa mengasingkan diri ke Kampar Riau di
daerah Sumatera, sedang keluarganya diungsikan ke Aceh Darussalam.Dalam keadaan
yang sulit ini Kesultanan Aceh telah ikut membantu Raja Malaka tersebut.
Hubungan kerja sama ini telah berkembang demikian rupa hingga terjadi pula
suatu perkawinan yang dapat dikatakan sebagai perkawinan politik
antara Kraton Aceh dengan Kraton Malaka. Seorang putra Sultan Malaka
bernama Sultan Alaudin Mansyur Syah dinikahkan dengan seorang putri Kesultanan
Aceh. Sebaliknya seorang putri Sultan Malaka dikawinkan pula dengan
seorang pembesar Kesultanan Aceh Darussalam yaitu Raja Linge ke XIII. Raja
Linge ke XIII juga duduk dalam staf Panglima Besar Angkatan Perang Aceh
(Amirul Harb), sejak Sultan Aceh berjuang mengusir Portugis dari daerah
Pase dan Aru. Karena kedudukannya yang penting dalam Kerajaan Aceh,
maka kedudukannya sebagai Raja Linge diserahkan kepada anaknya yang tertua
menjadi Raja Linge XIV ditanah Gayo. Dalam tahun 1533 terbentuklah Kerajaan
Johor baru yang dipimpin oleh Sultan Alaudin Mansyur Syah. Raja Linge XIII
duduk dalam Kabinet Kerajaan Johor ini sebagai wakil dari Kerajaan Aceh.
Dan dalam rangka membangun dan mengembangkan Kerajaan Johor baru, di samping
menghadapi kaum penjajah Portugis, Sultan Johor telah menugaskan kepada Raja
Linge XIII untuk membangun sebuah pulau di Selat Malaka yang termasuk wilayah
Kerajaan Johor. Pulau tersebut kemudian terkenal dengan ³Pulau Lingga´. Selama
Raja Linge XIII membangun Pulau Lingga ini dia memperoleh dua orang anak
lelaki, seorang di antaranya bernama ³Bener Merie´ dan seorang lagi
adiknya bernama ³Sengeda´. Di Pulau Lingga inilah kemudian Raja Linge XIII
meninggal dunia.Setelah meninggalnya Raja Linge XIII, istrinya yang berasal
dari KratonMalaka itu, pindah ke Aceh Darussalam dengan membawa kedua anaknya
yangmasih kecil, yakni Bener Merie dan Sengeda. Ketika kedua-duanya
menginjak dewasa, barulah ibunya memberi tahukan asal keturunan ayahnya di
Linge Tanah Gayo. Abangnya yang tertua menjadi Raja Linge XIV di negeri Linge
menggantikan ayahnya.Demikianlah Bener Merie dan Sengeda kemudian berangkat ke
Tanah Gayo untuk menemui abang dari ayahnya yaitu Raja Linge XIV.Tetapi malang
nasib mereka, karena kedatangannya tidak diterima dengan baik oleh Raja
LingeXIV,malahan mereka dituduh telah membunuh ayahnya Raja Linge
XIII. Kedua -duanya dijatuhi hukuman mati. Bener Merie atas perintah Raja
Linge XIV dibunuh,sedang pembunuhan Sengeda ditugaskan kepada Raja Chik Serule.
Tetapi Raja Cik Serule tidak mau melaksanakan tugasnya, Sengeda
disembunyikannya sehingga terlepas dari pembunuhan. Peristiwa ini terjadi pada
masa Sultan Aceh Alaidin Ria'yah II sedang
berkuasa di Aceh tahun 1539-1571. Dalam suatu upacara di Keraton Aceh,
yang dihadiri oleh seluruh raja-raja Aceh, Sultan memerintahkan kepada mereka
untuk mencari ³gajah putih´ yang dikabarkan terdapat
di hutan-hutan Tanah Gayo,untuk dipersembahkan kepadanya. Sultan akan
memberikan hadiah kepada siapa yang menangkap dan menyerahkan gajah putih
tersebut kepadanya.Walaupun dengan rasa kecewa Raja Linge XIV menyiapkan
perutusan ke Darussalam untuk
mempersembahkan gajah putih tersebut kepada Sultan. Dia tidak mengetahui
bahwa yang menangkap gajah putih tersebut adalah Sengeda yang
telahdiperintahkannya untuk dibunuh. Pada upacara penyerahan gajah putih
keadaan
Sultan
di Keraton Aceh, gajah putih
yang semula direncanakan diserahkan oleh RajaLinge XIV kepada Sultan ternyata
gagal, karena gajah putih tersebut mengamuk,tidak mau dituntunnya. Sifatnya
yang biasanya jinak telah berubah menjadi berangdan ganas, mengejar-ngejar Raja
Linge XIV yang hampir-hampir tewas.Akhirnya Sengeda yang dapat menjinakkan
gajah putih tersebut, dan menyerahkannya kepada Sultan dengan tenang. Semua
yang hadir menjadi tercengang-cengang, Sultan menanyakan peristiwa yang aneh
itu. Sengeda terpaksa membongkar rahasia kejahatan Raja Linge XIV yang telah
membunuh abangnya Bener Merie. Mendengar keterangan Sengeda ini, Sultan sangat
murka, dan segera memerintahkan menangkap Raja Linge XIV. Kemudian dimajukan ke
pengadilan dandijatuhi hukuman mati. Tetapi beruntung, bagi Raja Linge XIV, dia
tidak jadidihukum mati, karena ibu Sengeda dan Sengeda sendiri memberi maaf
kepadanya dimuka pengadilan, sehingga Sultan membatalkan hukuman mati
tersebut.Hukumannya diperingan sekedar diturunkan pangkatnya dan membayar diet
atau semacam denda. Segera setelah peristiwa gajah putih ini, Sultan
mengangkat Sengeda menjadi Raja Linge ke XV menggantikan Raja Linge XIV yang
khianat itu. Kisah atau legenda lain mengenai peristiwa ³gajah putih´dan kisah
³Sengeda´ adalah berdasar versi yang ditulis oleh seorang penyair Gayo
yaitu Ibrahim Daudi atau yang lebih
terkenal Mude Kala dalam bentuk syair bahasa Gayo. Jalan ceritanya hampir sama,
tetapi isinya jauh berbeda. Perbedaan terpenting antaranya adalah
menuruttulisan M. Junus Djamil kisah ³gajah putih´ dan Sengeda tersebut
berhubungandengan pengangkatan Sengeda menjadi Raja Linge XV, sedangkan dalam
kisah dalam bentuk syair Gayo versi Mude Kala, kisah
atau legenda gajah putih dan kisahSengeda tersebut berhubungan dengan
pembentukan ³Kejurun Bukit´ di Gayo Laut.Menurut versi Mude Kala, karena
jasanya menemukan gajah putih dan membongkar rahasia pembunuhan
terhadap Bener Merie,maka Sengeda diangkat menjadi Raja Bukit
pertama di Gayo Laut. Sengeda dianggap sebagai
keturunan raja-raja Bukit selanjutnya.
Unsur Intrinsik Legenda Gajah Puteh1.
Tema
: Kerajaan2.
Tokoh Dan Karakternyaa.
Tokoh Pembantu-
Raja Uyem-
Raja Rinta-
Raja Kik Betul-
Empu Beru-
Meurah Johan-
Meurah Lingga b.
Tokoh Utama-
Meurah Mege : Karakternya tidak adil karena hanya menyayangi satu anak saja.-
Raja Lingge XIII : Karakternya gagah dan berani.-
Sultan
Mahmud Syah: Karakternya Lemah dan tidak berani
-
Istri Raja Lingge XIII : Karakternya
baik.-
Bener Merie : Karakternya baik.-
Sengeda : Karakternya baik.-
Raja Lingge XIV atau abang Raja Lingge XIII :
Karakternya jahat dan
pembunuh-
Raja Chik
Seurule : Karakternya
baik -
Alaidin Ria’yat : Karakternya baik,
bijaksana dan adil.3.
Alur/ Plot :
y
Alur Maju : Menceritakan jasa gajah putih dalam
membongkar rahasia pembunuhan terhadap Bener Merie dan Sengeda
di angkatmenjadi raja menggantikan Raja lingge XIV.4.
Sudut Pandang : Menceritakan tentang orang ketiga (dia).5.
Latar :
y
Gayo
y
Aceh Besar
y
Batak ( Sumatra utara )
y
Malaka6.
Amanat
:-
Kita
tidak boleh menyangi salah satu orang saja.-
Kita harus saling tolong-menolong sesama umat manusia
dan jangan gegabah dalam mengmbil keputusan.-
Kita harus adil dalam mengmbil keputusan.7.
Hal Yang Menarik :
y
Saat Kesultanan Aceh Darussalamt elah ikut membantu Raja
Malaka dan hubungan
kerja sama ini telah berkembang sedemikian rupa hingga terjadi suatu perkawinan politik antara keraton Aceh dan keratin Malaka.
Seorang putra Malaka bernama Sultan Alaudin Mansyur syah dinikahkan dengan
seorang putri kerajaan Aceh.
y
Gajah
putih berhasil membongkar rahasia pembunuhan.
Sebuah penghayatan dari anak bangsa yang selalu ingin mengubah Nanggroe semakin lebih baik dengan bercermin bersama masa lalu yang sangat bersifat keheroikan yang luar biasa dan kepahlawanan sejati yang tak ada bandingannya di Nusantara.
BalasHapusNanggroe Aceh Meutuah