KAPAL "HOK CANTON" YANG MENGGEMPARKAN DUNIA
Sementara
itu Belanda mendapat informasi bahwa yang memimpin perlawanan dan yang menonjol
sejak itu adalah Teuku Umar. Diketahui oleh Belanda bahwa Teuku Umar sendiri
memimpin penyerangan. Tiga hari berturut-turut sejak 16 Agustus 1878 penyerangan
dilancarkan oleh Umar. Berdasar kejadian ini dapatlah dicatat bahwa Umar sudah
tampil memimpin perjuangan (yang dihitung sejak tahun 1878) sedang mencapai
usia 19 tahun. Dihubungkan dengan rencana penyerangan Belanda tahun 1877 terhadap
Kampung Darat, maka sudah dapat diyakinkan bahwa ia sudah menjadi pemimpin
perjuangan dan menjadi panglima dari pertahanan rakyat di situ sejak setahun
sebelumnya (1877). Yaitu sejak ia berumur 18 tahun. Umar datang ke Montasik
(Aceh Besar) di pertengahan Juli 1878 belum sebulan Ibrahim Lamnga (suami
pertama Cut Nyak Din) meninggal dunia dalam pertempuran melawan Belanda di Sla Glee
Taron. Memperhatikan hubungan keluarga Teuku Umar yang luas, Umar bukan asing
lagi tapi sudah merupakan anggota keluarga pula bagi penduduk Aceh Besar,
terutama bagi penduduk XXV Mukim sendiri. Sebagai ternyata kemudian daerah pertahanannya
terutama selama di Aceh Besar adalah di XXV Mukim itu. Setelah perkawinannya
dengan Cut Nyak Din janda almarhum Teuku Ibrahim Lamnga, Teuku Umar balik lagi
ke Aceh Barat. Dengan isterinya Cut Nyak Din, keduanya aktif terus memimpin
perang. Dalam segala kegiatannya adalah jelas pula usahanya merintangi Belanda
yang ingin menarik raja-raja dibagian itu menyeleweng. Dalam bulan Maret 1879 Teuku
Chi' raja Meulaboh meninggal dunia. Karena anak Teuku Chi' melawan semua,
Belanda mengakali seorang yang bernama Teuku Itam Abaih untuk menggantikan Teuku
Chi' Raja Meulaboh.
Keadaan
menjadi sengit lagi karenanya. Sehubungan dengan usaha merintangi merembesan
Belanda ke Patih (Pate) satu pelabuhan di utara Meulaboh, Teuku Umar pergi ke
sana dan menggembleng rakyat untuk berjuang. Dalam tahun 1881 Belanda mencoba
mendaratkan tentaranya ke Patih sesudah menghujani pelabuhan ini dengan
bombardemen, tapi karena keutuhan perlawanan Umar, pendaratan Belanda ke
pelabuhan ini dapat digagalkan. Sesudah itu Umar pergi ke Ruejaih pelabuhan di
bagian Aceh Barat juga. Di sini pun Umar dapat mengumpul kekuatan rakyat.
Sehingga pengaruh Belanda terhadap raja Rigas, yang tadinya sudah terlanjur mengakui
kedaulatan Belanda, dapat dilumpuhkannya. Dalam tahun 1882, Teuku Umar telah
berada pula di medan perang Aceh Besar, khususnya di XXV Mukim. Dia mengusir
Belanda dari Krueng Raba dan bermarkas pula di sana. Umar aktif sekali menghapuskan
pos-pos Belanda dibagian ini, penyerangannya dimedan perang antara Ulee Lheue
dengan Bukit Sibun, berhasil dengan susutnya jumlah pos-pos Belanda
dimukim-mukim tersebut, dan pada akhirnya Belanda menghadapi kenyataan untuk berkurung
dalam "Lini konsentrasinya Banda Aceh/Ulee lheue saja. Dengan menggunakan
siasat ini dapatlah Belanda mengharapkan akan tenteram menyelamatkan
serdadunya. Semenjak itu Belanda mengumpul tentaranya berkurung masuk kandang, dalam
istilah yang dipakainya disebut: Lini konsentrasi. Dengan Lini konsentrasi
dimaksudnya bahwa Belanda hanya akan berusaha menguasai kampemen atau benteng
yang sudah dibangunnya sekedar cukup untuk memelihara keselamatan tentara itu
di Banda Aceh dan dibeberapa pos di daerah Aceh yang masih dapat dikuasai,
sekedar jaminan lalu lintas untuk keperluannya sendiri. Dalam sementara itu
Teuku Umar menyadari pengaruh blokade Belanda, tapi dalam menghadapi akibat
blokade itu pula Umar memainkan siasatnya. Dia memerlukan kelancaran perhubungan
dagang antara Aceh Barat dan Tanah Melayu, supaya dari perniagaan yang hidup
dapat dipenuhi biaya perang sabil. Sumber Belanda mengatakan bahwa dalam tahun
1884 Teuku Umar secara formil (baca: di atas kertas) telah takluk kepada
Belanda. Penjelasan selanjutnya mengenai soal ini belum diperoleh, tapi tidak
lama sesudah itu sekali peristiwa Teuku Umar dan panglimanya diantarkan dengan
kapal perang Belanda "Benkulen"
menuju Lambeusoe (Lambusi) suatu wilayah
kecil di bagian barat Aceh Besar, terletak antara Keuluang dan Kluet. Maksudnya
akan menjadi perantara untuk menyelesaikan soal "Nisero".
Selama
diperjalanan Teuku Umar memperhatikan kelakuan Belanda yang sombong terhadap
bangsanya; pun Umar sendiri tidak luput dari perlakuan Belanda yang menyakitkan
hati. Setiba di Lambeusoe Umar diantarkan ke pantai oleh pengawalan serdadu
laut Belanda dengan suatu sloep (sekoci besar). Dalam suatu kesempatan ketika
serdadu-serdadu itu eleng, Umar memberi isarat kepada pengikutnya supaya
menyerang Belanda dan merampas senjata mereka. Semua serdadu Belanda tewas dan
senjatanya berhasil dirampas oleh Umar.
Demikianlah
dengan hasil yang dicapainya, gengsi
Umar semakin menaik di mata pejuang Aceh. Kembalilah dia aktif bertempur,
kadang-kadang sudah berada di Aceh Besar dan pada suatu ketika dia sudah pula
berada di Aceh Barat. Dalam tahun 1886 dia berada di Rigaih. Peristiwa
"Hok Canton" Peristiwa ini sebetulnya cukup menggemparkan dunia luar masa
itu. Pada suatu hari Senin, tanggal 14 Juni 1886, Teuku Umar dan para
panglimanya telah datang ke kapal "Hok Canton" yang sedang berlabuh
di Rigaih untuk menangkap kapten yang bertanggung jawab dan menyita kapal itu. Kesalahan:
1. kapten kapal, seorang Deen bernama Hansen engkar membayar harga lada yang
sudah dimuat ke dalam kapal sejak kemarin, dan 2 kapten dan anak buahnya
bermaksud menculik Teuku Umar untuk dibawa lari oleh sang kapten ke Ulee Lheue,di
mana dia akan diserahkan kepada Belanda. Sebagai hadiah, sang kapten akan
menerima hadiah dari Belanda sebesar $ 25.000 tunai. Setiba Umar di kapal, kapten
dan anak buahnya mengadakan perlawanan. Terpaksa Umar bertindak keras.
Pertempuran terjadi, tapi perlawanan segera dapat dipatahkan tanpa kerugian di
pihak Umar. Kapten Hansen tewas, juru mudi kepala, Lanbke, seorang Jerman yang
melawan keras, tewas, masinis kepala, Robert McGulloch seorang Skot, melawan
tewas; masinis ke-2, John Fay, melawan tapi tidak luka, ditangkap; juru mudi
ke-2 seorang Denmark meminta nyawa dan berteriak-teriak minta masuk Islam,
ditahan, nyonya Hansen yang juga memberi perlawanan, tapi dapat digagalkan,
ditangkap, enam orang kelasi Melayu dan Tionghoa tidak melawan, ditahan. Kesemuanya
yang hidup termasuk nyonya Hansen sendiri, dan John Fay, kecuali beberapa
kelasi untuk menjaga kapal, dibawa ke darat dan ditahan.
Dalam peraziaan ini, dapat disita oleh Umar
dua buah meriam yang dimaksudkan oleh kapten Hansen untuk digunakan menyerang
Umar bersama 6 pucuk karaben model Snider dan 5 pistol bersama wang tunai
sebanyak $ 5000. Mengenai latar belakang selanjutnya kejadian ini adalah demikian:
Sejak akhir tahun 1885, Belanda sudah mengumumkan bahwa Belanda akan membayar
upah kepada siapa saja yang sanggup menculik Umar dan membawanya ke Banda Aceh
hidup atau mati, sebanyak $ 25.000,- Efek pengumuman ini di kalangan rakyat
tidak ada sama sekali, karena tidak ada yang berani berbuat sedemikian karena
telah diperhitungkan tidak akan berhasil. Tapi dalam saat-saat perang dan tidak
menentu, sebagai di masa itu ada-ada saja petualangan yang menangguk di air
keruh. Petualangan ini terdiri dari orang asing sendiri, di antara mereka terdapat
kapten-kapten kapal yang dalam prakteknya bisa bermandi uang apabila pandai
memainkan peranan. Seorang di antaranya termasuk orang Deen bernama Hansen yang
menjadi kapten "Hok Canton". Kapal ini dicarter oleh seorang Tionghoa
bernama Tjo Tjan Siat, seorang leveransir untuk angkatan laut Belanda, dan karena
itu berleluasa mundar mandir diperairari Aceh, terutama antara Rigas, Ulee
Lheue dan Penang. Dengan izin Belanda, perairan Aceh terbuka untuk "Hok
Canton". Tapi ini tidak berati Tjo Tjan Siat akan beruntung kalau tidak
mendapat kebenaran dari pihak Aceh sendiri. Soal ini dapat diatasi pula oleh
Hansen, karena dia bersedia
memenuhi pesanan pihak Aceh yang terpenting terutama senjata tentunya. Bilamana
"Hok Canton" tiba sudah terkumpul saja d, pelabuhan lada yang akan
diangkutnya. Dia bisa pula mTkan sebagai gergaji harga lada dapat dibeli dengan
mudah sementara harga senjata dijual sebagai emas. Walau pun pengawasan Belanda
keras, tapi Hansen pandai Sekali menyeludupkan senjata yang dipesan. Dari
catatan dari laksaman Belanda sendiri, Bogart “Setan Laut” bagi keamanan
pelayaran pihak Aceh, sebetulnya sudah ada laporan bahwa “Hok Canton” suka
berlayar dipantai Aceh malam-malam dengan lampu dimatikan. Karena telah biasa
diperaiaran Aceh,maka Hansen sudah bisalah mencapai pelabuhan yang dimasukinya.
pelabuhan Aceh yang dimasukinya.
Kepadanya sering
diperingatkan, demikian kata laporan itu, bahwa jika Hansen ingin izin nya
diteruskan haruslah dia memakai lampu. Walau pun dia acap berjanji memenuhi
syarat-syarat yang ditentuka, tapi karena tidah tertangkap Hansen tidaklah di
apa-apakan. Laporan ini juga menceritakan bahwa senjata yang diseludupkan
dimuat dalam kaleng tanah, diperbuat berlapis dua. Juga ada di patrikan kedalam
alat-alat rumah tangga, peti-peti buruk tak tersangka akan mungkin
disembunyikan disitu, demikianlah praktek Hansen utk mendapatkan keuntungan
di kedua belah pihak. Bukan Hansen saja, tapi hampir semua kapten kapal dagang
asing yang mendapat kesempatan ke luar masuk pelabuhan Aceh harus memainkan
peranan yang sama.
Semenjak sebelum agresi Belanda 1873, sudah ada salah seorang
kapten kapal yang bernama E. Roura amat dikenal di Aceh mengangkut hasil bumi
serta mengantarkan barang-barang impor termasuk senjata-senjata sebagai tukaran
barter. Mula-mula ia membawa kapal dagang Perancis yang bernama "Patty’’kemudian
sejak agresi Belanda dia diperkenankan oleh Belanda kelûar masuk pantai Aceh
Barat dengan kapal yang disewanya "The Eagle”, Roura bukan orang baik, dia
seorang boros, yang senantiasa kehausan uang. Umar mengenalnya dengan cukup
sebagaimana Belanda pun mengenalnya dengan cukup. Sebagaimana Belanda
memperlakukannya untuk sesuatu keuntungan demikian pula Umar dapat
memperalatnya untuk memberi laporan dari kegiatan rahasia Belanda di Banda Aceh.
Kejadian
suatu malam sabtu 11 Juni 1886, kapten kapal “Hok Canton” Hansen sedang berada
di suatu hotel di Ulee Lheu, bersama seorang "havenmeester" Belanda
banyak minum dan
banyak
berkata-kata dengan gembira, rupa-rupanya baru pulang dari rumah seorang tokoh
militer Belanda yang tertinggi di Banda Aceh. Ketika itu turut mendengar
omongan-omongannya kapten Roura yang berada di dekatnya. Sambil bergembira dia
berkata bahwa nanti ada sesuatu yang dilakukannya di Rigaih, dan sepulangnya
dari sana dia akan menjadi seorang kaya raya, sehingga tidak perlu menjadi
pelaut lagi. Besoknya kapal "Hok Canton" berangkat. Turut pula
sebagai penompang, kapten Roura, katanya untuk mengambil kapal "The Eagle"
yang kebetulan benar sedang berlabuh di Rigaih. Jelaslah bahwa Hansen sedang
merencanakan menjebak Umar untuk naik ke kapalnya di pelabuhan Rigaih nanti, menculiknya,
untuk seterusnya tanpa membayar lada yang bakal dimuat, mengangkutnya ke Ulee
Lheue menyerahkannya kepada Belanda dan lalu menerima hadiah sebesar $ 25,000
itu. Apakah sekali ini Hansen sedang berputar haluan, dari pisau tajam dua
belah akan menjadi pembantu Belandamelulu atau aksi yang akan dilakukannya
mungkin sehubungan dengan peringatan tajam dari pegawai Belanda yang
mengancamnya ketika berbicara banyak di Banda Aceh itu, yakni bahwa akan
ditangkap saja kalau tidak mau berjasa kepada Belanda untuk menjebak Teuku
Umar, sayangnya prasangka di atas tidak dapat dibuktikan. Tapi sekali ini
Hansen membawa serta isterinya yang manis nyonya Hansen, seorang berasal dari
warga Amerika, tentunya memudahkannya untuk menjebak Setibanya di Rigaih
tanggal 13 Juni pagi-pagi, Roura duluan turun dan berjumpa dengan Umar, melapor
apa yang didengarnya. Sebagai biasa Umar
tidak memperlihatkan di mukanya apa yang terasa di dalam sesudah mendengar
laporan Roura. Dia mungkin tidak percaya, dia kenal siapa Roura dan siapa
Hansen, keduanya saling konkurensi keras, kedua-duanya di mata Umar setali tiga
uang, ringgit dan rupiah, bandit dan buaya. Namun, ketika dalam perundingan
transaksi pembelian lada, Hansen mengemukakan bahwa pembayaran harga lada itu
akan dilangsungkan di kapal nanti sesudah lada dimuat seluruhnya, maka mulai
ada was-was yang dipendam oleh Umar diam-diam. Selesai pemuatan, di sore Minggu
itu juga Umar mengutus orangnya untuk menerima pembayaran, tapi datang kabar
dari kapal mengatakan bahwa Hansen ingin Umar datang sendiri kekapal untuk
menerima pembayaran itu. Persoalan ini dua tiga kali diurus ke kapal, tapi Hansen
tetap berkeras pada pendiriannya. Tibalah Umar pada kesimpulan bahwa Hansen
memang bermaksud menipunya dan menjalankannya.
Malam itu juga Umar mengatur-siasat untuk bertindak. Besok
pagi-pagi, seorang panglima dari Umar bersama 40 prajurit yang mempergunakan
sebuah perahu telah naik ke kapal. Secepat kilat mereka telah mengepung kapten
Hansen yang kebetulan yang berada di kamarnya bersama nyonya Hansen. Dalam
beberapa menit saja sudah siap terjaga, baik awak kapal maupun kamar mereka dan
cargo.
Beberapa saat kemudian, “The
Eagle" (kapal milik Roura ini ebih kecil) datang dari pelabuhan mendekati
"Hok Canton". Teuku Umar yang tadinya meminjam kapal ini dari Roura,
dengan alasan untuk dipakai pergi memenuhi undangan Hansen, meloncat ke Hok
Canton. Teuku Umar segera menemui kapten Hansen menuntut pelunasan harga lada
sebanyak $ 5.000, sambil menandaskan bahwa setiap keingkaran akan ditindak dari
setiap perlawanan akan sia-sia. Tapi Hansen ingkar, bahkan menghina Umar dan
menantangnya, menyebabkan umar juga melawan untuk diikatkan digeladak.
Terhadap
perbuatan ini Hansen berteriak, memerintahkan anak buahnya mengadakan
perlawanan. Terjadinya pertempuran seketika, tapi perlawanan dapat dipatahkan
dan hasilnya seperti yang diceritakan. Ketika kapten dibuka dari ikatan untuk dibawa
kedarat dengan perahu, kesuanya berkesempatan untuk lari, mereka meloncat ke
laut. Dengan susah payah mereka dikejar dan diingatkan akan ditembak, tapi
Hansen tidak perduli, dia pun ditembak dan dengan luka-lukanya yang berat
kemudian diangkat ke Perahu bersama isterinya yang sudah hampir tenggelam tapi
sempat ditolong.
Diatas
pangkuan istrinya Hansen menghembuskan nyawanya yang penghabisan.
Seyogyanya, kapal "Hok Canton" akan disita juga, tapi
bagi Umar pekerjaan itu sia-sia,kecuali kalau ditenggelamkan saja, ini pun
tidak dilakukannya.hanya memerintahkan kepada anak buah kapal yang tinggal
supaya menjaga kapal itu sementara menunggu ketetapannya. Tapi si petualangan
Roura yang berada di darat, secepatnya mengetahui peristiwa tersebut, segera
menaiki sebuah perahu menuju "Hok Canton". Sambil memberi isyarat kepada anak buahnya di kapal "The
Eagle" supaya berangkat, dia memutuskan sauh “Hok Canton” melarikan kapal
ini ke Ulee Lheu.
Sore itu
"Hok Canton" sudah tiba di Ulee Lheue, dan E Roura segera melapor
kepada yang berwenang di Banda Aceh. Besok pagi tanggal 15 Juni, kontelir Kamp
telah ditugaskan oleh gubernur militer Belanda van Teijn, berangkat dengan
kapal perang ke Rigas tanggal 16 menyusul pula asisten residen van Langen.
Sementara
itu Umar dan para panglima telah bersiap-siap mengepung pekan Rigaih menanti
setiap kemungkinan. Sebagai telah diceritakan raja Rigaih adalah salah seorang
raja-raja Aceh yang bersedia menandatangani pengakuan kepada Belanda secara terpaksa.
Berdasar kedudukannya terhadap Belanda, kontelir Kamp meminta laporan dan
pertanggungan)awab raja Rigaih yang tersebut kemudian ini tidak dapat memberi
pertanggunganjawab itu katanya karena dia tidak dapat berbuat apa-apa, seluruh
Rigaih berdiri di belakang Umar. Besoknya, persoalan dicampuri pula oleh asisten
residen van Langen. Dia menyatakan keinginan untuk berjumpa dengan Teuku Umar
dan juga untuk bertemu dengan para tawanan, tapi kesempatan tidak diberikan
padanya. Umar hanya memberi izin pada salah seorang tokoh Aceh yang turut dalam
rombongan Belanda, Nyak Peuriang untuk berjumpa dengan nyonya
Hansen.
Ketika itu para tawanan menumpang di rumah Teuku Haji Dawi di Rigas. Mereka
diawasi keras. Nyonya Hansen mendapat luka kecil yang tidak berarti sama
sekali, tapi dalam pertemuan itu dia menandaskan bahwa dia dipelihara dengan
baik dan terhormat walaupun dia pilu sekali karena suaminya meninggal.
Karena
tidak dapat berbuat apa-apa besoknya tanggal 18 Juni van Langen dan Kamp pulang
ke Banda Aceh, sambil membawa Raja Rigaih untuk mempertanggung jawabkan
kejadian ditempatnya. Turut ke Banda Aceh keenam awak kapal "Hok
Canton" yang rupanya sudah dibebaskan. Tinggallah dalam tawanan di Rigas nyonya
Hansen dan John Fay.
Laporan pegawai Belanda sekembalinya ke Banda Aceh menyimpulkan
kepada gubernur van Teijn bahwa kekerasan harus dijalankan terhadap yang
"bertanggung jawab", yaitu Umar Segera juga kabar peristiwa tersebut
tiba ke Penang dan merupakan berita paling menggegerkan ketika tersiar dalam
“Penang Gazette”.
Dengan
kegemasan memuncak perkumpulan "Penang Association" mengadakan sidang
kilat dan menyimpulkan resolusi yang isinya:
a.
mendesak
kepada pemerintah Straits Settlements supaya mendesak pemerintah Belanda, untuk
mengambil langkah cepat dan tegas untuk membebaskan warga Inggeris yang
tertahan, John Fay,
b.
mendesak
pemerintah Inggeris agar secepatnya menghubungi persoalan kapten Hansen dan
isterinya menurut cara yang memuaskan.
Keputusan tersebut diambil setelah dipahami oleh rapat bahwa
Belanda tidak mampu menguasai keadaan di Aceh.
Arti
resolusi ini sebetulnya tidak ada selain untuk "ramai". Berlainan
dengan "Nisero", kapal "Hok Canton" adalah berbendera Belanda,
bukan berlayar dengan berbendera Inggeris. Kapten adalah seorang Deen, dan isi
kapal bukan milik Inggeris. Nyonya Hansen yang ditawan berkebangsaan suaminya,
sementara John Fay walau pun seorang Inggeris, tidak dianiaya, melainkan
ditahan secara terhormat. Meski pun demikian, di pihak Belanda kegusaran Inggeris
itu mengandung efek merugikan. Tiada heran, jika Belanda segera mengambil
tindakan keras selanjutnya. Tanggal 19 Juni kapal "Palembang"
diberangkatkan ke Rigas bersama kapal "Westboot" membawa tentara
Belanda untuk didaratkan dan untuk
menghancurkan
kampung. Tanggal 20 Juni tiba lagi kapal-kapal "Devonhurs",
"Merapi", "Sambas" dan "zeemeeuw", mengangkut
sejumlah semuanya lebih 500 orang tentara. Sekali ini "ekspedisi" dipimpin
sendiri oleh gubernur militer, jenderal van Teijn.
Tanggal
22 Juni, sudah terdengar di Banda Aceh tentang hasil "ekspedisi" ke
Rigas. Pagi-pagi sekali kapal "Zeemeeuw", yang tadinya turut
berangkat membawa tentara telah masuk pelabuhan Ulee Lheue dengan bendera
setengah tiang. Ternyata "Zeemeeuw" membawa kapten kapal
"Devonhurst" Scheepsma, yang rupanya sudah tewas. Menurut berita yang
dibawa "Zeemeeuw", pendaratan dimulai tanggal 20 Juni pagi-pagi, tapi
begitu tentara
Belanda
menjejakkan kakinya dipantai pertempuran berkecamuk. Kedatangan
"Zeemeeuw" selain membawa mayat Scheepsma, juga membawa mayat
beberapa perwira Belanda yang tewas dan juga luka-luka, termasuk bawahan
.
Tanggal
25 Juni tiba lagi di Ulee Lheue kapal yang membawa pulang sejumlah
perwira-perwira Belanda yang tewas dan luka. Hasil pertempuran yang terjadi
hari itu tanggal 26 Juni besoknya, berkesudahan dengan korban-korban besar di
pihak Belanda. Akhirnya diputuskan untuk menghancurkan Rigaih dengan
bombardemen kapal perangnya. Tapi ketika Umar mengirim peringatan bahwa
perbuatan demikian akan sia-sia dan akan dibalas dengan
hukuman mati
bagi para tawanan (nyonya Hansen dan John Fay) maka Belanda tidak jadi membom,
tapi memerintahkan kapal-kapalnya pulang percuma ke Ulee Lheue.
Begitu
pun rupanya Belanda tidak mau pulang dengan hampa tangan, van Teijn menculik
beberapa perempuan di antaranya kata sumber Belanda, nenek Teuku Umar sendiri.
Teuku Umar mengirim pemberitahuan supaya perempuan-perempuan yang diculik
Belanda dibebaskan karena mereka tidak berdosa. Tapi van Teijn menjawab jika
Umar ingin Hansen ditebus, haruslah juga Umar menebus orang-orang yang diculik
Belanda.
Persoalannya
terputus buat sementara hingga di situ Umar setelah memerintahkan kepada
seorang panglimanya untuk membawa tawanan (nyonya Hansen dan John Fay) ke
pedalaman supaya mereka tidak mungkin lari dan diculik. Nyonya Hansen diberi
kesempatan menulis surat kepada Belanda bahwa dia bisa dilepaskan jika ditebus
sebanyak $ 40.000 dengan ketentuan bahwa persoalannya tidak berekor lagi.
Di
pedalaman nyonya Hansen dijaga dengan baik, segala rupa makanan yang lezat yang
diingininya dicarikan walau pun dengan susah payah. Keselamatannya dipelihara
benar dan diatasi cukup pendeknya sebagai menating minyak penuh. Begitu juga
mengenai kemungkinan diganggu oleh pengawal yang tidak disipliner. Cut Nya Din
sendiri turut bersusah-susah mengasuh nyonya Hansen hormat yang ditujukan oleh
Umar membuat nyonya ini lebih merasa lega dan aman ketika Umar berada di
pedalaman.
Sebetulnya
Umar sangat kuatir sekali akan kesehatan nyonya Hansen bukan karena kurang
makan, tapi karena goncangan sarafnya akibat kematian suami. Umar berusaha
benar agar Hansen bertambah sehat Ketika nyonya Hansen dibawa ke pedalaman, dia
tidak diberi berjalan, tapi digotong di atas tandu. Karena kekuatiran terhadap
kesehatan nyonya Hansen yang tidak diingini oleh Umar akan terganggu sedikit juga,
maka itulah sebabnya Umar secara diam-diam mengusahakan agar perundingan
tentang penebusan menjadi lancar.
Sesungguhnya
Teuku Umar sportif sekali. Tapi Belanda telah menyambut sportivitas itu dengan
kecurangan.
Dalam
bulan Juli, Belanda telah memancing datangnya seorang saudara Umar/ Teuku. Teuku
Sayed Puteh tokoh terkemuka dan disegani di Penang dan yang sudah berdiam di
sana selama 10 tahun. Di masa peristiwa "Nisero", Teuku Sayed Puteh
telah ikut dalam perutusan pegawai-pegawai Inggeris (yang dipimpin oleh
Maxwell) dari Straits Settlements ke Aceh untuk menggunakan pengaruhnya kepada
Umar dan raja Teunom supaya menyetujui penyelesaian damai.
Karena mengharap
bahwa Teuku Sayed Puteh akan dapat mempengaruhi Umar, diadakanlah oleh Belanda
kontak untuk memancing Teuku Sayed Puteh datang ke Aceh. Setiba di Banda Aceh, Teuku
Sayed Puteh melihat bahwa Belanda tidak bersedia membayar tebusan dan karena
membenarkan alasan Umar maka Sayed Puteh mengatakan bahwa dia tidak melihat
jalan untuk menyelesaikan soal tersebut. Umar bertahan kepada pendirian, bahwa
Belanda lelali-menyediakan uang culik buat dirinya sebanyak $ 25,000. Sebagai
pengajaran terhadap Belanda atas nafsu curangnya, wajarlah kalau kebetulan Umar
berbuat sebaliknya.
Dengan
kegagalan ini, Belanda bertindak lebih curang lagi. Teuku Sayed Puteh
ditangkapnya dan ditawannya sebagai "sandera" yang harus ditebus oleh
Umar. Jika mau supaya Teuku Sayed Puteh dilepaskan dengan percuma, hendaklah
Umar melepaskan nyonya
Hansen dan John
Fay.
Tapi
Umar tetap berkeras, kecurangan demikian lebih menggemaskan hatinya. Sementara
itu dari pihak Aceh disiarkan anggapan bahwa Teuku Sayed Puteh telah terjebak
ke dalam permangsaan Belanda karena percaya pada Inggeris di Penang yang
meminta bantuan Teuku Sayed Puteh mengurus persoalan warga Inggeris John Fay ke
Aceh dengan suatu jaminan Sayed Puteh tidak akan diapa-apakan oleh Belanda.
Langkah-langkah
yang diambil oleh Penang sehubungan dengan penangkapan Teuku Sayed Puteh telah
ditolak oleh Belanda dan ketika didesak supaya Teuku Sayed Puteh dibebaskan, Teuku
Sayed Puteh pun terbunuh dalam penjara. Peristiwa kekejian Belanda itu terjadi
tanggal 3 Agustus 1886.
Berita
sedih ini sampai kepada Umar. Tapi bagaimana pun pedihnya, dia menghadapinya
terus dengan tabah. Akhirnya jalan lain tidak ada lagi bagi Belanda. Setelah
dua bulan bersusah payah menghubungi Teuku Umar, akhirnya dalam bulan September
1886
perundingan
selesai. Uang tebusan sebanyak $ 25,000 diserahkan kepada Umar. Tanggal 6
September 1886, nyonya Hansen dan John Fay sudah berada kembali di Banda Aceh,
ketika itu dia masih berpakaian sarung dan sudah lancar pula berbahasa Aceh.
Mengenai
kecurigaan terhadap dirinya bahwa dia mungkin diganggu oleh Teuku Umar atau
bawahannya, nyonya Hansen membantah dengan menegaskan
bahwa hal itu sama sekali tidak benar. Pada seorang temannya bernama Christiaansen
bangsa Deen juga, dia menulis panjang lebar menjelaskan kesatriaan dan kemuliaan
pribadi Umar dan isterinya Nya' Din. Dia mengatakan bahwa "Teuku Umar
behaved himself throughout as a gentleman"
(Teuku Umar
bersikap tetap terhormat).
Surat-surat
kabar Belanda umumnya menyiarkan bahwa pemeliharaan terhadap nyonya Hansen baik
sekali. Harian Belanda di Medan "De Deli Courant" menyiarkan
kesimpulan laporan resmi Belanda tentang tawanan tersebut yang mengatakan bahwa
"de gevangenen zijn over het algemeen redelijk goed behandeld", (umumnya
para tawanan dipelihara dengan bagus).
Demikianlah
kesudahan peristiwa "Hok Canton". Nyonya Hansen dan John Fay ditawan
di pedalaman Aceh Barat selama lebih kurang tiga bulan saja, tidak sesuai
dengan yang diceritakan oleh Abd. Karim Ms dalam bukunya bahwa penahanan
memakan waktu dua tahun.
Sumber ("Aceh Sepanjang Abad", Jilid II, hal: 184-193)


Sebuah penghayatan dari anak bangsa yang selalu ingin mengubah Nanggroe semakin lebih baik dengan bercermin bersama masa lalu yang sangat bersifat keheroikan yang luar biasa dan kepahlawanan sejati yang tak ada bandingannya di Nusantara.
BalasHapusNanggroe Aceh Meutuah
Sebuah dedikasi untuk Nanggroe tercinta
BalasHapusNanggroe Atjeh Barat Meutuah