Jumat, 10 Mei 2013

Awal Perjuangan Teuku Umar di Meulaboh dan Kesuksesannya



KAPAL "HOK CANTON" YANG MENGGEMPARKAN DUNIA


Sementara itu Belanda mendapat informasi bahwa yang memimpin perlawanan dan yang menonjol sejak itu adalah Teuku Umar. Diketahui oleh Belanda bahwa Teuku Umar sendiri memimpin penyerangan. Tiga hari berturut-turut sejak 16 Agustus 1878 penyerangan dilancarkan oleh Umar. Berdasar kejadian ini dapatlah dicatat bahwa Umar sudah tampil memimpin perjuangan (yang dihitung sejak tahun 1878) sedang mencapai usia 19 tahun. Dihubungkan dengan rencana penyerangan Belanda tahun 1877 terhadap Kampung Darat, maka sudah dapat diyakinkan bahwa ia sudah menjadi pemimpin perjuangan dan menjadi panglima dari pertahanan rakyat di situ sejak setahun sebelumnya (1877). Yaitu sejak ia berumur 18 tahun. Umar datang ke Montasik (Aceh Besar) di pertengahan Juli 1878 belum sebulan Ibrahim Lamnga (suami pertama Cut Nyak Din) meninggal dunia dalam pertempuran melawan Belanda di Sla Glee Taron. Memperhatikan hubungan keluarga Teuku Umar yang luas, Umar bukan asing lagi tapi sudah merupakan anggota keluarga pula bagi penduduk Aceh Besar, terutama bagi penduduk XXV Mukim sendiri. Sebagai ternyata kemudian daerah pertahanannya terutama selama di Aceh Besar adalah di XXV Mukim itu. Setelah perkawinannya dengan Cut Nyak Din janda almarhum Teuku Ibrahim Lamnga, Teuku Umar balik lagi ke Aceh Barat. Dengan isterinya Cut Nyak Din, keduanya aktif terus memimpin perang. Dalam segala kegiatannya adalah jelas pula usahanya merintangi Belanda yang ingin menarik raja-raja dibagian itu menyeleweng. Dalam bulan Maret 1879 Teuku Chi' raja Meulaboh meninggal dunia. Karena anak Teuku Chi' melawan semua, Belanda mengakali seorang yang bernama Teuku Itam Abaih untuk menggantikan Teuku Chi' Raja Meulaboh.

Keadaan menjadi sengit lagi karenanya. Sehubungan dengan usaha merintangi merembesan Belanda ke Patih (Pate) satu pelabuhan di utara Meulaboh, Teuku Umar pergi ke sana dan menggembleng rakyat untuk berjuang. Dalam tahun 1881 Belanda mencoba mendaratkan tentaranya ke Patih sesudah menghujani pelabuhan ini dengan bombardemen, tapi karena keutuhan perlawanan Umar, pendaratan Belanda ke pelabuhan ini dapat digagalkan. Sesudah itu Umar pergi ke Ruejaih pelabuhan di bagian Aceh Barat juga. Di sini pun Umar dapat mengumpul kekuatan rakyat. Sehingga pengaruh Belanda terhadap raja Rigas, yang tadinya sudah terlanjur mengakui kedaulatan Belanda, dapat dilumpuhkannya. Dalam tahun 1882, Teuku Umar telah berada pula di medan perang Aceh Besar, khususnya di XXV Mukim. Dia mengusir Belanda dari Krueng Raba dan bermarkas pula di sana. Umar aktif sekali menghapuskan pos-pos Belanda dibagian ini, penyerangannya dimedan perang antara Ulee Lheue dengan Bukit Sibun, berhasil dengan susutnya jumlah pos-pos Belanda dimukim-mukim tersebut, dan pada akhirnya Belanda menghadapi kenyataan untuk berkurung dalam "Lini konsentrasinya Banda Aceh/Ulee lheue saja. Dengan menggunakan siasat ini dapatlah Belanda mengharapkan akan tenteram menyelamatkan serdadunya. Semenjak itu Belanda mengumpul tentaranya berkurung masuk kandang, dalam istilah yang dipakainya disebut: Lini konsentrasi. Dengan Lini konsentrasi dimaksudnya bahwa Belanda hanya akan berusaha menguasai kampemen atau benteng yang sudah dibangunnya sekedar cukup untuk memelihara keselamatan tentara itu di Banda Aceh dan dibeberapa pos di daerah Aceh yang masih dapat dikuasai, sekedar jaminan lalu lintas untuk keperluannya sendiri. Dalam sementara itu Teuku Umar menyadari pengaruh blokade Belanda, tapi dalam menghadapi akibat blokade itu pula Umar memainkan siasatnya. Dia memerlukan kelancaran perhubungan dagang antara Aceh Barat dan Tanah Melayu, supaya dari perniagaan yang hidup dapat dipenuhi biaya perang sabil. Sumber Belanda mengatakan bahwa dalam tahun 1884 Teuku Umar secara formil (baca: di atas kertas) telah takluk kepada Belanda. Penjelasan selanjutnya mengenai soal ini belum diperoleh, tapi tidak lama sesudah itu sekali peristiwa Teuku Umar dan panglimanya diantarkan dengan kapal perang Belanda "Benkulen"
menuju Lambeusoe (Lambusi) suatu wilayah kecil di bagian barat Aceh Besar, terletak antara Keuluang dan Kluet. Maksudnya akan menjadi perantara untuk menyelesaikan soal "Nisero".

Selama diperjalanan Teuku Umar memperhatikan kelakuan Belanda yang sombong terhadap bangsanya; pun Umar sendiri tidak luput dari perlakuan Belanda yang menyakitkan hati. Setiba di Lambeusoe Umar diantarkan ke pantai oleh pengawalan serdadu laut Belanda dengan suatu sloep (sekoci besar). Dalam suatu kesempatan ketika serdadu-serdadu itu eleng, Umar memberi isarat kepada pengikutnya supaya menyerang Belanda dan merampas senjata mereka. Semua serdadu Belanda tewas dan senjatanya berhasil dirampas oleh Umar.
Demikianlah dengan hasil yang dicapainya,  gengsi Umar semakin menaik di mata pejuang Aceh. Kembalilah dia aktif bertempur, kadang-kadang sudah berada di Aceh Besar dan pada suatu ketika dia sudah pula berada di Aceh Barat. Dalam tahun 1886 dia berada di Rigaih. Peristiwa "Hok Canton" Peristiwa ini sebetulnya cukup menggemparkan dunia luar masa itu. Pada suatu hari Senin, tanggal 14 Juni 1886, Teuku Umar dan para panglimanya telah datang ke kapal "Hok Canton" yang sedang berlabuh di Rigaih untuk menangkap kapten yang bertanggung jawab dan menyita kapal itu. Kesalahan: 1. kapten kapal, seorang Deen bernama Hansen engkar membayar harga lada yang sudah dimuat ke dalam kapal sejak kemarin, dan 2 kapten dan anak buahnya bermaksud menculik Teuku Umar untuk dibawa lari oleh sang kapten ke Ulee Lheue,di mana dia akan diserahkan kepada Belanda. Sebagai hadiah, sang kapten akan menerima hadiah dari Belanda sebesar $ 25.000 tunai. Setiba Umar di kapal, kapten dan anak buahnya mengadakan perlawanan. Terpaksa Umar bertindak keras. Pertempuran terjadi, tapi perlawanan segera dapat dipatahkan tanpa kerugian di pihak Umar. Kapten Hansen tewas, juru mudi kepala, Lanbke, seorang Jerman yang melawan keras, tewas, masinis kepala, Robert McGulloch seorang Skot, melawan tewas; masinis ke-2, John Fay, melawan tapi tidak luka, ditangkap; juru mudi ke-2 seorang Denmark meminta nyawa dan berteriak-teriak minta masuk Islam, ditahan, nyonya Hansen yang juga memberi perlawanan, tapi dapat digagalkan, ditangkap, enam orang kelasi Melayu dan Tionghoa tidak melawan, ditahan. Kesemuanya yang hidup termasuk nyonya Hansen sendiri, dan John Fay, kecuali beberapa kelasi untuk menjaga kapal, dibawa ke darat dan ditahan.
 Dalam peraziaan ini, dapat disita oleh Umar dua buah meriam yang dimaksudkan oleh kapten Hansen untuk digunakan menyerang Umar bersama 6 pucuk karaben model Snider dan 5 pistol bersama wang tunai sebanyak $ 5000. Mengenai latar belakang selanjutnya kejadian ini adalah demikian: Sejak akhir tahun 1885, Belanda sudah mengumumkan bahwa Belanda akan membayar upah kepada siapa saja yang sanggup menculik Umar dan membawanya ke Banda Aceh hidup atau mati, sebanyak $ 25.000,- Efek pengumuman ini di kalangan rakyat tidak ada sama sekali, karena tidak ada yang berani berbuat sedemikian karena telah diperhitungkan tidak akan berhasil. Tapi dalam saat-saat perang dan tidak menentu, sebagai di masa itu ada-ada saja petualangan yang menangguk di air keruh. Petualangan ini terdiri dari orang asing sendiri, di antara mereka terdapat kapten-kapten kapal yang dalam prakteknya bisa bermandi uang apabila pandai memainkan peranan. Seorang di antaranya termasuk orang Deen bernama Hansen yang menjadi kapten "Hok Canton". Kapal ini dicarter oleh seorang Tionghoa bernama Tjo Tjan Siat, seorang leveransir untuk angkatan laut Belanda, dan karena itu berleluasa mundar mandir diperairari Aceh, terutama antara Rigas, Ulee Lheue dan Penang. Dengan izin Belanda, perairan Aceh terbuka untuk "Hok Canton". Tapi ini tidak berati Tjo Tjan Siat akan beruntung kalau tidak mendapat kebenaran dari pihak Aceh sendiri. Soal ini dapat diatasi pula oleh Hansen, karena dia bersedia memenuhi pesanan pihak Aceh yang terpenting terutama senjata tentunya. Bilamana "Hok Canton" tiba sudah terkumpul saja d, pelabuhan lada yang akan diangkutnya. Dia bisa pula mTkan sebagai gergaji harga lada dapat dibeli dengan mudah sementara harga senjata dijual sebagai emas. Walau pun pengawasan Belanda keras, tapi Hansen pandai Sekali menyeludupkan senjata yang dipesan. Dari catatan dari laksaman Belanda sendiri, Bogart “Setan Laut” bagi keamanan pelayaran pihak Aceh, sebetulnya sudah ada laporan bahwa “Hok Canton” suka berlayar dipantai Aceh malam-malam dengan lampu dimatikan. Karena telah biasa diperaiaran Aceh,maka Hansen sudah bisalah mencapai pelabuhan yang dimasukinya. pelabuhan Aceh yang dimasukinya.
 Kepadanya sering diperingatkan, demikian kata laporan itu, bahwa jika Hansen ingin izin nya diteruskan haruslah dia memakai lampu. Walau pun dia acap berjanji memenuhi syarat-syarat yang ditentuka, tapi karena tidah tertangkap Hansen tidaklah di apa-apakan. Laporan ini juga menceritakan bahwa senjata yang diseludupkan dimuat dalam kaleng tanah, diperbuat berlapis dua. Juga ada di patrikan kedalam alat-alat rumah tangga, peti-peti buruk tak tersangka akan mungkin disembunyikan disitu, demikianlah praktek Hansen utk mendapatkan keuntungan di kedua belah pihak. Bukan Hansen saja, tapi hampir semua kapten kapal dagang asing yang mendapat kesempatan ke luar masuk pelabuhan Aceh harus memainkan peranan yang sama.
Semenjak sebelum agresi Belanda 1873, sudah ada salah seorang kapten kapal yang bernama E. Roura amat dikenal di Aceh mengangkut hasil bumi serta mengantarkan barang-barang impor termasuk senjata-senjata sebagai tukaran barter. Mula-mula ia membawa kapal dagang Perancis yang bernama "Patty’’kemudian sejak agresi Belanda dia diperkenankan oleh Belanda kelûar masuk pantai Aceh Barat dengan kapal yang disewanya "The Eagle”, Roura bukan orang baik, dia seorang boros, yang senantiasa kehausan uang. Umar mengenalnya dengan cukup sebagaimana Belanda pun mengenalnya dengan cukup. Sebagaimana Belanda memperlakukannya untuk sesuatu keuntungan demikian pula Umar dapat memperalatnya untuk memberi laporan dari kegiatan rahasia Belanda di Banda Aceh.

Kejadian suatu malam sabtu 11 Juni 1886, kapten kapal “Hok Canton” Hansen sedang berada di suatu hotel di Ulee Lheu, bersama seorang "havenmeester" Belanda banyak minum dan
banyak berkata-kata dengan gembira, rupa-rupanya baru pulang dari rumah seorang tokoh militer Belanda yang tertinggi di Banda Aceh. Ketika itu turut mendengar omongan-omongannya kapten Roura yang berada di dekatnya. Sambil bergembira dia berkata bahwa nanti ada sesuatu yang dilakukannya di Rigaih, dan sepulangnya dari sana dia akan menjadi seorang kaya raya, sehingga tidak perlu menjadi pelaut lagi. Besoknya kapal "Hok Canton" berangkat. Turut pula sebagai penompang, kapten Roura, katanya untuk mengambil kapal "The Eagle" yang kebetulan benar sedang berlabuh di Rigaih. Jelaslah bahwa Hansen sedang merencanakan menjebak Umar untuk naik ke kapalnya di pelabuhan Rigaih nanti, menculiknya, untuk seterusnya tanpa membayar lada yang bakal dimuat, mengangkutnya ke Ulee Lheue menyerahkannya kepada Belanda dan lalu menerima hadiah sebesar $ 25,000 itu. Apakah sekali ini Hansen sedang berputar haluan, dari pisau tajam dua belah akan menjadi pembantu Belandamelulu atau aksi yang akan dilakukannya mungkin sehubungan dengan peringatan tajam dari pegawai Belanda yang mengancamnya ketika berbicara banyak di Banda Aceh itu, yakni bahwa akan ditangkap saja kalau tidak mau berjasa kepada Belanda untuk menjebak Teuku Umar, sayangnya prasangka di atas tidak dapat dibuktikan. Tapi sekali ini Hansen membawa serta isterinya yang manis nyonya Hansen, seorang berasal dari warga Amerika, tentunya memudahkannya untuk menjebak Setibanya di Rigaih tanggal 13 Juni pagi-pagi, Roura duluan turun dan berjumpa dengan Umar, melapor apa yang  didengarnya. Sebagai biasa Umar tidak memperlihatkan di mukanya apa yang terasa di dalam sesudah mendengar laporan Roura. Dia mungkin tidak percaya, dia kenal siapa Roura dan siapa Hansen, keduanya saling konkurensi keras, kedua-duanya di mata Umar setali tiga uang, ringgit dan rupiah, bandit dan buaya. Namun, ketika dalam perundingan transaksi pembelian lada, Hansen mengemukakan bahwa pembayaran harga lada itu akan dilangsungkan di kapal nanti sesudah lada dimuat seluruhnya, maka mulai ada was-was yang dipendam oleh Umar diam-diam. Selesai pemuatan, di sore Minggu itu juga Umar mengutus orangnya untuk menerima pembayaran, tapi datang kabar dari kapal mengatakan bahwa Hansen ingin Umar datang sendiri kekapal untuk menerima pembayaran itu. Persoalan ini dua tiga kali diurus ke kapal, tapi Hansen tetap berkeras pada pendiriannya. Tibalah Umar pada kesimpulan bahwa Hansen memang bermaksud menipunya dan menjalankannya.
Malam itu juga Umar mengatur-siasat untuk bertindak. Besok pagi-pagi, seorang panglima dari Umar bersama 40 prajurit yang mempergunakan sebuah perahu telah naik ke kapal. Secepat kilat mereka telah mengepung kapten Hansen yang kebetulan yang berada di kamarnya bersama nyonya Hansen. Dalam beberapa menit saja sudah siap terjaga, baik awak kapal maupun kamar mereka dan cargo.

 Beberapa saat kemudian, “The Eagle" (kapal milik Roura ini ebih kecil) datang dari pelabuhan mendekati "Hok Canton". Teuku Umar yang tadinya meminjam kapal ini dari Roura, dengan alasan untuk dipakai pergi memenuhi undangan Hansen, meloncat ke Hok Canton. Teuku Umar segera menemui kapten Hansen menuntut pelunasan harga lada sebanyak $ 5.000, sambil menandaskan bahwa setiap keingkaran akan ditindak dari setiap perlawanan akan sia-sia. Tapi Hansen ingkar, bahkan menghina Umar dan menantangnya, menyebabkan umar juga melawan untuk diikatkan digeladak.
Terhadap perbuatan ini Hansen berteriak, memerintahkan anak buahnya mengadakan perlawanan. Terjadinya pertempuran seketika, tapi perlawanan dapat dipatahkan dan hasilnya seperti yang diceritakan. Ketika kapten dibuka dari ikatan untuk dibawa kedarat dengan perahu, kesuanya berkesempatan untuk lari, mereka meloncat ke laut. Dengan susah payah mereka dikejar dan diingatkan akan ditembak, tapi Hansen tidak perduli, dia pun ditembak dan dengan luka-lukanya yang berat kemudian diangkat ke Perahu bersama isterinya yang sudah hampir tenggelam tapi sempat ditolong.

Diatas pangkuan istrinya Hansen menghembuskan nyawanya yang penghabisan.

Seyogyanya, kapal "Hok Canton" akan disita juga, tapi bagi Umar pekerjaan itu sia-sia,kecuali kalau ditenggelamkan saja, ini pun tidak dilakukannya.hanya memerintahkan kepada anak buah kapal yang tinggal supaya menjaga kapal itu sementara menunggu ketetapannya. Tapi si petualangan Roura yang berada di darat, secepatnya mengetahui peristiwa tersebut, segera menaiki sebuah perahu menuju "Hok Canton". Sambil memberi isyarat  kepada anak buahnya di kapal "The Eagle" supaya berangkat, dia memutuskan sauh “Hok Canton” melarikan kapal ini ke Ulee Lheu.
Sore itu "Hok Canton" sudah tiba di Ulee Lheue, dan E Roura segera melapor kepada yang berwenang di Banda Aceh. Besok pagi tanggal 15 Juni, kontelir Kamp telah ditugaskan oleh gubernur militer Belanda van Teijn, berangkat dengan kapal perang ke Rigas tanggal 16 menyusul pula asisten residen van Langen.

Sementara itu Umar dan para panglima telah bersiap-siap mengepung pekan Rigaih menanti setiap kemungkinan. Sebagai telah diceritakan raja Rigaih adalah salah seorang raja-raja Aceh yang bersedia menandatangani pengakuan kepada Belanda secara terpaksa. Berdasar kedudukannya terhadap Belanda, kontelir Kamp meminta laporan dan pertanggungan)awab raja Rigaih yang tersebut kemudian ini tidak dapat memberi pertanggunganjawab itu katanya karena dia tidak dapat berbuat apa-apa, seluruh Rigaih berdiri di belakang Umar. Besoknya, persoalan dicampuri pula oleh asisten residen van Langen. Dia menyatakan keinginan untuk berjumpa dengan Teuku Umar dan juga untuk bertemu dengan para tawanan, tapi kesempatan tidak diberikan padanya. Umar hanya memberi izin pada salah seorang tokoh Aceh yang turut dalam rombongan Belanda, Nyak Peuriang untuk berjumpa dengan nyonya
Hansen. Ketika itu para tawanan menumpang di rumah Teuku Haji Dawi di Rigas. Mereka diawasi keras. Nyonya Hansen mendapat luka kecil yang tidak berarti sama sekali, tapi dalam pertemuan itu dia menandaskan bahwa dia dipelihara dengan baik dan terhormat walaupun dia pilu sekali karena suaminya meninggal.
Karena tidak dapat berbuat apa-apa besoknya tanggal 18 Juni van Langen dan Kamp pulang ke Banda Aceh, sambil membawa Raja Rigaih untuk mempertanggung jawabkan kejadian ditempatnya. Turut ke Banda Aceh keenam awak kapal "Hok Canton" yang rupanya sudah dibebaskan. Tinggallah dalam tawanan di Rigas nyonya Hansen dan John Fay.

Laporan pegawai Belanda sekembalinya ke Banda Aceh menyimpulkan kepada gubernur van Teijn bahwa kekerasan harus dijalankan terhadap yang "bertanggung jawab", yaitu Umar Segera juga kabar peristiwa tersebut tiba ke Penang dan merupakan berita paling menggegerkan ketika tersiar dalam “Penang Gazette”.
Dengan kegemasan memuncak perkumpulan "Penang Association" mengadakan sidang kilat dan menyimpulkan resolusi yang isinya:
a.       mendesak kepada pemerintah Straits Settlements supaya mendesak pemerintah Belanda, untuk mengambil langkah cepat dan tegas untuk membebaskan warga Inggeris yang tertahan, John Fay,
b.      mendesak pemerintah Inggeris agar secepatnya menghubungi persoalan kapten Hansen dan isterinya menurut cara yang memuaskan.

Keputusan tersebut diambil setelah dipahami oleh rapat bahwa Belanda tidak mampu menguasai keadaan di Aceh.

Arti resolusi ini sebetulnya tidak ada selain untuk "ramai". Berlainan dengan "Nisero", kapal "Hok Canton" adalah berbendera Belanda, bukan berlayar dengan berbendera Inggeris. Kapten adalah seorang Deen, dan isi kapal bukan milik Inggeris. Nyonya Hansen yang ditawan berkebangsaan suaminya, sementara John Fay walau pun seorang Inggeris, tidak dianiaya, melainkan ditahan secara terhormat. Meski pun demikian, di pihak Belanda kegusaran Inggeris itu mengandung efek merugikan. Tiada heran, jika Belanda segera mengambil tindakan keras selanjutnya. Tanggal 19 Juni kapal "Palembang" diberangkatkan ke Rigas bersama kapal "Westboot" membawa tentara Belanda untuk didaratkan dan untuk
menghancurkan kampung. Tanggal 20 Juni tiba lagi kapal-kapal "Devonhurs", "Merapi", "Sambas" dan "zeemeeuw", mengangkut sejumlah semuanya lebih 500 orang tentara. Sekali ini "ekspedisi" dipimpin sendiri oleh gubernur militer, jenderal van Teijn.

Tanggal 22 Juni, sudah terdengar di Banda Aceh tentang hasil "ekspedisi" ke Rigas. Pagi-pagi sekali kapal "Zeemeeuw", yang tadinya turut berangkat membawa tentara telah masuk pelabuhan Ulee Lheue dengan bendera setengah tiang. Ternyata "Zeemeeuw" membawa kapten kapal "Devonhurst" Scheepsma, yang rupanya sudah tewas. Menurut berita yang dibawa "Zeemeeuw", pendaratan dimulai tanggal 20 Juni pagi-pagi, tapi begitu tentara
Belanda menjejakkan kakinya dipantai pertempuran berkecamuk. Kedatangan "Zeemeeuw" selain membawa mayat Scheepsma, juga membawa mayat beberapa perwira Belanda yang tewas dan juga luka-luka, termasuk bawahan
.
Tanggal 25 Juni tiba lagi di Ulee Lheue kapal yang membawa pulang sejumlah perwira-perwira Belanda yang tewas dan luka. Hasil pertempuran yang terjadi hari itu tanggal 26 Juni besoknya, berkesudahan dengan korban-korban besar di pihak Belanda. Akhirnya diputuskan untuk menghancurkan Rigaih dengan bombardemen kapal perangnya. Tapi ketika Umar mengirim peringatan bahwa perbuatan demikian akan sia-sia dan akan dibalas dengan
hukuman mati bagi para tawanan (nyonya Hansen dan John Fay) maka Belanda tidak jadi membom, tapi memerintahkan kapal-kapalnya pulang percuma ke Ulee Lheue.

Begitu pun rupanya Belanda tidak mau pulang dengan hampa tangan, van Teijn menculik beberapa perempuan di antaranya kata sumber Belanda, nenek Teuku Umar sendiri. Teuku Umar mengirim pemberitahuan supaya perempuan-perempuan yang diculik Belanda dibebaskan karena mereka tidak berdosa. Tapi van Teijn menjawab jika Umar ingin Hansen ditebus, haruslah juga Umar menebus orang-orang yang diculik Belanda.

Persoalannya terputus buat sementara hingga di situ Umar setelah memerintahkan kepada seorang panglimanya untuk membawa tawanan (nyonya Hansen dan John Fay) ke pedalaman supaya mereka tidak mungkin lari dan diculik. Nyonya Hansen diberi kesempatan menulis surat kepada Belanda bahwa dia bisa dilepaskan jika ditebus sebanyak $ 40.000 dengan ketentuan bahwa persoalannya tidak berekor lagi.

Di pedalaman nyonya Hansen dijaga dengan baik, segala rupa makanan yang lezat yang diingininya dicarikan walau pun dengan susah payah. Keselamatannya dipelihara benar dan diatasi cukup pendeknya sebagai menating minyak penuh. Begitu juga mengenai kemungkinan diganggu oleh pengawal yang tidak disipliner. Cut Nya Din sendiri turut bersusah-susah mengasuh nyonya Hansen hormat yang ditujukan oleh Umar membuat nyonya ini lebih merasa lega dan aman ketika Umar berada di pedalaman.

Sebetulnya Umar sangat kuatir sekali akan kesehatan nyonya Hansen bukan karena kurang makan, tapi karena goncangan sarafnya akibat kematian suami. Umar berusaha benar agar Hansen bertambah sehat Ketika nyonya Hansen dibawa ke pedalaman, dia tidak diberi berjalan, tapi digotong di atas tandu. Karena kekuatiran terhadap kesehatan nyonya Hansen yang tidak diingini oleh Umar akan terganggu sedikit juga, maka itulah sebabnya Umar secara diam-diam mengusahakan agar perundingan tentang penebusan menjadi lancar.

Sesungguhnya Teuku Umar sportif sekali. Tapi Belanda telah menyambut sportivitas itu dengan kecurangan.

Dalam bulan Juli, Belanda telah memancing datangnya seorang saudara Umar/ Teuku. Teuku Sayed Puteh tokoh terkemuka dan disegani di Penang dan yang sudah berdiam di sana selama 10 tahun. Di masa peristiwa "Nisero", Teuku Sayed Puteh telah ikut dalam perutusan pegawai-pegawai Inggeris (yang dipimpin oleh Maxwell) dari Straits Settlements ke Aceh untuk menggunakan pengaruhnya kepada Umar dan raja Teunom supaya menyetujui penyelesaian damai.

Karena mengharap bahwa Teuku Sayed Puteh akan dapat mempengaruhi Umar, diadakanlah oleh Belanda kontak untuk memancing Teuku Sayed Puteh datang ke Aceh. Setiba di Banda Aceh, Teuku Sayed Puteh melihat bahwa Belanda tidak bersedia membayar tebusan dan karena membenarkan alasan Umar maka Sayed Puteh mengatakan bahwa dia tidak melihat jalan untuk menyelesaikan soal tersebut. Umar bertahan kepada pendirian, bahwa Belanda lelali-menyediakan uang culik buat dirinya sebanyak $ 25,000. Sebagai pengajaran terhadap Belanda atas nafsu curangnya, wajarlah kalau kebetulan Umar berbuat sebaliknya.

Dengan kegagalan ini, Belanda bertindak lebih curang lagi. Teuku Sayed Puteh ditangkapnya dan ditawannya sebagai "sandera" yang harus ditebus oleh Umar. Jika mau supaya Teuku Sayed Puteh dilepaskan dengan percuma, hendaklah Umar melepaskan nyonya
Hansen dan John Fay.
Tapi Umar tetap berkeras, kecurangan demikian lebih menggemaskan hatinya. Sementara itu dari pihak Aceh disiarkan anggapan bahwa Teuku Sayed Puteh telah terjebak ke dalam permangsaan Belanda karena percaya pada Inggeris di Penang yang meminta bantuan Teuku Sayed Puteh mengurus persoalan warga Inggeris John Fay ke Aceh dengan suatu jaminan Sayed Puteh tidak akan diapa-apakan oleh Belanda.

Langkah-langkah yang diambil oleh Penang sehubungan dengan penangkapan Teuku Sayed Puteh telah ditolak oleh Belanda dan ketika didesak supaya Teuku Sayed Puteh dibebaskan, Teuku Sayed Puteh pun terbunuh dalam penjara. Peristiwa kekejian Belanda itu terjadi tanggal 3 Agustus 1886.

Berita sedih ini sampai kepada Umar. Tapi bagaimana pun pedihnya, dia menghadapinya terus dengan tabah. Akhirnya jalan lain tidak ada lagi bagi Belanda. Setelah dua bulan bersusah payah menghubungi Teuku Umar, akhirnya dalam bulan September 1886
perundingan selesai. Uang tebusan sebanyak $ 25,000 diserahkan kepada Umar. Tanggal 6 September 1886, nyonya Hansen dan John Fay sudah berada kembali di Banda Aceh, ketika itu dia masih berpakaian sarung dan sudah lancar pula berbahasa Aceh.

Mengenai kecurigaan terhadap dirinya bahwa dia mungkin diganggu oleh Teuku Umar atau bawahannya, nyonya Hansen membantah dengan menegaskan bahwa hal itu sama sekali tidak benar. Pada seorang temannya bernama Christiaansen bangsa Deen juga, dia menulis panjang lebar menjelaskan kesatriaan dan kemuliaan pribadi Umar dan isterinya Nya' Din. Dia mengatakan bahwa "Teuku Umar behaved himself throughout as a gentleman"
(Teuku Umar bersikap tetap terhormat).

Surat-surat kabar Belanda umumnya menyiarkan bahwa pemeliharaan terhadap nyonya Hansen baik sekali. Harian Belanda di Medan "De Deli Courant" menyiarkan kesimpulan laporan resmi Belanda tentang tawanan tersebut yang mengatakan bahwa "de gevangenen zijn over het algemeen redelijk goed behandeld", (umumnya para tawanan dipelihara dengan bagus).

Demikianlah kesudahan peristiwa "Hok Canton". Nyonya Hansen dan John Fay ditawan di pedalaman Aceh Barat selama lebih kurang tiga bulan saja, tidak sesuai dengan yang diceritakan oleh Abd. Karim Ms dalam bukunya bahwa penahanan memakan waktu dua tahun.

Sumber ("Aceh Sepanjang Abad", Jilid II, hal: 184-193)

2 komentar:

  1. Sebuah penghayatan dari anak bangsa yang selalu ingin mengubah Nanggroe semakin lebih baik dengan bercermin bersama masa lalu yang sangat bersifat keheroikan yang luar biasa dan kepahlawanan sejati yang tak ada bandingannya di Nusantara.

    Nanggroe Aceh Meutuah

    BalasHapus
  2. Sebuah dedikasi untuk Nanggroe tercinta
    Nanggroe Atjeh Barat Meutuah

    BalasHapus