Sabtu, 11 Mei 2013

Perjuangan Cut Nyak Dhien

KISAH PERJUANGAN CUT NYA' DHIN DAN PENANGKAPANNYA


Setelah Teuku Umar syahid perjuangannya untuk sebagian besar diteruskan oleh isterinya Cut Nya' Din yang sudah mulai lanjut usianya.

Telah diceritakan bahwa panglima Nya' Makam dibunuh secara buas oleh Belanda dalam bulan Juli 1896. Orang pertama yang meningkat kegemasannya terhadap Belanda sebagai akibat kebuasan Belanda terhadap Nyak Makam, adalah Cut Nya' Din sendiri. Cut Nya' Din bukan hanya memandang Nyak Makam laksana putera kandung tapi keperwiraan Nya' Makam telah memperhebat hormat dan kagumnya. Sudah lamalah diketahui umum di masa itu bahwa Cut Nya' Din selain pendorong suaminya, Umar, supaya tetap bersabil dalam jalan Allah, juga Cut Nya' Dhin menjadi "auctor intellectualis" penyerangan-penyerangan terhadap Belanda.



Dialah yang selalu berdiri di belakang layar. Selagi Umar masih kerja sama dengan Belanda di sekitar tahun 1894, harian Bataviaasch Handelsblad di Jakarta telah mensinyalir pengaruh Cut Nya' Din. Harian Belanda itu mengatakan antara lain: "Zoo staat Teuku Umar de man van het oogenblik in Groot Atjeh, geheel onder den invloed van zijn Tjut Nya' Din". (Demikianlah, Teuku Umar, orang penting dewasa ini di Aceh Besar, sepenuhnya berada di bawah pengaruh isterinya, Cut Nya' Din), harian itu mengupas betapa besarnya pengaruh wanita-wanita Aceh terhadap suaminya dan besarnya peranan mereka di bidang politik. 



Dengan adanya kenyataan itu Belanda senantiasa dihinggapi oleh penyakit takut kepada Cut Nya' Din. Tapi berlainan dengan Umar yang selalu diberi diskwalifikasi oleh Belanda dengan istilah "schurk", Belanda rupanya tidak pernah menyebut istilah jahat untuk Cut Nya' Din, walau pun sudah ratusan nyawa Belanda melayang akibat penyerangan Cut Nya' Din. C. van der Pol dalam uraian khususnya mengenai Cut Nya' Din, ketika menceritakan akibat-akibat kebuasan Belanda seperti kejadian terhadap Nya' Makam, yang membuat Cut Nya' Din berdendam kesumat terhadap Belanda, telah menulis bukan hanya ratusan korban yang ditimbulkana oleh Cut Nya' Din tapi ribuan jiwa dan jutaan uang. Untuk jelasnya penulis pindahkan bagian kalimatnya sebagai berikut: "Zij (maksudnya Cut Nya' Din dan pengikutnya-M.S.) smeedden wraakplannen zoo grootsch en veelomvattend, dat er vele duizenden levens en millioenen schats moeten worden opgeofferd om ze te verijdelen."1 C. van der Pol menempatkan pahlawan wanita ini dalam sebentuk kalimat "een der merkwaardigste vrouwen in Ned. Indie"
("salah seorang wanita yang mengajaibkan di Indonesia").



Sekujur tubuh Cut Nya' Din boleh ditamsilkan  elambangkan unsur benci Belanda, benci penjajahan, yaitu penjajahan yang dikenalnya dari dekat penuh dengan penindasan dan kebuasan. Sesungguhnyalah dari pihak Belanda sendiri dengan tidak sangsi telah menyatakan kekaguman terhadap ketangkasan Cut Nya' Din berjuang dan keteguhan imannya. Tenaganya susut karena tuanya, tapi dibanding dengan kewanitaannya, maka kesanggupannya berjuang hingga mencapai usia yang lanjut sekali, sangatlah mengagumkan. Mungkin karena bangsa Belanda sendiri tidak pernah mempunyai pahlawan wanita seperti Cut Nya' Din dan tidak akan mempunyai Joan d'Arc, maka (instinktif maupun sadar) Belanda sendiri sebagai musuh telah mengagumi dan menghormatinya. Hampir seluruh tokoh-tokoh militer Belanda mulai dari Van Heutsz, Van Daalen, Van der Maaten, Veltman, H. Colijn, Christoffel, sampai bawahan lainnya telah mencoba menundukkan Cut Nya' Din atau kalau mungkin menangkapnya, tapi tidak berhasil. Cut Nya' Din tidak akan jatuh ke tangan Belanda kalau bukan karena ulah bangsa sendiri. 



Bekas residen Belanda Jongejans menulis tentang dirinya antara lain: "Sebagai isteri-isteri.dari banyak pemimpin pejuang, Cut Nya' Din lebih sangat fanatik lagi dari suaminya, dalam hal tidak mengenal takluk. Segala kisah tentang dia serupa ceritanya, terutama bagaimana Nya' Din senantiasa mendorong dan menggosok suaminya supaya tetap jihad memerangi Belanda. Satu di antara sebab utama maka Umar balik lagi ke pangkuan perjuangan Aceh adalah karena Cut Nya' Din. Dia menemani Umar ke mana saja, turut merasa pahit pedih perjuangan dan terus mengingatkan bahwa meski bagaimana pun tak bolehlah menyerah. Bahkan sejak Umar wafat, ruh suaminya tetap memberi dorongan kepadanya untuk terus tabah menderita, menyambut kelanjutan pahit perjuangan bersama-sama dengan pengikutnya. Begitulah, masuk dan keluar desa, masuk dan keluar belantara, naik dan turun gunung, dia pun semakin uzur dan rabun, namun dia terus memimpin pengikutnya, diburu dan memburu, tiada waktu mengasoh dari menjaga terhindar dari sergapnya patroli Belanda. "Maar nog was haat wil niet gebroken," kata residen Belanda Jongejans, yang artinya "Namun bencinya tidaklah padam." Akhirnya jatuhlah dia ke tangan kita," demikian Jongejans, yang selanjutnya menyimpulkan: "Zij is slechts eene in de rij der vrouwen." (Hanya dia seorang lah satu-satunya dari antara kaum wanita). Ucapan Jongejans ini agaknya melebihi dari apa yang dinantikan, mungkin dianggap oleh orang Aceh terlalu disanjung jika diingat bahwa wanita yang tampil ke depan baik sebagai pejuang maupun sebagai kepala negara dalam masyarakat Aceh di masa lalu bukanlah semacam kekaguman yang biasa dibayangkan dalam hikayat lagi, sebab sudah
ada dalam kenyataan. Bahkan empat abad lampau di Aceh sudah pernah ada wanita 'menjadi laksamana yaitu Malahayati. Kenyataan ini telah diceritakan oleh John Davis dalam kesan-kesannya ketika dia balik kembali


Semenjak Teuku Umar balik ke pangkuan Aceh akhir Maret 1896, semenjak itu pula Cut Nya' Din meyakini masa setengah hati sudah lampau. Masa yang dihadapi adalah: berjuang atau mati. Umar menghadapi Belanda di berbagai medan perang di Aceh Besar dan sampai ke Pidie, sementara Cut Nya' Din memilih tempat di Pasi, di dekat gunung Grutee wilayah Kluang, lengkap dengan ratusan prajurit terlatih. Ketika dua tahun kemudian Umar bertugas ke Aceh Barat, Cut Nya' Din mengikuti suaminya, dan setelah Umar syahid dia pun mengambil alih pimpinan dan mengadakan serangan gerilya dari induk markasnya dari pusat bumi Aceh yang dikelilingi oleh rimba belantara, ke segala jurusan yang mungkin. Ketika Cut Nya' Din dan pasukannya berada di pedalaman Beutong, Belanda telah mencoba suatu penyerangan besar-besaran sekaligus. Penyerangan tersebut yang berlangsung dalam tahun 1901 dipimpin oleh mayor Van Daalen yang terkenal buas dan kejam.

Dia menggerakkan tentaranya memotong dari Bireuen (pantai Selat Malaka) sampai ke Meulaboh (pantai Aceh Barat) untuk sekaligus memukul pasukan sultan, Polim dan ulama Tiro yang berada di pedalaman Geumpang dan selanjutnya untuk memukul pasukan Cut Nya' Din di pedalaman Beutong. Hasil yang dicapai oleh Van Daalen hanyalah praktek kebuasan terhadap orang Aceh dan harta bendanya, di samping kekejaman terhadap orangnya sendiri, serdadu serta terutama perantaian. Cut Nya' Din Menghadapi Christoffel, Brandhoff, Mathes dan Campioni Sebelum itu, letnan muda Christoffel, juga seperti Van Daalen seorang yang terkenal "berucht" (untuk meminjam istilah Belanda sendiri), telah pernah bertugas khusus untuk menyerbu serangan Cut Nya' Din. Peristiwa tersebut telah berlangsung beberapa kali dalam tahun 1901/1902. Christoffel juga sudah bertempur dengan Cut Nya' Din di Beutong, tapi Christoffel yang undur ke pangkalannya.Mereka dari kalangan Belanda yang menceritakan siapa Cut
Nya' Din adalah mereka yang telah mengenal sendiri Cut Nya' Din dari dekat, bahkan telah bertempur langsung, sebagaimana halnya dengan jenderal mayor pensiun J.L.M. van den Brandhoff yang telah menulis tentang Nya' Din telah mengalami sendiri pukulanpukulan pasukan Nya' Din, ketika sebagai letnan Brandhoff dalam tahun 1902 turut bertugas menyerang Nya' Din beberapa kali di Aceh Barat.


Dalam karangan tersebut van den Brandhoff menceritakan peristiwa pertempuran sejak Juni, Juli dan Agustus 1902 ketika dia bertugas di bawah mayor H.I. Mathes yang membawa bala tentara sejumlah besar (12 opsir, 231 bawahan, 189 perantaian, 8 mandur dan lain-lain semuanya 451 orang), satu fakta yang membuktikan bahwa Cut Nya' Din sebagai musuh yang dihadapi Belanda tidaklah sembarangan.Tugas menghancurkan Cut Nya' Din sejak masa itu pun telah ditujukan ke pedalaman, sebagaimana yang pernah dirumuskan dalam surat tugas yang dipikulnya kepada mayor Mathes, yakni: "berangkat ke Seunagan Hulu dan Beutong untuk menghantam orang Aceh, terutama yang berada di bawah pimpinan Cut Nya' Din sendiri yang kini telah menguasai Beutong."2 Dalam beberapa pertempuran yang dialami oleh kolonel Mathes itu banyaklah kerugian di pihak Belanda. Catatannya sendiri yang biasanya sengaja dipersedikit menyebut antara lain bahwa akibat serangan pihak Aceh pada pertempuran tanggal 11 Juli telah tewas di kalangan perwiranya sendiri kapten Krull, sementara kapten Nijpels menderita luka hebat. Letnan Belanda De Bruyn hancur kena cencang klewang Aceh. Tewas di pihak Aceh Panglima Peureulak. Ketika itu pasukan Belanda mundur. 

Dari pertempuran ini pasukan Belanda mendapat pengalaman bagaimana dahsyatnya serangan-serangan klewang yang tangkas dan mengejutkan, bagaimana tempat-tempat yang ingin diserbu oleh Belanda lebih susah dihadapi dari pada suatu benteng yang terbina baik. Keahlian mengayunkan klewang di kalangan pejuang Aceh di masa itu di Aceh Barat dan Aceh Selatan begitu meningkatnya, sehingga sukar dielakkan. Beruntung bagi Belanda dalam penyerangan di sekitar masa ini Belanda telah "pandai" mempergunakan bagian terbesar dari kesatuan tempurnya yang terdiri dari serdadu Ambon3 dan dari bagian nusantara lainnya yang mereka tempatkan di bagian-bagian depan dengan pelindung serta "voorhoede" orang-orang perantaian, sehingga praktis Orang Belanda amat sedikit jumlah korbannya.Walau pun demikian, kebiasaan pejuang Aceh untuk mengutamakan sasarannya kepada pemimpin-pemimpin pasukan, menyebabkan pihak Belanda menginsafi hebatnya lawan yang dihadapi.Dari pengalaman kolone Mathes, Belanda mendapat  kesimpulan bahwa menyerang Cut Nya' Din dalam keadaan itu adalah sia-sia. Usaha Belanda yang aktif sesudah itu adalah memutus hubungan Cut Nya' Din dengan masyarakat pantai dan desa, di tempat yang sudah dapat diduduki oleh militer Belanda. Belanda mengadakan teror, memaksa penduduk melapor jika mengetahui di mana pejuang berada. Mereka mewajibkan pendaftaran penduduk serta memakai kartu, di mana ditentukan dengan tegas kedaman dan pencarian serta jumlah keluarga. Sedikit saja dari catatan keliru penduduk disiksa. Penduduk bertanggung jawab mencari anggota keluarga yang turut menjadi pejuang. 


Semua ini tidak membantu Belanda memudahkan mencapai maksudnya, bahkan penduduk yang terlibat lebih suka memilih ke hutan daripada melayani keinginan Belanda. Tahun 19Q2 ke tahun 1904 catatan serangan klewang semakin meningkat, suatu keadaan yang meyakinkan pihak Belanda bahwa pejuang Aceh semakin memusatkan latihan klewang daripada bersusah-susah mendapatkan karaben yang sudah semakin diperketat oleh Belanda pengawasannya itu. Pengalaman yang paling celaka dari serangan klewang Aceh itu ialah pengalaman 9 brigade marsose Belanda yang dipimpin oleh Kapten M.J.J.B.H. Campioni ketika menghadapi suatu serangan gerilya pihak Aceh di bagian Seunagan Hulu. Ketika itu kapten Campioni berharap akan dapat memergoki Cut Nya' Din. Tapi hasilnya, sungguh sial buat Belanda, karena hampir seluruh brigade dengan dua brigade tambahannya kemudian tewas oleh serangan klewang Aceh. Campioni dalam luka-luka berat diangkut ke Kutaraja dan menghembuskan nafas penghabisan di sana pada 5 April 1904. Semenjak itu kegiatan Belanda mencari Nya' Din timbul kembali.
Belanda yakin sebelum Cut Nya' Din dipatahkan tidak mungkin serangan-serangan Aceh yang mengerikan dan dahsyat itu dapat diakhiri.

Pengaruh Cut Nya' Din di Masyarakat Cukup Besar
Sebetulnya pengaruh Cut Nya' din di kalangan penduduk, baik di kalangan atas maupun di kalangan bawah, cukup besar. Kutipan dari karangan C. van der Pol ini menjelaskan kebenarannya: "Nog maar weinige jaren geleden was Cut Nya' Din erin geslaagd de meeste Meulaboh's kejuruan, dato's, tji's en tengku's, d.z. zoowat alle categorien van hooge en lage gezagsdragers in verzet te houden. Wat die menschen deden was in hoodzaak haar
werk. De taktiek van de in Boven Meulaboh zoo langen tijd volgehouden, voor de Ned. mobiele colonne en patrouilles vaak uiterst nootlottige klewang aan vallen was door deze vrouw persoonlijk geïnstrueerd. Maar ze deed nog veel meer — heerschte gedurende aantal jaren feitelijk over heel Aceh — in dezen zin, dat zelfs in Groot Aceh aan het Ncd. Bestuur door haar is voorgeschreven hoete handelen."

Ringkasnya yang disebut oleh van der Pol di atas ialah bahwa di Meulaboh kejuruan/uleebalang, datuk-datuk, penghulu-penghulu dan lain-lain mulai dari setinggi-tingginya sampai serendah-rendahnya telah berhasil dipengaruhi oleh Cut Nya' Din supaya melawan Belanda. "Apa yang mereka lakukan adalah pada pokoknya karya Cut Nya' Din sendiri. Serangan-serangan klewang yang hebat-hebat dialami oleh Belanda umumnya digerakkan oleh pejuang-pejuang atas instruksi Cut Nya' Din sendiri. Lebih lagi, di kemudian hari apa yang dikerjakan terutama di Aceh Besar betulbetul menurut petunjuknya," demikian van der Pol.

Wartawan Belanda Zentgraaff pun mencatat dalam bukunya laporan mengenai Cut Nya' Din, antara lain:
Dia (Cut Nya' Din) telah menderita kelaparan di hutan-hutan sementara patroli telah memburunya ke mana saja dari suatu tempat sembunyian ke tempat sembunyian lain. Adalah bermingguminggu lamanya tidak pernah dia mendapat walau sesuap nasi. Ketika itu makanannya hanya pisang-pisang hutan yang direbus.
Enam tahun lamanya wanita ini berjuang mati-matian".

Dari pengakuan ini jelas bahwa Cut Nya' Din adalah seorang tokoh wanita yang luar biasa. Belanda akan tetap menghadapi seribu satu kesulitan sekiranya beliau tidak uzur sekali karena tuanya. Dan inilah sebabnya maka bercabang pendapat tentang problem yang dihadapi. Di antara pengikutnya ada yang sudah melihat soalnya berobah, yakni bukan lagi bagaimana melanjutkan perjuangan di bawah pimpinan Cut Nya' Din, melainkan soalnya ialah bagaimana menyelamatkan Cut Nya' Din dari kesengsaraan dan keuzurannya. Secara ringkas dapatlah diceritakan babak perjuangannya terakhir sebagai berikut:
Sebermula, mengenai nama-nama pembantu/panglima dari Cut Nya' Din dapat dicatat antara lain:

1. Teuku Ali Baet, anak dari Teuku Muda Baet. Di bagian lampau telah diceritakan bahwa Muda Baet menyerah di masa Habib Abdu'r-Rahman menyeleweng. Muda Baet dibuang oleh Belanda, tapi ketika Belanda berharap Muda Baet akan membantunya memelihara keamanan, dia dikembalikan ke Aceh dan kekuasaannya sebagai uleebalang dipulihkan. Tapi Muda Baet secara rahasia telah membantu perjuangan terutama perjuangan Cut Nya' Din, baik dengan uang maupun dengan alat senjata. Akhirnya Muda Baet dibuang lagi oleh Belanda, dan sekali ini ke Nusa Kambangan. Teuku Ali Baet anak dari Teuku Muda Baet membantu aktif pada Cut Nya' Din. Teuku Ali Baet adalah menantu Cut Nya' Din pula. Tahun 1902 oleh Cut Nya' Din masih ditugaskan mengawasi medan perang sekitar Pulau Raja. Pada pertempuran 30 Juni 1902, T. Ali Baet berhadapan dengan pasukan Christoffel, tapi pihak Belanda tidak berhasil mematahkannya.
2. Teuku Rajeu Nanta, adiknya.
3. Panglima Laot, pembantu Cut Nya' Din. Kemudian Panglima Laot lah yang melaporkan Cut Nya' Din kepada Belanda.
4. Panglima Habib Panyang, kemudian tewas di Bor Berawan (Pameue).
5. Teuku Tandi, uleebalang Keujruen Woyla.
6. Teuku Nanta, kemanakan Cut Nya' Din, anak saudaranya Teuku Rajeu Nanta bin Teuku Nanta Seutia. Nanta kemudian ikut ke pembuangan di Sumedang.
7. Cut Nya' Gambang, puteri Cut Nya' Din sendiri. Cut Nya' Gambang adalah istri ulama Teungku Mayet Di Tiro.
8. Keuchiek Ba Nyak, kemudian hari melanjutkan perjuangan bersama Teungku Mayet Di Tiro dan tewas bersama-sama.

Dalam kenyataan memanglah bahwa di babak perjuangannya terakhir pihak Belanda makin giat mengadakan pengepungan yang bertambah lama bertambah ketat juga. Oleh karena taktik perjuangan gerilya yang pokok adalah menghindari setiap kesempatan yang memungkinkan musuh dapat melihat pejuang, maka langkah yang efektif adalah mempersedikit jumlah sesuatu rombongan sampai kepada sekecil-kecilnya. Makin sedikit jumlah pasukan gerilya makin tipis harapan musuh untuk mengetahui pejuang dan sebaliknya makin besar kesempatan untuk menyerang musuh secara tiba-tiba. Tapi jika ini dijalankan, sangatlah diperlukan ketabahan baik jasmani maupun rohani. Berserak ke sana ke mari dengan tenaga yang berkurang adalah sulit, selain barang-barang perbekalan harus diangkut sendiri, maka pengintip dan utusan sukar disediakan. Hal ini mengakibatkan bahwa rombongan pejuang yang satu tidak mengetahui bagaimana nasib rombongan pejuang yang lain.

Dengan semakin ketatnya kepungan Belanda, maka pasukan gerilya Cut Nya' Din semakin dibagi-bagi dan dipencar-pencarkan. Semula, saudara Nya' Din, yaitu Teuku Rajeu Nanta adalah sama-sama sehilir semudik dalam satu rombongan dengan Nya' Din. Tapi kemudian, keadaan ini tidak dapat dipertahankan lagi. Teuku Rajeu
Nanta harus bergerilya sendiri dan Nya' Din harus berpisah dengan dia. Peristiwa penyerangan Belanda ke Geumpang pada suatu Minggu dalam tahun 1904, adalah pula membuktikan kegiatankegiatan para pejuang Aceh yang tak pernah kunjung padam semangat perlawanannya. Letnan Darlang telah diperintahkan dengan sepasukan tentaranya terdiri dari 3 brigade untuk berangkat dari Tangse menuju Geumpang. Belanda telah mendapat kabar dari mata-matanya bahwa Teuku Geudong anak laki-laki almarhum Teuku Umar telah menyiapkan latihan perang di kalangan anak buahnya, untuk seterusnya mengadakan penyerangan. Berita ini menembus karena dua orang pengikut Teuku Imam Ripeh telah dapat "dibeli" oleh Belanda dan bersedia menunjukkan markas Teuku Geudong. Juga bersama Teuku Rajeu Nanta adik Cut Nya' Din dan Teuku Imam Ripeh dari Aceh Barat. Menurut laporan yang disampaikan kepada Darlang, Imam Ripeh sudah bergabung dengan Brahim Montasik. Dalam keadaan yang masih menyusun persiapan Belanda berhasil mendahului penyerangan ke tempat pejuang yang telah menempati beberapa jambur di Alue Minyeuk, hulu Krueng Geumpang. Semula, Belanda menyuruh Teuku Brahim dan Teuku Imam Ripeh menyerah diri. Tapi bagi kedua pejuang ini menyerah adalah suatu pendurhakaan.
Mereka melawan dengan senjata yang ada padanya, tapi keunggulan musuh dalam jumlah dan persenjataan tidak memberikan hasil bagi kedua mereka untuk mematahkan serangan musuh. Mereka berdua tewas seketika itu juga setelah disirami pelor oleh Belanda. Bersama mereka turut gugur sejumlah 7 orang anak buahnya.

Mengenai Teuku Rajeu Nanta sendiri sebetulnya dia berada di Jambo Hulu (pedalaman Meulaboh). Ketika itu di dalam bulan Oktober 1904, masa pertempurannya yang terakhir. Pada tanggal 12 Oktober 1904, T. Rajeu Nanta tepergok dengan pasukan Belanda yang besar jumlahnya. Rajeu mencoba mengadakan perlawanan sengit, tapi tidak berapa lama sesudah bertempur mati-matian, Rajeu Nanta tewas dan syahid. Dalam pemergokan ini Belanda berhasil merampas beberapa alat senjata keris, di antaranya keris pusaka yang disebut kreh meujambang, berhulu emas dengan permata hitam peninggalan ayahnya, Teuku Nanta Seutia, uleebalang
VI Mukim masa permulaan perang Aceh. Selain itu sebuah keris meujambang, berhulu gading gajah, keris Batak tutu pege, beberapa pisau (sekin), pedang, alat-alat perhiasan, dukuh, cucuk sanggul, ikat pinggang emas, suasa, perak dan lain-lain, cukup banyak. Tinggallah Nya' Din dan pengikutnya di pedalaman Aceh dengan meneruskan beberapa kali percobaan untuk menyerang Belanda, baik di posnya maupun di masa-masa patroli. Lama kelamaan kekuataannya menjadi berkurang, tapi hal ini sama sekali tidak mematahkan semangat sabilnya. "Kolonial Verslag" 1905 masih mengatakan Cut Nya' Din janda Umar yang ulet, dengan sesusun kalimat sebagai berikut: "Cut Nya' Din, die energieke weduwe van Teuku Umar, werkte ons vooral in Boven Meulaboh krachtig tegen." (Cut Nya' din, janda teuku Umar yang energik itu merintangi kita dengan hebat terutama di Meulaboh Hulu).

Laporan resmi Belanda mengatakan bahwa ketika tahun 1902, pasukan Scheepers bertempur dengan pasukan sultan di Pameue (30 September 1902), turut mengambil bagian aktif, di samping sultan, Cut Nya' Din sendiri. Masa pertempuran ini tercatat tewasnya Teungku Aron panglima dari Umar, Teungku Haji Itam dan anaknya. Perkembangan selanjutnya dapat diceritakan bahwa pada suatu penyerbuan yang tiba-tiba dari pihak Belanda bulan April 1905, Belanda telah berharap dapat membunuh Cut Nya' Din di tempat persembunyiannya. Buat kesekian kalinya, harapan Belanda itu'lsia-sia karena Cut Nya' Din dengan ketangkasannya yang sudah terkenal, secepat rusa telah dapat menjauhkan diri dari serangan tersebut. Tinggallah barang-barang perbekalan dan perhiasan yang tak sempat dibawa ketika penyingkiran itu, dan ini mengakibatkan pula berkurangnya alat-alat pembantu yang dibutuhkan untuk setiap bergerilya. Terpaksalah Cut Nya' Din mencari tempat persembunyian yang semakin jauh dari pergaulan manusia, yaitu ke hutan rimba yang tidak mungkin dapat dicari lagi.

Dan ini telah dilakukan oleh Cut Nya' Din menanti waktu baik untuk mengumpulkan tenaga perjuangan, dalam hal ini yang dimaksud adalah tenaga materil. Dalam kesulitan hidup di hutan timbullah kesimpulan di kalangan sebagian pengagum Cut Nya' Din bahwa terlalu mahal kiranya bakti yang harus dibayar oleh seorang wanita lemah dan tua seperti dia. Panglima Laot adalah pengikut Cut Nya' Din yang pertama menasehatkan agar pahlawan wanita itu menyerah saja, sebab sudah sia-sia melanjutkan perlawanan. Tapi tatkala diketahui oleh Cut Nya' Din bahwa Panglima Laot sungguh-sungguh serius dengan anjurannya maka bangkitlah amarah Cut Nya' Din. Diusirnya Panglima Laot tidak boleh turut lagi. Ketika itu Cut Nya' Din sedang merencanakan hendak mencari tempat Jambo yang lebih aman di sekitar Beutong, di samping berusaha untuk mendapat kesempatan memiliki sekedar perbekalan yang amat diidam-idamkan, terutama beras, garam dan senjata. Panglima Laot telah tidak tabah mempercermin kesengsaraan yang diderita oleh orangtua itu, padahal posisi perlawanan telah semakin sulit akibat jepitan dari pengepungan Belanda yang tak henti-hentinya mencari Cut Nya' Din. Dalam bulan September 1905, suatu pasukan yang dipimpin oleh Letnan Vastenou telah berhasil mempergoki Cut Nya' Din di suatu markas persembunyiannya yang disebut Jambo (jambur) di Bor Berawan (Pameue). Pasukan Cut Nya' Din melawan hebat, tapi karena menghadapi jumlah kekuatan yang jauh lebih besar pasukan Cut Nya' Din terpaksa mengundurkan diri di samping meninggalkan orang-orang yang baru tewas syahid karena tidak sempat ditolong sebanyak lima orang laki-laki dan seorang perempuan. Karena menyangka bahwa perempuan yang tewas itu adalah Cut Nya' Din sendiri, lalu Vastenou melapor bahwa dia telah berhasil menewaskan Cut Nya' Din.

Sebulan kemudian diketahui oleh pihak Belanda bahwa yang meninggal itu adalah wanita lain, bukan Cut Nya' Din memang sebenarnya demikian. Dengan susah payah pada pertempuran di Beoer Berawan Cut Nya' Din diselamatkan dari kepungan Belanda. Hal keadaan dirinya semakin uzur akibat masuk hutan keluar hutan naik gunung turun gunung, yang acap pula dialami tanpa perbekalan dan penuh bahaya. Dalam pada itu Teuku Ali Baet ditugaskan oleh Cut Nya' Din untuk bergerak menggerilya Belanda. Sementara Panglima Habib Panjang menyediakan deking di suatu Jambo di Pameue agar Cut Nya' Din terlindung.Tapi Panglima Laot sendiri sudah tidak dapat menahan kepedihan yang dibayangkannya sedang dialami oleh Cut Nya' Din. 
Dia pun memutuskan untuk melapor kepada Belanda. Tidak berapa lama Panglima Laot pun memunculkan diri di
suatu bivak Belanda di pedalaman Aceh itu, yang dipimpin letnan Van Vuuren. Tapi Panglima Laot memberi tahu bahwa dia datang bukan untuk menyerah diri. Jika dirinya disentuh dia akan melawan, biar tewas. Dia datang katanya adalah untuk mengkhianati Cut Nya' Din, hendak menyerahkannya kepada Belanda, dengan suatu syarat, bahwa Cut Nya' Din harus dipelihara sebaik-baiknya. Segeralah Van Vuuren membawa Panglima Laot kepada atasannya, Kapten Veltman. Ditetapkanlah!. dengan semufakat Panglima Laot untuk mencari Cut Nya' Din ke Pameue.

Tanggal 23 Oktober 1905, Veltman menggerakkan pasukannya sebanyak 6 brigade (satu brigade sebanyak 20 bayonet). Dua hari berjalan barulah sampai ke suatu Jambo yang diduga oleh Panglima Laot masih mungkin mempergoki Cut Nya' Din di situ. Kedatangan mereka secara terkejut, sehingga Panglima Habib Panjang yang ditugaskan Cut Nya' Din menjaga di situ tidak sempat menyiapkan perlawanan teratur atau secara bergerilya jika musuh juga menyerbu jumlahnya besar. Perlawanan dilakukan dengan serba tergesa-gesa, tapi walau pun pihak Belanda menderita korban, Panglima Habib Panjang sendiri tewas dalam pertempuran terutama ketika dia berusaha menyelamatkan anak buahnya.

Karena tidak bertemu di situ, diputuskanlah oleh Veltman dan Panglima Laot melanjutkan perjalanan ke hutan-hutan Beutong. Perjalanan itu cukup sukar, naik turun gunung, keluar masuk hutan besar tiga hari lamanya baru dapat dicapai Beutong. Tapi gerombolan Vetlman tidak berhasil untuk mencapai Jambo markas persembunyian Cut Nya' Din, bekas jalan kaki tidak ada, semuanya sudah dihilangkan, kelihatan merupakan rimba belantara yang tak pernah dipijak manusia. Panglima Laot mencari-cari rintangan ke sana ke mari dan setelah sia-sia diputuskan dengan sabar untuk menunggu saja sampai beberapa hari (kalau perlu hingga beberapa minggu) sekuat perbekalan. Demikianlah keadaannya hingga tanggal 7 Nopember, ketika Panglima Laot muncul dengan seorang anak tanggung yang rupanya -berhasil dicegah oleh Panglima Laot ketika anak ini disuruh oleh Cut Nya' Din menyampaikan sesuatu. Bujuk dan ancaman telah dilakukan terhadap anak ini yang mengakibatkan dia mau tak mau terpaksa menunjukkan tempat istirahat (Jambo) Cut Nya' Din.

Segeralah Veltman dan pasukannya mempersiapkan pengepungan:; ke tempat Cut Nya' Din. Setelah tiba, Belanda mengadakan serangan seru menuju Jambo di dalam kebetulan amat sepi. Yang berada di situ hanya Cut Nya' Din dan putrinya Cut Nya' Gambang, tegasnya anak almarhum Teuku Umar Cut Nyak Gambang mencoba mengadakan perlawanan, tapi tiba-tiba peluru Belanda menembus badannya, menyebabkan dia tak dapat mengadakan perlawanan. Dalam keadaan terkejut Cut Nya' Din sendiri tidak kehilangan akal. Sambil mencabut rencong dari pinggangnya, dia menyuruh Cut Nya' Gambang menyelamatkan diri. Oleh karena perhatian Belanda hanya terpusat kepada Cut Nya' Din, maka Cut Nya' Gambang tidak dikejar lagi. Dia dengan luka-lukanya yang berat berusaha mengikuti instruksi ibundanya, dia menyingkir sampai jauh. Cut Nya' Din sendiri mengamuk mencarikan mangsa rencongnya ke sekeliling. Belanda tidak berani mendekat, bahkan mengelak ketakutan. Suasana begitu mengerikan, siapa tersinggung pasti maut. Tapi Panglima Laot tampil menyabung nyawa mempergunakan keahliannya meloncat menangkap lengan Cut Nya' Din sambil memijitnya kuat-kuat sampai rencong itu jatuh. Amatlah marahnya Cut Nya' Din kepada Panglima Laot, orang kepercayaannya, kini sudah menolong Belanda. Dia menjeritkan hinaan: cis, Kau pengkhianat! Panglima Laot tidak membantah dia bermohon supaya Cut Nya' Din mengikuti saja sebab pasti akan dipelihara sebaik-baiknya. Marah Cut Nya' Din makin menyala-nyala, Cut memaling kepada Kapt. Veltman yang datang memperkenalkan diri, Cut mendengus: Kau kafir jahanam, tembaklah saja aku,, di Meulaboh pun kau nanti akan membuangku ke laut. Tapi berhadapan dengan Cut Nya' Din, Veltman amat hormat. Dia menghadapi Cut Nya' Din sebagai menating minyak penuh. Pelajaran terhadap Cut Nya' Din dipimpin langsung olehnya, Veltman membayangkan bahwa tertangkapnya Cut Nya' Din hidup-hidup adalah suatu prestasi besar buat karirnya. Memang Cut Nya' Din sudah uzur sekali ketika dijumpai oleh Belanda. Dia dinaikkan ke atas tandu untuk dibawa ke Meulaboh. Sepanjang perjalanan yang memakan waktu beberapa hari itu, Cut Nya' Din tidak habis-habisnya menumpahkan amarahnya serta mengutuk Belanda.

Demikianlah akhirnya sesampai di Meulaboh, Cut Nya Din diberangkatkan dengan sebuah kapal Belanda menuju Kutaraja. Selama di Kutaraja Cut Nya' Din tidak hanya berpangku tangan. Bukan suatu hal kebetulan bahwa masyarakat Aceh seluruhnya hormat kepadanya. Para tokoh-tokoh atasan Aceh yang patriotik merasa ftidak cukup besar jika tidak diketahui bahwa mereka acap bertukar-tukar pikiran ke rumah Cut Nya' Din. Suasana ini amat tidak dikehendaki oleh Van Daalen yang ketika itu menjadi Gubernur Belanda di Kutaraja. Banyak usahanya menjadi macet karena ada saja yang dikemukakan oleh kepala-kepala itu, dan tatkala disiasati oleh Van Daalen ternyata sumber atau brainnya adalah Cut Nya' Dien juga.

Karena itu awal tahun 1907, beliau dibuang oleh Belanda ke Sumedang.5 Harian Belanda Nieuwe Courant, tanggal 23 Januari 1907, menulis di sekitar sebab pembuangannya ke Sumedang itu: 5 Beslit gubernemen Hindia Belanda 11 Des. 1906. 'de aanwezigheid van haar in Kutaraja, een bron van onderling getvist in de hoofden maatschappij." (Beradanya di Kutaraja menerbitkan persengketaan antara sesama kepala-kepala anak negeri). Nieuwe Courant telah mengambil alasan resmi, yang senantiasa menonjolkan keterangan seolah-oleh bukan Belanda sendiri yang nati ketakutan. Untuk sedikit tahun lagi pahlawan Cut Nya' Din masih dikandung hayat dalam pembuangan di Sumedang itu. Kenyataan ini mengesankan bahwa kelemahan-kelemahan yang dipandang oleh Panglima Laot yang menyebabkan dia terharu dan demi "kesetiaannya" kepada pahlawan wanita ini ingin mengkhianatinya supaya terpelihara dari azab sengsara dalam hutan belantara, tiadalah tepat adanya.

Mengenai Cut Gambang (Cut Nya' Gambang), peristiwa yang menyusul kemudian menunjukkan bahwa puteri ini telah menjadi isteri dari ulama Tiro, Teungku Chiek Mayet. Dengan petunjuk ini ternyata bahwa sesudah Cut Nyak Gambang dibawa ke Tangse dan dirawat di sana, dia masuk ke hutan kembali bergerilya untuk mengikut suaminya berjuang. Bertahun-tahun pula lamanya Cut Gambang mendampingi suaminya bergerilya dengan seribu satu kesulitannya. Tibalah masanya kemudian beberapa hari sebelum tewasnya Teungku Mayet Di Tiro, Cut Gambang telah menemui ajalnya tewas oleh suatu pertempuran melawan Belanda. Suatu kesan di sekitar tewasnya Cut Gambang mengatakan Teungku Mayet Di Tiro dengan patroli Schmidt sedang giat saling berusaha untuk pergok-mempergoki dirimba Tangse, suatu ketika di bulan Agustus 1910, Schmidt kebetulan lebih dulu berhasil mengetahui tempat Teungku Mayet Di Tiro. Segeralah diadakannya penyerbuan yang mengejutkan, dan sasaran yang pertama mengenai diri Cut Gambang. Dengan tiada membuang waktu Cut Gambang membalas penyerangan, satu dan lain untuk mendekking suaminya supaya sempat mendapatkan tempat yang strategis. Cut Gambang menderita luka-luka parah yang tidak dapat ditolong lagi. Tapi tujuannya untuk mengharapkan supaya suaminya dapat terhindar dari bahaya ini tercapai.

(Note 1: Mengenai sejarah orang Ambon menjadi serdadu Belanda dapat diteliti serta sedikit sejarah perkembangannya dari tulisan J.G.F. Riedel, bekas residen Belanda di Ambon yang menulis dalam Indishe Gids 1885 dengan judul Hoe denken de Amboneezen over de Indienststelling bij het Indische Leger? (Bagaimana pendapat orang-orang Ambon bekerja dalam pasukan Belanda??). Si penulis membentangkan riwayat paksaan masuknya orang-orang Ambon itu dengan melalui kepala-kepala yang dapat diperalat oleh Belanda. Diceritakan pula pernah terjadi pemberontakan Saparua tahun 1817, ketika Belanda hanya memilih pemuda yang berbadan tegap dan kuat untuk jadi serdadu ke Jawa dan pemberontakan 1827 di bawah pimpinan Thomas Matulessy yang digalakkan oleh Elizabeth Titaley. Riedel menyingkap kebusukan pemerintahnya bahwa tidak benar orang-orang Ambon merasa lebih enak jadi serdadu daripada tinggal di tempat kelahirannya. Riedel mengatakan bahwa dia acap menemui surat-surat dari orang Ambon di Aceh ditujukan kepada keluarga dan handai tolan mereka yang isinya menasihatkan supaya jangan terperosok kepada tipuan Belanda. "Seorang hukuman di negeri Belanda," kata Riedel, "mendapat lebih 20 sen sehari di atas ukuran gaji serdadu Belanda di Indonesia.")

(Note 2: Sumber lain menyebut Cut Nyak Gambang putri Teuku Meulaboh. Tapi ini kurang terang, mengingat bahwa di Meulaboh Teuku Umar sendiri dipanggil masyarakat tidak pada nama langsung tapi dengan sebutan: Teuku Meulaboh/ Ampon Meulaboh.)

Sumber : (Karangan H. Mohammad Said, Buku “Aceh Sepanjang Abad” Jilid II hal.247-261) 

2 komentar:

  1. Sebuah penghayatan dari anak bangsa yang selalu ingin mengubah Nanggroe semakin lebih baik dengan bercermin bersama masa lalu yang sangat bersifat keheroikan yang luar biasa dan kepahlawanan sejati yang tak ada bandingannya di Nusantara.

    Nanggroe Aceh Meutuah

    BalasHapus
  2. Hotels near Harrah's Casino and Maricopa – Mapyro
    Where can I find hotels near 세종특별자치 출장마사지 Harrah's Casino and Maricopa? · Save 포천 출장안마 money · Discover great hotels near Harrah's Casino & 보령 출장안마 Maricopa. · Save money · Don't 성남 출장마사지 forget 구미 출장마사지 to

    BalasHapus