Sabtu, 11 Mei 2013

Peperangan di Meulaboh adalah Peperangan Semesta (Rakyat Aceh)



Perang Meulaboh

Semenjak Teuku Tjhiek Raja Meulaboh menandatangani pengakuannya kepada Belanda, anaknya Teuku Raja Keujruen Muda  menentang syahnya pengakuan itu. Kegemasan rakyat meningkat sedemikian rupa, sehingga atas desakan mereka Teuku Raja Keujruen Muda mengambil alih pimpinan dari ayahnya sendiri. Hingga tahun 1877 terasa sekali bagi Belanda kesulitan oleh faktor Meulaboh, sebab selain perdagangan tidak bisa ditutup, bantuan uang dan tenaga masih banyak bisa dialirikan untuk pejuang-pejuang ke Aceh Besar. Karena itu awal tahun 1877 Belanda pun mendatangkan tentaranya ke Meulaboh untuk menaklukkan Teuku Kejuruan Muda.Tanggal 3 Maret 1877 tibalah angkatan perang Belanda di Meulaboh. Belanda berhasil meminta datang Teuku Tjhiek Raja Meulaboh yang sudah tua itu ke kapal perang "Deli" di mana assisten residen R.C. Kroesen bersama panglima-panglima perang Belanda berhasil memaksakan pengakuan bertuan kepada Belanda sekali lagi, dan membantu Belanda untuk mendirikan benteng Meulaboh dan sekitarnya.

Tapi hasil pengakuan tidak bisa direalisasi oleh Belanda, Teuku Raja Keujruen Muda dan Pasukannya sudah siap-siap di tempat-tempat strategi. Akhir Maret 1877 didatangkan pasukan pendaratan dibawah kapten Siberg dengan mayor Inggeris Palmer sebagai penasehat ahli yang turut membantu angkatan laut Belanda. Tanggal 10 April Belanda mulai membuat kubu di pantai dekat Krueng Meureubo. Hingga tanggal 24 April, Aceh tertunggu-tunggu tapi rupanya Belanda tidak berani menyerang. Sebab itu dicobalah oleh pihak Aceh satu tipuan. Menjelang sore datang ke suatu pos Belanda antara Meulaboh dan Krueng Meureubo 7 orang Aceh yang mengatakan bahwa mereka adalah ditugaskan oleh Teuku Tjhiek Raja Meulaboh untuk membantu Belanda mengadakan patroli dan menjadi penunjuk jalan.

Pos ini merupakan bagian muka dari bivak yang terletak kira-kira 150 meter dari situ, di bivak mana berkumpul balatentara Belanda yang sudah mendarat di bawah pimpinan Kapten Siberg. Ketujuh orang Aceh itu bersenjata Rencong. Antara sangsi dan percaya, Belanda mengizinkan mereka masuk ke pos ini dan untuk menghilangkan kesangsian, mereka diajak ronda dan sengaja dijadikan tameng sebelah muka. Sesudah sekali patroli,tidak menemui apa-apa, hilangkah sangsi Belanda terhadap 7 orang Aceh tadi. Mereka dapat bergaul dengan serdadu-serdadu Belanda.Di tengah-tengah Belanda lalai dan menyanyi-nyanyi tengah malam, di situlah ke 7 pejuang Aceh tadi menyerang serdadu Belanda, diantara 11 Belanda tewas, 4 orang lagi sempat lari. Pejuang Aceh berhasil membawa serta 11 pucuk senapan dengan 250 pelor.

Seminggu kemudian malam 1 jalan 2 Mei 1877 Aceh menyerang langsung ke bivak Belanda, seorang perwira Belanda dan puluhan serdadunya menderita luka-luka berat. Penyerangan sedemikian serunya sehingga Siberg dan segala anak buahnya terpaksa lari puntang panting meninggalkan bivak dan berlindung ke benteng besar yang sedang dibangun Belanda di tepi Krueng Meureubo sebelah selatan itu. Karena kehilangan akal Belanda mengadakan teror membakar rata rumah-rumah rakyat, terutama mereka yang tidak ingin mengkhianati bangsanya. Karena gemas melihat keganasan serdadu laut Belanda yang khusus ditugaskan membakar kampung, lalu rakyat pun menyerang mereka ketika engadakan gerakan aksi bakar dikampung-kampung itu terjadilah perang satu lawan satu. Komandan laut Belanda, Letn. terzee Vreede mendapat luka hebat, banyak di antara serdadunya tewas. Hasil keganasan Belanda, perkampungan pemukiman Meureubo, Peunaga dan sekitarnya serta Ujong Tanjong, hangus di bakar Belanda.

Semenjak 17 Mei Belanda dikepung di bentengnya, mereka bertahan di sana, setiap kali pihak Aceh menghujaninya dengan serangan. Bala bantuan tambahan didatangkan dari Ulee lheue Kutaraja Banda Aceh. Kapt. Siberg (yang disebut "sakit") diganti dengan yang lebih berani, Kapten Von Lubtow. Dalam suatu cegatan atas konvoi Belanda, Aceh berhasil mengubrak-abrik konvoi dengan sejumlah besar serdadu Belanda tewas dan berpuluh lari, tidak sedikit mati tenggelam di laut karena gugup hilang akal, menyangka bahwa di sana tempat menyelamatkan diri.

Tanggal 10 Juni datang lagi tambahan lebih banyak, sekali ini dipimpin Mayor Du Pon. Belanda membangun satu lagi benteng di dekat kota Meulaboh. Belanda mulai mengacau, membakar rumah termasuk mesjid. Sejak itu setiap malam terjadi penyerangan-penyerangan gerilya. Dalam suatu penyerangan di Kuala Cangkoi, Letnan Dijsktra pemimpin pasukan Belanda luka. Patroli-patroli tidak pernah aman. Dalam suatu pertempuran tanggal 4 Juli, Komandannya de Wilde luka parah, di samping banyak serdadu Belanda tewas. Teuku Abas pemimpin pasukan Aceh, tewas syahid. Dalam pertempuran berikutnya di Ujung Kalak di mana pihak Aceh mendadak menyerang patroli Belanda, tewas beberapa serdadu dan puluhan luka berat. Semenjak itu ofensif gerilya tidak menenteramkan Belanda di Meulaboh lagi. Tapi di samping itu rupanya Belanda berhasil menjaga bentengnya walau pun sesuatunya adalah rugi belaka baginya selama di Meulaboh.

Suatu ketika Januari 1878 Belanda berhasil memikat adik Teuku Raja Keujruen Muda  yang termuda, Teuku Raja Itam, untuk menyebelahnya. Tapi kenyataan Teuku Raja Itam hanya mencari saat baik untuk menarik keuntungan dari situ. Tidak lama Belanda kembali aktif . Gangguan yang dihadapi Belanda menyebabkan Belanda merasa perlu melakukan teror pula ke mana-mana. Pertempuran meningkat lagi, dari Januari sampai Pebruari. Dalam suatu pertempuran pemimpin pasukan Aceh, Teuku Amin tewas,sementara pemimpin pasukan Belanda Bakhuis tewas pula di samping banyak serdadu Belanda lainnya.Belanda mendatangkan bantuan besar lagi, sekali ini di bawah pimpinan lebih tinggi lagi, Letkol. van Lier. Dalam beberapa banyak pertempuran di mana kedua belah pihak banyak menderita
korban. Pihak Aceh memutuskan bahwa untuk melanjutkan perlawanan gerilya perlulah diungsikan markas besar perjuangan kepedalaman. Untuk beberapa lama Teuku Raja Keujruen Muda  terus aktif memimpin perjuangan Meulaboh ini.

(Catatan: Teuku Chiek Raja Meulaboh adalah seorang yang telah tua. Beliau taidak mampu menguasai keadaan daerah sekitarnya. Karena berpengaruh tentang kondisi fisik yang telah renta hingga ia tak mampu meredam provokasi paksa yang dilancarkan Belanda agar mengakui kedaulatan Belanda di Aceh Barat khususnya. Anaknya yang tertua Teuku Raja Keujruen Muda yang dikenal sangat keras itu jelas-jelas menolak pengesahan tersebut. ia bersumpah akan menghancurkan Belanda dimanapun mereka berada di wilayah Aceh Barat(Meulaboh)

Sumber : (Buku “ Aceh Sepanjang Abad ” Jilid II hal. 160-163)

1 komentar:

  1. Sebuah penghayatan dari anak bangsa yang selalu ingin mengubah Nanggroe semakin lebih baik dengan bercermin bersama masa lalu yang sangat bersifat keheroikan yang luar biasa dan kepahlawanan sejati yang tak ada bandingannya di Nusantara.

    Nanggroe Aceh Meutuah

    BalasHapus