Namun sepanjang tahun 1875 dan 1876 rencana tersebut tak kunjung dapat dijalankan oleh Belanda. Baru awal Januari 1877 percobaan pertama berlangsung. Ini berarti sejak Banda Aceh (Pebruari 1874) jatuh hingga awal tahun 1877 seluruh Aceh Barat masih bebas murni. Peristiwa sejak Januari 1877 dimaksud dapat diceritakan sebagai berikut.
Dalam bulan tersebut seorang asisten residen Belanda bernama R.C. Kroesen mendarat ke Meulaboh di bawah perlindungan militer yang kuat. Meulaboh waktu itu dalam keadaan kepungan angkatan laut Belanda yang sudah lama berkeliaran memblokade pantai-pantai
barat, utara dan timur Aceh dalam rangka mengadakan tekanan (pressi) supaya raja-raja kecil tunduk kepadanya. Teuku Chiek Raja Meulaboh diberi tahu oleh Kroesen mengenai maksud
kedatangannya, telah dihadapkan dengan keadaan yang rumit (komplikasi), karena putera beliau tertua, yang juga sudah ditetapkan menjadi pengganti, yaitu Teuku Raja Keujruen Muda, menyatakan menentang secara mutlak masuknya Belanda ke bumi Meulaboh.
Missi Kroesen pulang ke Banda Aceh dengan tangan kosong. Tanggal 3 Maret 1876 kapal perang Belanda "Deli" muncul kembali ke kuala Meulaboh. Raja datang ke kapal, untuk menerima penyerahan tanda mata dalam suatu upacara yang sengaja akan diadakan di situ. Kepadanya diminta supaya menandatangani suatu perjanjian, mengakui pertuanan Belanda dan supaya Belanda diperkenankan membangun bentengnya di Meulaboh. Begitu pun hingga akhir Maret rencana Belanda untuk membangun benteng di Meulaboh, masih belum terlaksana. Karena itu Belanda merasa perlu melakukan secara paksa saja. Pendaratan pasukan Belanda ke Meulaboh tanggal 10 April 1877. Pasukan yang akan didaratkan di bawah piminan kapten L. Sieberg sebermula terdiri dari 1 kompi pasukan dari batalyon ke-I2 berkekuatan 4 perwira, 40 serdadu Belanda dan 80 pribumi dengan segala peralatan perang, dilindungi oleh angkatan laut dalam pimpinan Letnan ter zee kelas 1, A.P. Hooghwinkel.
Kemarahan penduduk dengan pendaratan pasukan Belanda ini menjadi timbul. Provokasi yang diakibatkan oleh pendudukan pasukan Belanda itu, membuat 2 minggu kemudian pejuang Meulaboh siap tempur. Sebermula 7 pemuda pejuang mencoba taktik tersembunyi untuk merampas senjata dari pos kawalan yang terletak di luar kota. Empat serdadu Belanda (seorang komandan jaga, seorang kopral Belanda dan 2 bawahan) tewas dalam serangan yang mereka lakukan hanya dengan pedang. Juga tewas (menurut catatan Belanda sendiri) 7 orang, di samping berhasil dirampas oleh pihak Aceh 11 senapan modern berikut sejumlah besar pelurunya.
Kejadian ini mulai mengesankan Belanda, bahwa menduduki Meulaboh akan penuh risiko, dan risiko ini akan dihadapinya.
Pada penyerangan tanggal 1/2 Mei pejuang Aceh berhasil menimbulkan kerugian di pihak Belanda Letnan 1 C. de Jong dan 8 bawahannya luka-luka, seorang Belanda tewas. Kemudian Belanda mendapat info bahwa tanggal 4/5 Mei pejuang Aceh akan melancarkan serangan besar-besaran. Sejumlah 2000 prajurit lengkap dengan senjata sudah siap untuk menghancurkan pasukan Belanda di Meulaboh. Komandan Belanda, Kapt. Sieberg cepat-cepat meminta ke Banda Aceh supaya didatangkan pasukan tambahan. Tanggal 9 Mei bala bantuan Belanda tiba di Meulaboh di bawah pimpinan Mayor van Domfaseler.
Ketika itu Belanda mengetahui bahwa kekuasaan kerajaan kecil Meulaboh itu sudah diambil alih seluruhnya oleh Teuku Raja Keujruen Muda. Teuku Chiek, ayah beliau rupanya sudah tergeser. Bantuan baru itu yang terdiri dari 2 kompi dari sayap kanan batalyon kedua mendarat di kuala Krueng Meureubo. Segera Belanda melakukan penyerangan, pihak Aceh melawan dengan gigih. Pertempuran terjadi dengan seru, hingga berkecamuk satu lawan satu, sebagaimana telah dicatat juga dalam laporan Belanda sendiri, yang menyebut dalam kalimat: "Nu ontstond er een verwoed gevecht man tegen man, waarbij" vier mariniers sneuvelden, twee anderen zwaar gewond werden en de overigens een goed heenkomen zochten. De commandant — de luitenant ter zee 2de klasse C. Vreede — die mede gewond werd, bespeurde eindelijk dat hij geheel allen was gelaten." Operasi Belanda mulai dilancarkan tanggal 11 Mei, sasarannya ke kampung Peunaga, tempat pertahanan pejuang Aceh. Juga kerumah-rumah Aceh yang diduga oleh Belanda dipertahankan. Ditemui kosong, kemudian ditujukan juga ke arah mesjid dan rumah seorang ulama. Tidak lama segera juga Belanda menghadapi perlawanan, pertempuran orang demi orang berkecamuk, korban-korban tergeletak, di pihak Belanda terlihat 4 pasukan angkatan laut tewas, dan beberapa luka berat dan enteng. Komandannya sendiri, Letnan kelas 2 C. Vreede luka berat.
Kampung Pemukiman Meureubo dibakar habis oleh Belanda, pasukan Belanda merosot. Namun besoknya (12 Mei) diteruskan operasi ke pemukiman Peunaga dan Ujong Tanjong. Belanda tidak berhasil masuk ke sana. Tanggal 13 slup-slup yang mengangkut pasukan tambahan dari kapal ditembaki dari Kampung Meureubo membuat penyerangan dihentikan. Tanggal 14 pasukan Belanda kembali ke Ulee lheue Kutaraja Banda Aceh.
Sejak itu benteng-benteng Belanda tidak sepi dari tembakan. Ketika diusahakan Belanda perundingan, ternyata mereka diserang. Pada suatu serangan pihak Aceh Belanda tewas 4 orang, 1 luka berat, beberapa lain luka-luka dan tenggelam. Beberapa senjata dirampas. Karena seluruh rakyat Meulaboh ternyata sudah mendukung perjuangan menghalau Belanda yang ingin memulihkan prestisenya, maka usaha panglima Belanda di Banda Aceh jenderal Mayor Diemont mengarahkan pula pada tanggal 10 Juni suatu ekspedisi ke-2 di bawah Mayor P.W.H. Du Pon, dengan tiga kompeni yang terdiri dari 14 perwira, 197 Belanda dan 276 Pribumi, dengan pasukan meriam besar dan 1 detasemen angkatan laut. Sasaran: membangun benteng dikuala Meulaboh. 11 Juni mendarat di Meulaboh. Tujuannya untuk menyerang Talu, karena di sana diketahui markas besar Teuku Raja Keujruean Muda. Juga sebuah mesjid dijadikan pertahanan akan turut direbut, panglimanya bernama Mat Said. Malam tanggal 13 Juni, pasar Cina di Meulaboh terbakar habis musnah sebanyak 700 pintu rumah. Menurut sumber Tionghoa, Teuku Raja Itam, kepala kampung Talu, adalah orang ke-2 dari Teuku Raja Keujruen Muda dalam barisan perjuangan.Pertempuran tanggal 5 Juli, menerbitkan kerugian Belanda kaptennya sendiri de Wille menderita luka-luka berat bersama 3 bawahan. Dipihak pejuang tewas(syahid) Panglima Teuku Abas.
Ketika Belanda mengadakan patroli ke Ujung Kalak, ia mengalami serangan tiba-tiba, tewas 2 orang dan 7 luka-luka berat; Belanda menguasai kampung itu dan membakari sejumlah 200 pintu musnah. Tanggal 27 Juli pasukan tambahan kembali ke Banda Aceh tanpa mencapai sukses, bahkan "volkomen was uitgeput" (dengan amat letih). Demikian akhirnya pada percobaan menguasai Meulaboh babak pertama itu menjadi dua kali didatangkan ekspedisi besar-besaran dari Banda Aceh, Belanda masih jauh dari keberhasilan yang diharapkannya.
Dalam "Mededeelingen Afdeeling Bestuurzaken Buitengewesten Serie A III", kembali dapat dibaca bahwa pada tanggal 24 Pebruari 1877 Teuku Keujruen Chiek Lila Peurkasa Raja Meulaboh telah menandatangani kontrak politik (korte verklaring) pengakuan kedaulatan Belanda. Diteliti dari pertempuran yang terjadi dan fakta yang diceritakan oleh Belanda sendiri bahwa Ia sendiri tersebut sudah digulingkan dan digantikan oleh anaknya, dapatlah disimpulkan bahwa kontrak politik itupun (kalau benar ada) merupakan kertas kosong juga.
Sampai pada permulaan tahun 1878 tidak kedengaran kegiatan militer Belanda di bagian Meulaboh, sehingga dapat dipastikan bahwa waktu itu situasi di Meulaboh dalam keadaan "status quo".
Dalam rangka melanjutkan agresi militernya kebagian pantai barat dan selatan mulai pantai barat dari Aceh Besar maka ekspedisi yang dikerahkan oleh panglima Belanda yang lebih agressief lagi sesudah Mayjen. Diemont, yakni Mayjen. Van der Heijden, mulai menyusur pantai barat melanjutkan agresi tersebut ke Meulaboh. Ini terjadi pada pendaratan tanggal 3 Maret 1878 di bawah pimpinan letkol van|Lier, dengan sasaran Merampas Kampung Darat(kini: Gampong Darat). Dalam mempersungguh kampanye penyerangan ini jenderal van der Heijden sendiri terjun ke lapangan. Ia tiba 9 Maret, tanggal 10 Maret ia kembali dengan pesan supaya perlawanan Teuku Raja Keujruen Muda harus dihancurkan.
Namun tentang hasil ini Kielstra mencatat: "Hoe gunstig de zaken zich thans ook lieten zien, weldra zou blijken dat wij te Meulaboh niet veel verder gevorderd werd waren en dat Teuku Kejuruan Muda en zijn aanhangers, steeds volslagen vijandig blijvende, voortdurend de veiligheid van het garnizoen en van de ons goedgezinde bevolking bedreigen". ("Biar pun peristiwanya terlihat sebagai menguntungkan kita, namun segera' ketahuan bahwa kita di Meulaboh tidak mencapai kemajuan suatu apa dan bahwa Teuku Kejuruan Muda dan pengikutnya masih terus mengganggu keamanan benteng dan penduduk yang sudah memihak kita").
Tanggal 18 Maret pasukan van Lier ditarik balik ke Banda Aceh. Tanggal 10 April Meulaboh terbakar lagi, dan benteng Belanda sebelah selatan kota mendapat ancaman. Tanggal 21 April kembali lagi pasar kota, gerakan-gerakan gerilyawan nampaknya meningkat dari keliling kota, benteng diperteguh lagi oleh Belanda
Sebuah penghayatan dari anak bangsa yang selalu ingin mengubah Nanggroe semakin lebih baik dengan bercermin dari masa lalu yang sangat bersifat keheroikan luar biasa dan kepahlawanan sejati yang tak ada bandingannya.
BalasHapusJihadi Fii Sabilillaah
Nanggroe Aceh Meutuah