Perang Meulaboh
Semenjak
Teuku Tjhiek Raja Meulaboh menandatangani pengakuannya kepada Belanda,
anaknya Teuku Raja Keujruen Muda menentang syahnya pengakuan itu. Kegemasan
rakyat meningkat sedemikian rupa, sehingga atas desakan mereka Teuku Raja
Keujruen Muda mengambil alih pimpinan dari ayahnya sendiri. Hingga tahun 1877
terasa sekali bagi Belanda kesulitan oleh faktor Meulaboh, sebab selain
perdagangan tidak bisa ditutup, bantuan uang dan tenaga masih banyak bisa
dialirikan untuk pejuang-pejuang ke Aceh Besar. Karena itu awal tahun 1877
Belanda pun mendatangkan tentaranya ke Meulaboh untuk menaklukkan Teuku Kejuruan
Muda.Tanggal 3 Maret 1877 tibalah angkatan perang Belanda di Meulaboh. Belanda
berhasil meminta datang Teuku Tjhiek Raja Meulaboh yang sudah tua itu ke kapal
perang "Deli" di mana assisten residen R.C. Kroesen bersama
panglima-panglima perang Belanda berhasil memaksakan pengakuan bertuan kepada
Belanda sekali lagi, dan membantu Belanda untuk mendirikan benteng Meulaboh dan
sekitarnya.
Tapi
hasil pengakuan tidak bisa direalisasi oleh Belanda, Teuku Raja Keujruen Muda
dan Pasukannya sudah siap-siap di tempat-tempat strategi. Akhir Maret 1877
didatangkan pasukan pendaratan dibawah kapten Siberg dengan mayor Inggeris
Palmer sebagai penasehat ahli yang turut membantu angkatan laut Belanda. Tanggal
10 April Belanda mulai membuat kubu di pantai dekat Krueng Meureubo. Hingga
tanggal 24 April, Aceh tertunggu-tunggu tapi rupanya Belanda tidak berani
menyerang. Sebab itu dicobalah oleh pihak Aceh satu tipuan. Menjelang sore
datang ke suatu pos Belanda antara Meulaboh dan Krueng Meureubo 7 orang Aceh
yang mengatakan bahwa mereka adalah ditugaskan oleh Teuku Tjhiek Raja Meulaboh untuk
membantu Belanda mengadakan patroli dan menjadi penunjuk jalan.
Pos
ini merupakan bagian muka dari bivak yang terletak kira-kira 150 meter dari
situ, di bivak mana berkumpul balatentara Belanda yang sudah mendarat di bawah
pimpinan Kapten Siberg. Ketujuh orang Aceh itu bersenjata Rencong. Antara sangsi
dan percaya, Belanda mengizinkan mereka masuk ke pos ini dan untuk
menghilangkan kesangsian, mereka diajak ronda dan sengaja dijadikan tameng
sebelah muka. Sesudah sekali patroli,tidak menemui apa-apa, hilangkah sangsi
Belanda terhadap 7 orang Aceh tadi. Mereka dapat bergaul dengan serdadu-serdadu
Belanda.Di tengah-tengah Belanda lalai dan menyanyi-nyanyi tengah malam, di
situlah ke 7 pejuang Aceh tadi menyerang serdadu Belanda, diantara 11 Belanda
tewas, 4 orang lagi sempat lari. Pejuang Aceh berhasil membawa serta 11 pucuk
senapan dengan 250 pelor.
Seminggu
kemudian malam 1 jalan 2 Mei 1877 Aceh menyerang langsung ke bivak Belanda,
seorang perwira Belanda dan puluhan serdadunya menderita luka-luka berat.
Penyerangan sedemikian serunya sehingga Siberg dan segala anak buahnya terpaksa
lari puntang panting meninggalkan bivak dan berlindung ke benteng besar yang
sedang dibangun Belanda di tepi Krueng Meureubo sebelah selatan itu. Karena
kehilangan akal Belanda mengadakan teror membakar rata rumah-rumah rakyat,
terutama mereka yang tidak ingin mengkhianati bangsanya. Karena gemas melihat
keganasan serdadu laut Belanda yang khusus ditugaskan membakar kampung, lalu
rakyat pun menyerang mereka ketika engadakan gerakan aksi bakar
dikampung-kampung itu terjadilah perang satu lawan satu. Komandan laut Belanda,
Letn. terzee Vreede mendapat luka hebat, banyak di antara serdadunya
tewas. Hasil keganasan Belanda, perkampungan pemukiman Meureubo, Peunaga dan
sekitarnya serta Ujong Tanjong, hangus di bakar Belanda.
Semenjak
17 Mei Belanda dikepung di bentengnya, mereka bertahan di sana, setiap kali
pihak Aceh menghujaninya dengan serangan. Bala bantuan tambahan didatangkan
dari Ulee lheue Kutaraja Banda Aceh. Kapt. Siberg (yang disebut
"sakit") diganti dengan yang lebih berani, Kapten Von Lubtow. Dalam
suatu cegatan atas konvoi Belanda, Aceh berhasil mengubrak-abrik konvoi dengan
sejumlah besar serdadu Belanda tewas dan berpuluh lari, tidak sedikit mati
tenggelam di laut karena gugup hilang akal, menyangka bahwa di sana tempat menyelamatkan
diri.
Tanggal
10 Juni datang lagi tambahan lebih banyak, sekali ini dipimpin Mayor Du Pon.
Belanda membangun satu lagi benteng di dekat kota Meulaboh. Belanda mulai
mengacau, membakar rumah termasuk mesjid. Sejak itu setiap malam terjadi
penyerangan-penyerangan gerilya. Dalam suatu penyerangan di Kuala Cangkoi, Letnan
Dijsktra pemimpin pasukan Belanda luka. Patroli-patroli tidak pernah aman.
Dalam suatu pertempuran tanggal 4 Juli, Komandannya de Wilde luka parah,
di samping banyak serdadu Belanda tewas. Teuku Abas pemimpin pasukan
Aceh, tewas syahid. Dalam pertempuran berikutnya di Ujung Kalak di mana pihak
Aceh mendadak menyerang patroli Belanda, tewas beberapa serdadu dan puluhan
luka berat. Semenjak itu ofensif gerilya tidak menenteramkan Belanda di
Meulaboh lagi. Tapi di samping itu rupanya Belanda berhasil menjaga bentengnya
walau pun sesuatunya adalah rugi belaka baginya selama di Meulaboh.
Suatu
ketika Januari 1878 Belanda berhasil memikat adik Teuku Raja Keujruen Muda yang termuda, Teuku Raja Itam, untuk
menyebelahnya. Tapi kenyataan Teuku Raja Itam hanya mencari saat baik untuk menarik
keuntungan dari situ. Tidak lama Belanda kembali aktif . Gangguan yang dihadapi
Belanda menyebabkan Belanda merasa perlu melakukan teror pula ke mana-mana.
Pertempuran meningkat lagi, dari Januari sampai Pebruari. Dalam suatu
pertempuran pemimpin pasukan Aceh, Teuku Amin tewas,sementara pemimpin pasukan
Belanda Bakhuis tewas pula di samping banyak serdadu Belanda lainnya.Belanda mendatangkan
bantuan besar lagi, sekali ini di bawah pimpinan lebih tinggi lagi, Letkol.
van Lier. Dalam beberapa banyak pertempuran di mana kedua belah pihak
banyak menderita
korban. Pihak
Aceh memutuskan bahwa untuk melanjutkan perlawanan gerilya perlulah diungsikan
markas besar perjuangan kepedalaman. Untuk beberapa lama Teuku Raja Keujruen
Muda terus aktif memimpin perjuangan
Meulaboh ini.
(Catatan: Teuku
Chiek Raja Meulaboh adalah seorang yang telah tua. Beliau taidak mampu
menguasai keadaan daerah sekitarnya. Karena berpengaruh tentang kondisi fisik
yang telah renta hingga ia tak mampu meredam provokasi paksa yang dilancarkan
Belanda agar mengakui kedaulatan Belanda di Aceh Barat khususnya. Anaknya yang tertua Teuku Raja Keujruen Muda yang dikenal
sangat keras itu jelas-jelas menolak pengesahan tersebut. ia bersumpah akan
menghancurkan Belanda dimanapun mereka berada di wilayah Aceh Barat(Meulaboh)

Sebuah penghayatan dari anak bangsa yang selalu ingin mengubah Nanggroe semakin lebih baik dengan bercermin bersama masa lalu yang sangat bersifat keheroikan yang luar biasa dan kepahlawanan sejati yang tak ada bandingannya di Nusantara.
BalasHapusNanggroe Aceh Meutuah